Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Maaf


__ADS_3

" Cyraaa ...!!" teriak Ditya dari arah dapur.


"Apaan, sih teriak-teriak pagi-pagi?!"


Cyra keluar dari kamar dengan langkah tergesa-gesa.


Dilihatnya Ditya sedang mengangkat teflon dari atas kompor yang baru saja dimatikannya dengan tangan kanannya.


"Hehe ...! Maaf, lupa!" cengir Cyra menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Maaf, kamu bilang?!"


Ditya mendelik lebar.


"Kamu ngapain aja dikamar sampai masakan pun kamu tinggal. Lihat ini Cyra!"


Ditya menyodorkan wajan teflon yang sudah gosong kehadapan gadis itu.


"Tadi pas lagi nyeplok telor ponselku bunyi. Makanya aku berlari kekamar angkat telpon. Karena keasyikan ngobrol aku jadi lupa," terang Cyra tanpa rasa bersalah.


"Untung saja tadi aku lewat dari kamar mandi. Coba kalau telat sedikit saja, rumah ini bisa kebakaran akibat kompor meledak. Kamu mau kita mati jika hal itu sampai terjadi, hahh?!" bentak Ditya saking paniknya tadi melihat kepulan asap hitam memenuhi ruangan.


Ditya baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung mendapati dapur penuh dengan asap mengepul memenuhi ruang dapur yang menyatu dengan ruang makan.


Setelah dicari kesumber masalah, ternyata asap itu berasal dari kompor yang menyala dan membakar wajan berisi telor ceplok yang sudah sehitam mata pensil alis yang baru diserut.


Buru-buru dimatikannya kompor demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ma-maaf!"


Sekali lagi Cyra meminta maaf. Nyalinya menjadi ciut entah kemana. Padahal, biasanya gadis itu tidak pernah mau disalahkan dan balik melawan dengan cara ke-barbar-an-nya.


"Maaf saja tidak menyelesaikan masalah Ciciii ...!" dengusnya kesal.


Ini sudah ketiga kalinya Cyra membuat masalah.


Minggu kemarin, untuk pertama kalinya gadis itu membuatkannya hidangan telor dadar amburadul dan tempe goreng gosong.

__ADS_1


Okelah dia maklum karena itu untuk pertama kalinya.


Tapi lagi-lagi, untuk kedua kalinya Cyra membuat masalah.


Saat gadis itu mencuci pakaian, dia menaruh banyak sekali sabun pada mesin cuci yang baru Ditya beli itu sehingga membuat busa sabun berbuih kemana-mana. Belum lagi kemeja putihnya yang menjadi berubah warna sebab tercampur dengan pakaian yang mudah luntur.


Padahal, itu kemeja putih baru satu-satunya yang akan dia gunakan saat acara ulang tahun cafe tempatnya bekerja minggu depan. Kemeja putih yang lama sudah kumal dan bagian kerah bajunya sudah robek.


Dan hari ini, masalah terparah yang Cyra buat dalam waktu satu minggu terakhir.


"Lalu aku harus gimana?" cicit Cyra dengan wajah menunduk.


Jari jemarinya saling meremas menandakan kepanikan dan ketakutan mendengar bentakan Ditya yang begitu keras.


Biasanya kemarahan Ditya tidak sampai kelevel ini.


"Tentu saja kamu harus berubah. Kamu harus mau belajar keras agar kedepannya tidak menimbulkan masalah lagi."


Ditya melangkah kekamar setelah meletakkan teflon gosong yang dengan tidak sadar dipegangnya sejak tadi.


Sebelum menutup pintu, Ditya berujar:


Kehidupanmu sudah berubah sejak kamu memutuskan keluar dari istanamu dan berinisiatif mengikutiku.


Dengan keputusanmu itu, sekarang kamu mau tidak mau harus siap menjadi orang susah yang segala sesuatunya dicari dan dikerjakan sendiri.


Kamu harus bisa berlaku selayaknya seorang istri, meski diluar nafkah batin yang sudah kita sepakati bersama tempo lalu. Kamu harus bisa irit juga. Asal kamu tahu, uang tiga ratus ribu yang kamu habiskan setiap harinya itu bisa menghidupiku selama satu minggu."


Ditya menutup pintu kamar dengan sedikit hentakan sehingga menimbulkan bunyi bedebum membuat Cyra terlonjak saking kagetnya.


Lima belas menit kemudian, Ditya keluar dari kamar sudah rapi dengan hem pendek kotak-kotak warna biru tua dipadu padankan dengan celana jeans biru dongker.


Dipunggungnya tersampir sebuah tas ransel berisi buku-buku penunjang mata kuliah.


Hari ini sampai tiga hari kedepan Ditya akan melakukan ujian semester akhirnya.


"Sudah, biarkan saja! Itu bisa dikerjakan nanti selepas sekolah."

__ADS_1


Ditya mendapati Cyra yang sudah berseragam sekolah itu tengah berusaha membersihkan teflon yang gosong.


Hatinya pun merasa iba melihat gadis barbar namun manja yang biasa diperlakukan bak ratu dan tidak pernah menyentuh sabun cuci piring itu.


"Ra!" panggil Ditya melunak


Cyra tetap diam dan masih terus menggosok teflon dengan kasar.


"Cyra!" panggilnya lagi.


Tetap keheningan yang menjawab.


"Sudah hentikan!" sentak Ditya.


Ditariknya lengan gadis yang berdiri membelakanginya sampai berputar kearahnya.


Baru setelah tubuh Cyra menghadap Ditya, laki-laki itu terkejut.


Dilihatnya sang istri tengah menangis dalam diam. Air matanya tampak jatuh menganak sungai.


Hati Ditya serasa tercubit melihatnya. Untuk pertama kalinya dia membuat putri kesayangan penolongnya menangis.


Pasti Cyra merasa sangat tertekan. Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Gadis yang biasanya hidup berkecukupan tanpa kekurangan suatu apapun, kini harus menderita tekanan batin karena mengikuti suami miskin sepertinya.


"Sudah, jangan menangis!" ujar Ditya lembut.


Diusapnya air mata dipipi mulus istri kecilnya.


Untuk pertama kali dipeluknya Cyra dengan penuh penyesalan. Apalagi, isak tangis kian terdengar didalam dekapannya hingga hem yang Ditya pakai pun basah terkena air mata.


"Maaf!" cicit Cyra lirih.


"Tidak! Aku yang salah. Tidak seharusnya aku membentakmu dan memarahimu seperti tadi. Aku hanya menginginkan kamu mau belajar lebih baik lagi kedepannya."


Diusapnya kepala Cyra dengan lembut.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, Ra!"

__ADS_1


Dan untuk pertama kali juga diciumnya lama kening sang istri yang masih saja menangis dipelukannya.


__ADS_2