
Ditya membuka matanya lalu tersenyum senang.
Bagaimana tidak?! Pagi ini dia bangun tidur langsung disuguhi pemandangan wajah cantik istrinya.
Selama empat bulan pernikahan mereka, baru tadi malam mereka untuk pertama kalinya tidur satu ranjang. Ya. Tidur dalam arti yang sesungguhnya.
Tapi meski begitu, Ditya sangat senang. Dia bisa memeluk tubuh sang istri barbarnya tanpa ada penolakan sedikitpun.
Dan Ditya berharap, akan ada kemajuan yang baik dalam hubungan pernikahan mereka. Dan Ditya juga berharap jika suatu saat nanti mereka bisa mengesahkan pernikahan mereka secara negara.
"Eughh!!"
Cyra melenguh sambil merentangkan kedua tangannya khas bangun tidur.
"Eh!"
Gadis itu terkejut manakala tangan kanannya menyentuh sesuatu.
"Kak Ditya?! Ngapain kamu dikamar aku?!" pekiknya kaget.
Rupanya saat merentangkan tangannya tadi mengenai wajah laki-laki itu.
"Sudah bangun, kan?! Sekarang lihat baik-baik, kita ada dikamar siapa sekarang?!"
Cyra pun segera mengedarkan matanya keseluruh ruangan. Dia baru sadar jika ternyata dialah yang tidur dikamar Ditya.
"Eh, maaf!"cicitnya.
"Aku lupa jika semalam kau yang memintaku tidur disini. Eh, ngomong-ngomong Kak Ditya udah baikan?!"
Cyra jadi ingat alasan kenapa dirinya diminta tidur dikamar itu.
"Hmm, mendingan! Sudah tidak demam lagi, tapi masih sedikit pusing," jawab Ditya.
"Kak Ditya, sih dibilangin keras kepala! Coba kalau semalam langsung mau saat diajak ke dokter, pasti sudah sembuh sekarang," dumal Cyra seraya bangkit dari tidurnya.
"Mau kemana?"
Ditya menarik tubuh Cyra agar rebahan kembali.
"Ya, mau bangun, lah! Ini, tuh udah pagi. Aku mesti ke sekolah, Kak!"
"Kamu lupa ini hari apa?!"
Ditya bertanya dengan sedikit berbisik ditelinga Cyra yang sekarang kembali rebahan disebelahnya.
"Hari Sabtu, kan?!"
"Memangnya Sabtu kamu sekolah?! Bukannya biasanya sekolah cuma lima hari, ya?!"
"Nggak juga, sih!"
"Terus, kenapa tadi bilang mau sekolah?!"
"Hehe ...! Kirain Kak Ditya lupa hari karena sakit."
"Aku, tuh sakit karena asam lambung naik, Cici! Bukannya hilang ingatan."
Ditya menoyor kening Cyra.
"Auh! Sakit, tahu?!"
"Sudah, jangan banyak mendumal pagi-pagi. Mending tidur lagi saja, mumpung aku sedang berbaik hati sekarang."
Ditya pun kembali memeluk seperti tadi malam.
Bedanya, jika semalam laki-laki itu memeluk Cyra dari belakang, pagi ini dia memeluk sang istri dari depan sehingga mereka saling berhadapan.
Wajah keduanya pun saling menatap dalam diam.
"Mm, Kak!"
Cyra membuka suara, memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat lamanya.
"Hmm!" gumam Ditya.
Laki-laki itu masih memperhatikan wajah Cyra yang makin kesini makin tampak kusam.
"Ra!"
Kini giliran Ditya yang memanggil.
"Yaa?!"
Cyra yang hendak bertanya pun mengurungkan niatnya.
Dia membiarkan Ditya berbicara lebih dulu.
"Maaf!" ujar Ditya.
__ADS_1
"Untuk?!"
Cyra bingung suaminya minta maaf untuk apa.
"Maaf karena sudah membawamu hidup susah bersamaku! Maaf karena aku belum bisa memberikan yang terbaik untukmu seperti yang kau dapatkan dari keluargamu."
"Kau keluargaku sekarang, Kak! Sejak aku menjadi istrimu, aku sudah memutuskan akan hidup susah denganmu. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Selama kita menikah, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu."
Keduanya saling menatap.
Entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.
"Ra!" panggil Ditya lagi.
Kali ini dia memberanikan diri menyentuh pipi tirus Cyra.
"Kau kurusan sekarang! Apa karena uang jajan yang aku kasih masih sangat kurang?!" tanyanya.
"Wajahmu juga makin kusam terlihat. Sudah berapa lama tidak melakukan perawatan?!"
"Tidak! Uang yang kamu kasih cukup, kok buat jajan," jawabnya.
" Dan soal perawatan, aku sudah tidak peduli lagi. Lebih baik uangnya aku gunakan untuk biaya pengobatan mama," gumamnya.
"Pengobatan mama? Mama siapa?!" tanya Ditya penasaran.
Rupanya gumaman Cyra didengar oleh Ditya.
"Eh, itu... kamu salah dengar tadi," kilah Cyra.
"Ra! Telingaku belum tuli, ya. Aku dengar dengan jelas apa yang kamu katakan barusan. Katakan padaku, mama siapa yang kamu maksud?!"
"Ah, enggak, kok! Bukan mama siapa-siapa!"
Cyra berusaha melepaskan diri dari pelukan Ditya dan langsung pergi meninggalkan kamar itu dengan berlari.
Ditya yang sangat penasaran dengan ucapan Cyra, terlebih melihat tingkah istrinya yang mencurigakan, menambah rasa penasaran dihatinya.
