
Sudah tiga hari Ditya ijin istirahat sejak kejadian tempo hari di cafe. Tiga hari juga Cyra merawat lukanya dengan baik dan memasakkannya makanan sebelum gadis itu berangkat sekolah.
Seperti pagi ini misalnya.
Cyra baru saja selesai memasak nasi goreng ayam suwir kesukaan Ditya.
"Kak, sarapan sudah siap, nih!" teriaknya dari arah dapur.
Ditya yang masih berada di kamar langsung keluar menuju meja makan saat didengarnya sang istri berteriak.
"Kamu masak apa pagi ini?"
Ditya menjatuhkan tubuhnya dikursi yang menghadap kearah dapur.
Dilihatnya Cyra tengah menyiapkan sarapan ke piring saji.
"Pagi ini aku bikin nasi goreng ayam suwir kesukaan Kakak. Tahu, deh enak apa tidak?!"
Cyra meletakkan piring berisi nasi goreng.
"Wuihh, kelihatannya enak, nih!" seru Ditya begitu piring saji berisi nasi goreng ditaruh dihadapannya.
"Tunngu sebentar, aku ambil piringnya dulu!"
Gadis itu kembali lagi ke dapur untuk mengambil piring untuk digunakan Ditya makan.
" Kakak sarapan aja dulu, aku mau siap-siap!"
Cyra lantas masuk kamar untuk mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
Lima belas menit kemudian, gadis itu sudah rapi dengan seragam dan tas sekolahnya.
"Hari ini aku mau mengerjakan tugas kelompok bareng Zizi, mungkin pulangnya sore!" ujarnya sembari mengenakan sepatunya dan bersiap-siap untuk berangkat.
"Kamu nggak sarapan dulu?!"
"Nanti saja, deh dikantin! Zizi bentar lagi nyampai. Takut kelamaan."
"Tapi kamu belum olesin salepnya, lho!"
"Pakai sendiri aja, ya!" ujar Cyra beranjak ke teras.
__ADS_1
"Enggak!" tolak Ditya cepat.
"Pokoknya kamu belum boleh berangkat kalau nggak olesin salep dulu."
"Ck, dasar manja!" cebik Cyra.
Namun, diurungkannya juga langkahnya keluar rumah.
Dia berbalik arah ke meja makan setelah menyambar salep luka bakar di atas tivi di ruang tamu.
"Biarin! Manja sama istri sendiri ini," sahut Ditya tersenyum.
"Sementara kamu olesin salepnya, aku suapin kamu sarapan. Ayo, aaa ...," perintah Ditya dengan sendok penuh nasi goreng yang diarahkan kemulut Cyra.
Tanpa mau banyak debat, Cyra segera membuka mulutnya menerima suapan nasi goreng.
Akhirnya mereka saling berkongsi.
Cyra mengoleskan salep ke pipi Ditya, sedangkan Ditya menyuapi Cyra sarapan.
"Udah, ah! Aku udah selesai olesnya!"
"Sekali lagi, nanggung tinggal satu suap lagi!"
Ditya memaksa.
Akhirnya Cyra membuka lagi mulutnya menerima suapan terakhirnya.
Ditya menyodorkan gelasnya untuk Cyra minum.
"Aku berangkat sekarang, ya!" pamit Cyra.
"Eitts, tunggu dulu, dong!"
Ditya menarik tas Cyra dari belakang.
"Apalagi, sih?!" sungut Cyra kesal.
"Zizi udah didepan, tuh!"
Cyra mendengar bunyi klakson mobil Zizi menandakan gadis itu sudah di jalan depan rumah.
__ADS_1
"Ini!"
Ditya mengambil sesuatu dari saku celana trainingnya dan menaruhnya ditangan Cyra yang sempat digenggamnya.
"Apa ini?!" tanya gadis itu heran.
"Uang saku buat kamu beli makan siang."
"Tapi, yang kemarin masih sisa, kok!"
"Buat beli makan siang! Katamu tadi mau pulang sore ngerjain tugas kelompok bareng Zizi?!"
"Oh! Ok, makasih!" ucap Cyra mengangguk.
"Satu lagi!" cegah Ditya kala Cyra hendak berlalu.
"Apalagi??"
"Yang ini belum!"
Ditya menyodorkan tangan kanannya agar istrinya salim.
"Berangkat dulu, Kak! Emmuach!"
Cyra menyalami tangan Ditya dan mencium punggung tangannya.
"Udah puas?!" tanya Cyra greget.
"Hehe ...!" cengir Ditya melihat wajah manyun Cyra.
"Jangan manyun, cium tangan suami itu pahala, lho!"
"Tahu, ah! Bawel! Berangkat dulu, daaaghh ...!"
Cura pun langsung berlari meninggalkan rumah ditarik oleh bunyi klakson panjang dari Zizi.
Sementara Ditya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri barbarnya itu.
Bibirnya melengkungkan senyum mengingat kedekatannya dengan sang istri akhir-akhir ini.
Ada hikmahnya juga dibalik tragedi penyiraman kopi panas di cafe tempatnya bekerja tiga hari lalu.
__ADS_1