
Tak terasa tiga minggu sudah Cyra mengikuti suaminya, tinggal dikontrakan sederhana, meninggalkan kehidupan mewah bergelimang harta milik orang tuanya yang dia nikmati selama ini.
Gadis itu terpaksa mengikuti sang suami karena papanya sudah melepas tanggung jawab dan memberikan tanggung jawab itu pada sang suami.
"Minggu ini kamu yang tugas beres-beres rumah, masak dan cuci pakaian. Mulai hari ini aku masuk kampus. Sepulangnya nanti aku langsung ke cafe, jadi kamu masaknya untuk makan malam saja."
Ditya yang sedang memakai sepatu di ruang tamu itu mengingatkan tugas Cyra yang sudah mereka sepakati bersama.
Seminggu yang lalu Ditya terpaksa membuat beberapa peraturan yang harus mereka sepakati bersama.
Hal itu dia lakukan karena selama tiga minggu ini Cyra tidak mau membantunya mengerjakan pekerjaan rumah sehingga Ditya capai harus mengerjakan segala sesuatunya sendirian.
Gadis itu cuma berleha-leha didepan tivi tanpa membantu apapun.
Awalnya Cyra menolak segala bentuk peraturan yang diberikan padanya dengan alasan dia tidak pernah melakukan tugas kasar tersebut dirumahnya.
Namun, berkat ancaman dari Ditya yang akan mengadukannya pada sang papa bahwa dia tidak mau diajak kerja sama, akhirnya gadis itu pun menyetujui peraturan tersebut.
Peraturan itu berisi:
1- Harus tidur dikamar terpisah dan tidak boleh mengganggu privacy masing-masing.
2- Harus berbagi tugas rumah mulai dari menyapu, ngepel, mencuci baju sampai menyediakan makanan secara bergantian selama seminggu, lalu minggu berikutnya bergantian lagi.
3- Keduanya harus mengaku sebagai kakak dan adik sepupu mengingat Cyra yang masih berstatus murid SMA, dan Ditya sebagai mahasiswa, demi kebaikan dan keamanan bersama.
4- Harus memberitahukan keberadaan masing-masing dan berpamitan kemanapun dan dengan siapa akan pergi.
5- Semua kebutuhan rumah tangga atau MASALAH KEUANGAN LAINNYA MENJADI TANGGUNG JAWAB SUAMI.
tertanda
-Cyra Purnama ( ttd )
-Aditya Nugraha ( ttd )
( Surat perjanjian diatas materai )
"Iya, bawel!" sahut Cyra sebal.
Pasalnya ini sudah kali ketiga Ditya mengingatkan akan tugasnya sejak bangun tidur tadi.
"Pokoknya terserah kamu mau melakukannya kapan. Yang jelas, saat aku pulang nanti tugas kamu sudah harus selesai semuanya."
"Iyaaa ... bawel banget jadi laki. Kayak emak-emak rempong aja, sih. Ck ...!"
Cyra mencebik sebal.
__ADS_1
"Heh, aku hanya meng ..."
Sebelum Ditya menyelasaikan kalimatnya, Cyra sudah memotongnya.
"IYAAA !!!" teriaknya kesal.
"Sudah, sana pergi!" usirnya sambil mengibaskan tangan menyuruh suami sirinya pergi.
Namun, belum juga keluar pintu rumah, Cyra sudah menghentikan langkah Ditya.
"Tunggu!!"
Cyra menarik tas ransel dipunggung Ditya.
"Apaan, sih tarik-tarik?!" dengus Ditya ikutan kesal.
"Tadi diusir-usir supaya cepat pergi. Sekarang malah ditarik-tarik tasnya."
Cyra langsung menengadahkan tangannya didepan Ditya begitu laki-laki itu berbalik menghadapnya.
"Apa maksudnya?!"
Ditya mengernyit heran melihat kearah tangan gadis itu.
"Ck ...! Peraturan nomer lima. Aku minta uang saku. Gitu aja nggak tahu," decih Cyra.
