Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Rejeki Tak Terduga


__ADS_3

"Terima kasih banyak, Dit! Berkat kecekatan kamu, acara hari ini berjalan lancar dan sukses."


Pak Manager menyalami Ditya saat laki-laki itu masuk ke ruangannya.


"Sama-sama, Pak! Ini semua berjalan lancar berkat kerja tim kita. Tanpa yang lai pasti acara kali ini tidak akan sukses," ujar Ditya merendah.


"Tapi tanpa ide dan sentuhan dari tangan kamu, cafe ini tidak bisa disulap jadi sebagus ini dalam waktu hanya satu jam saja."


Pak Manager melihat berkeliling cafe untuk melihat hasil kerja keras Ditya yang masih terpampang indah.


Ditya memang kuliah dibidang desain interior. Jiwa seninya mampu menumbuhkan ide-ide cemerlang hanya dengan hitungan menit.


Terbukti dia selalu sukses dalam mendekor cafe disetiap acara-acara yang diadakan ditempatnya bekerja tersebut sesuai tema acara serta permintaan pelanggan, meski waktunya mendadak.


"Berkat kamu dan dibantu rekan-rekan kerja tentunya, cafe ini sekarang sering diminta untuk tempat acara-acara tertentu, khususnya dari kalangan kaum muda sepertimu. Pokoknya hari ini saya sangat puas atas kinerja kamu."


Ditepuknya bahu Ditya dengan bangga.


"Kalau begitu, boleh kasbon, dong saya, Pak. Kan, Bapak baru dapat dorprise banyak. Hehe ...!" timpal Ditya bergurau.


"Khusus kamu tidak usah kasbon. Sebab, ini ada titipan langsung dari yang punya acara tadi. Dia bilang sangat puas dan terkesan dengan dekorasi yang kamu buat. Ini, katanya sekedar rasa terima kasih untukmu."


Pak Manager memberikan amplop coklat lumayan tebal pada Ditya.


Ditya pun melongo mendengarnya. Niatnya bergurau justru ditanggapi serius.

__ADS_1


"Tapi, Pak, saya cuma bergurau saja barusan, lho!"


"Iya, saya tahu itu. Tapi ini amanah dan kamu harus menerimanya. Ini, ambillah!"


Dipaksanya Ditya untuk mengambil amplop yang terasa cukup tebal ditangannya.


"Apa ini tidak terlalu banyak, Pak?"


"Anggap saja rejeki kamu hari ini. Ok?! Kalau begitu mari kita pulang. Sudah waktunya tutup cafe."


"Mari, Pak! Terima kasih untuk semuanya!"


Ditya mengangkat amplopnya didepan sang manager.


"Sama-sama! "


Deg.


Dada Ditya bergemuruh saking senangnya. Bagaimana tidak? Dalam amplop tersebut berisi uang kira-kira sekitar tiga juta rupiah.


Ditya lantas mengambil enam lembar pecahan seratus ribuan lalu memasukkan amplopnya kedalam tas ranselnya.


Didekatinya tiga rekannya yang tadi sudah membantu mendekor ruangan cafe.


"Hai, teman-teman! Sudah bersiap pulang?!" tanyanya begitu sampai.

__ADS_1


"Eh, kamu, Dit! Kukira tadi kamu sudah pulang bareng Pak Manager," sahut Deni, si kribo.


"Iya. Gue pikir lo udah cabut dari tadi. Ngapain dulu, lo?" Si Ucil marucil ikutan nimbrung.


"Tadi gue habis ngobrol dulu sama Pak Manager, Bro. Beliau ngasih gue amplop, katanya titipan dari si pemilik acara yang nyewa tempat ini tadi," jelas Ditya.


"Wah! Hebat, lo, Bro! Tebel, dong isi kantong, lo," timpal Aris, sohib dan tetangga si Yusril alias Ucil.


"Hehe ...! Rejeki, Bro. Nih, gue kasih dikit buat kalian. Tapi maaf, ya, cuma dikit. Soalnya duitnya mau gue bayar utang sama Bang Firman. Tadi siang si Putih ngambek minta jajan lagi dibengkelnya," ujar Ditya membagi uang enam ratus ribu itu ke tiga temannya.


"Tapi, ini, kan rejeki kamu, Dit. Kita-kita tidak usah dikasih. Buat kepentingan kamu saja," tolak Deni halus.


Beda emang anak kyai satu ini.


"Iya, Dit, buat lo aja. Itu, kan rejeki lo," sambung Ucil.


" Iya, ini rejeki gue, tapi berkat bantuan kalian juga tadi. Ya, kan?! Dan karena ini rejeki gue, makanya gue baginya sedikit buat kalian. Nih, ambil aja. Kata si Ustadz Deni, nggak boleh nolak rejeki, kan, ya?!"


Deni mesem lalu mengangguk.


"Ya, udah kita terima, ya. Semoga kamu ikhlas. Dan semoga rejekinya dilancarkan dan ditambah berkahnya," ucapnya sambil menerima pemberian dari sahabatnya itu.


"Aamiin!!" seru yang lain.


"Thanks banget, Bro!" pungkas Aris menepuk bahu Ditya bangga.

__ADS_1


Ditya memang sering berbagi pada teman-temannya yang sering membantunya mendekor cafe jika ada acara khusus. Untuk itulah dia disegani rekannya yang lain, kecuali satu orang, yaitu orang yang sedang mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu luar Cafe.


Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan senyum mengembang tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengawasi mereka dan merencanakan sesuatu hal yang buruk kedepannya.


__ADS_2