Ditya pun ikut berlari mengejar Cyra keluar kamar. Tak dihiraukannya rasa pusing yang masih mendera.
"Ra, tunggu!" teriaknya.
"Kamu harus jelaskan padaku, apa maksud kata-katamu tadi?!"
Digedornya pintu kamar Cyra yang terkunci dari dalam.
"Ra! Rara!!" panggilnya.
Hening!
"Cyraaa!!" teriaknya lagi.
"Aku hitung sampai tiga. Pintu tidak kamu buka juga, aku dobrak!" ancamnya.
Suasana hening dari dalam kamar tetap tercipta.
"Ok! Kalau kamu tidak mau buka pintunya, aku akan dobrak pintunya sekarang."
Ditya pun mengambil ancang-ancang hendak mendobrak pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka dan muncullah Cyra.
"Kak Ditya mau ngapain?!"
Cyra terheran melihat Ditya yang sudahsiap menendang pintu kamarnya.
"Ra! Kok, kamu keluar dari situ?!"
Ditya kaget saat melihat Cyra justru keluar dari kamar mandi.
"Memangnya kenapa? Aku habis cuci muka dan gosok gigi, ya pastilah dari kamar mandi. Kakak ngapain itu kaki diangkat begitu, nggak capek apa?!" tanya Cyra polos.
Ditya yang baru sadar kaki kanannya masih mengawang sebab tadi hendak mendobrak kamar Cyra pun lantas menurunkannya.
"Hehe ...! Kupikir tadi kamu dikamar dan tidak mau buka pintu, makanya mau aku dobrak."
"Ngapain didobrak?!"
"Ngapain mesti dikunci?!"
Ditya bertanya balik.
"Suka-suka aku, dong! Kamar juga kamar aku," jawab Cyra seenaknya.
"Ciciiii ...!!" geram Ditya.
"Kamu tidak tahu seberapa penasarannya aku tadi?!"
__ADS_1
"Enggak!" jawab Cyra masih cuek.
"Ciii!! Kamu, tuh, ya."
Ditya mengepalkan kedua tangannya gemas.
"Minggir!"
Cyra mendorong tubuh tegap Ditya dan membuka pintu kamarnya.
Ditya pun ikut masuk kedalam.
"Eh, ngapain kamu ikut masuk?!" protes Cyra.
"Kamu harus jelasin ke aku, apa yang tadi kamu ucapkan."
"Soal apa?!"
Cyra pura-pura lupa.
"Ciciii!!"
Ditya langsung mendorong tubuh sang istri ke tembok saking geramnya.
Dikungkungnya tubuh mungil istrinya agar tidak bisa lagi menghindar.
"Ka-kak Ditya mau ngapain?!" tanya Cyra gagap.
Ditya makin mendekatkan wajahnya kearah gadis itu.
"Jelaskan padaku, apa maksud dari ucapanmu tadi? Mama siapa yang sakit?!" bisiknya ditelinga Cyra.
Hembusan napasnya mengenai daun telinga gadis itu sampai-sampai bulu kuduknya meremang.
"Ba-baiklah! A-aku akan ceritakan! Tapi, bisakah kamu lepaskan dulu tanganmu?!"
Cyra berusaha keluar dari kungkungan tangan suaminya.
Dadanya bergemuruh. Cyra merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan jantungnya.
'Ada apa ini? Kenapa detak jantungku cepat sekali?!' batinnya panik.
"Kenapa?! Kau tidak suka diperlakukan seperti ini?!" tanya Ditya masih dengan suara pelan.
Ditatapnya wajah panik Cyra yang memerah.
"Ra!" panggilnya dengan suara parau.
"Aku ingin ..."
Ditya sengaja menggantung kalimatnya.
"Apa?!" cicit Cyra.
"Bolehkah?!"
"Bo-boleh apa?"
"Jujurlah padaku, Ra! Aku suamimu, kan?! Kumohon, jangan ada yang kau tutup-tutupi dariku! Katakan masalahmu, atau ... kau ingin aku mengetahuinya dengan sendirinya?!"
"Menutupi apa? Dari siapa?!"
Cyra memberanikan diri menatap manik mata Ditya yang terlihat sangat penasaran.
"Hmm!"
Ditya menghembuskan napas kasar.
"Baiklah! Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tahu aku tidak berarti apa-apa bagimu. Yang ada aku hanya akan menyusahkanmu saja, iya, kan?!"
Ditya melepaskan kungkungannya, lalu pergi meninggalkan kamar Cyra dengan raut wajah kecewa.
"Maaf, Kak! Kau jangan berkata seperti itu. Aku ..."
Blamm!!
Sebelum Cyra menyelesaikan kalimatnya, pintu kamarnya sudah tertutup dengan suara keras.
"Maafkan aku, Kak! Aku hanya belum siap jika semua orang tahu kebenarannya," ujar Cyra lirih.
***
Hai, hai, hai!!!
Sorry gemorry, Saudara!
Maaf jika hampir sepuluh hari ini aku baru bisa up lagi. Ceritanya kemarin habis ke kota, ke acara kakak ipar hajatan. Tahu, kan, jika acara seperti itu sibuknya kayak apa?? Dan setelah itu, pulang ke rumah dihadapkan lagi dengan kesibukan di real life yang lain.
Ma-aaaff banget, deh baru bisa up lagi. Ini saja disempet-sempetin. Nyambi meme gabah( sembari jemur padi). Maklum, hidup didesa ya kakak gini.
__ADS_1
Yang masih setia nungguin coretan aku, thanks abis, dah! Semoga kalian tambah diberi kesabaran buat nungguin cerita ini. Doakan saja, semoga kedepannya bisa lancar lagi update.