Ditya membelalak lebar. Kemain dia baru membetinya uang tiga ratus ribu pada gadis itu, tapi pagi ini dia minta lagi?!
Ditya pun mengurut pelipisnya, pusing.
"Tapi kemarin, kan sudah aku kasih tiga ratus, masa minta lagi?!"
"Ya itu buat kemarin, lah. Sekarang aku minta untuk yang sekarang," jawab Cyra cuek.
"Kamu gila, ya. Uang tiga ratus kamu habisin sehari?!"
Ditya kembali mengurut pelipisnya yang makin pusing.
" Cuma tiga ratus, wajar lah langsung habis. Dapet juga es cappuchino sama roti sobek doang. Biasanya juga sehari lima ratus aku dikasih sama papa."
"Oh, my God."
Ditya menepuk keningnya seakan baru tersadar dengan siapa dia dinikahkan.
Pantas saja uang segitu dia habiskan sehari. Ditya baru sadar jika Cyra adalah anak jutawan yang tentu saja uang segitu tidak ada apa-apanya.
Padahal, untuk Ditya sendiri uang tiga ratus sudah bisa menghidupinya selama satu minggu meski hanya bisa dibelanjakan makanan dengan menu sederhana.
__ADS_1
"Buruan!" pinta Cyra.
Ditya pun mengambil dompet, mengambil selembar uang seratusan dan diserahkannya pada Cyra.
"Cuma segini?!"
Cyra mengibarkan uang itu didepan Ditya.
"Nggak ada lagi. Aku belum bayaran soalnya," balas Ditya.
Tangannya hendak menyimpan kembali dimpetnya ke saku celana, tapi Cyra buru-buru mengambilnya.
"Eh, mau diapain dompetku?!"
Ditya teriak saat melihat Cyra mulai membuka dompetnya.
"Ini apa?"
Cyra mengambil dua lembar uang pecahan seratusan yang ada didalamnya.
"Bilangnya nggak ada, lah ini ada."
"Jangan diambil, Ra! Itu buat ongkos bensin si Putih seminggu kedepan."
Ditya berusaha merebut uang yang ada ditangan Cyra namun tidak berhasil karena gadis itu dengan gesit memasukkannya kedalam saku seragam putih atasannya.
"Nih, masih ada, kok uangnya. Tapi dikiiit ..."
Cyra mengembalikan dompet pada siempunya sambil meringis lebar.
Dengan lemas Ditya menerima dompetnya kembali dan melihat isinya yang hanya tinggal tujuh puluh ribu.
Padahal, niatnya uang dua ratus ribu tersebut dia simpan sebagai cadangan kalau-kalau ada sesuatu.
" Ya, udah, yuk! Udah siang, nih. Antar aku ke sekolah dulu, ya."
Dengan entengnya Cyra mengajak Ditya berangkat bersama, bahkan gadis itu langsung nangkring dijok belakang vespa suaminya.
Berbeda dengan Ditya. Dengan langkah gontai laki-laki itu berjalan menuju vespanya setelah sebelumnya mengunci pintu.
Sampai dihalaman tempat Cyra nangkring diboncengan vespa, Ditya lantas menyerahkan kunci rumah padanya.
Mereka pun akhirnya berangkat bersama menuju tempat belajar masing-masing.
Ditya sampai dikampus sedikit terlambat sebab harus mengantar Cyra lebih dulu ke sekolahnya. Padahal, selama mereka pindah kekontrakan Cyra selalu menolak diantarkan.
Alasannya, Cyra tidak mau seluruh warga sekolah tahu jika Cyra tidak lagi naik mobil seperti biasanya. Ya, sudah tiga minggu ini dia selalu berangkat naik taksi online ke sekolahnya.
__ADS_1
Jika ada teman-temannya bertanya kemana mobilnya, Cyra selalu bilang sedang dapat hukuman dari sang papa sehingga dia dilarang bawa mobil sendiri ke sekolah.