
"Sumpah, kamu keterlaluan banget, Ra!" ucap Zizi saat keduanya sudah masuk mobil.
"Keterlaluan gimana?!"
Cyra yang sedang merapikan rambutnya menggunakan jari itu menoleh kearah Zizi.
"Ya, keterlaluan soal kata-katamu tadi. Tahu, nggak, Kak Ditya, tuh tadi langsung sendu dengar kalimat kamu, lho!"
Zizi mengemudikan mobilnya sedikit kencang karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lima belas menit. Itu artinya, jam pelajaran dimulai lima belas menit lagi.
"Kalimat yang mana?"
Cyra benar-benar lupa tadi dia mengatakan apa. Fokusnya saat ini adalah sampai di sekolah tepat waktu.
Gara-gara dia bangun kesiangan, ditambah lagi tadi Zizi minta sarapan di rumahnya, waktu ke sekolah menjadi semakin sempit.
"Ituu, kalimat yang katanya kamu bakal sedekah kalau sudah tajir melintir sampai jalan saja tergelincir karena saking kayanya."
Zizi mengutip kalimat Cyra, tapi tidak sempurna.
"Oh, yang itu! Haha ...! oYa, ellaaah, Zi. Itu tadi, kan aku cuma bercanda, kalii," sahut Cyra tertawa.
"Iya, kamunya emang cuma bercanda. Tapi, Kak Ditya nanggepinnya serius. Kelihatan banget mukanya tadi langsung sedih gitu," ujar Zizi sedikit iba.
"Ya, salah dia sendiri ngapain pakai baper segala."
Cyra tak mau disalahkan.
"Makanya lain kali kalau mau bercanda itu lihat-lihat sikon. Kamu tahu, kan, Kak Ditya itu sedang diposisi yang tidak memungkinkan saat ini. Artinya, dia masih belum sebanding dengan kamu yang anak orang kaya. Wajar, sih menurut aku kalau dia sampai tersinggung. Secara kamu tadi bilang kalau kamu bakal sedekah kalau kamu sudah punya suami yang tajir melintir. Nah, dia, kan statusnya suami kamu, meskipun dia bukan orang tajir melintir seperti kamu bilang tadi. Bahkan, kondisinya jauh dari kata kaya versi kamu."
Cyra pun terdiam mendengar penuturan sahabatnya itu. Dia baru sadar, kalau ternyata bercandanya tadi menyinggung hati suaminya.
__ADS_1
"Sorry!" lirih Cyra.
"Minta maafnya jangan sama aku, tapi sama suami kamu."
"Huhh!"
Cyra menghela napas dalam.
"Eh, Ra! Aku mau tanya, nih. Kemarin kamu pergi kemana?"
Zizi pura-pura bertanya. Dia ingin tahu apa jawaban Cyra. Jujurkah dia?!
"Eee, itu ... kemarin aku nengokin temen ke rumah sakit. Kamu tahu, kan, aku berteman juga sama anak-anak jalanan?! Nah, salah satu dari mereka ada yang masuk ke rumah sakit, makanya aku jengukin."
"Tapi, kenapa tadi Kak Ditya ngancam kamu supaya jangan ke tempat karaoke lagi?!"
Sebenarnya Zizi sedikit kecewa karena jawaban Cyra yang sedikit menutupi kebenaran.
"Sebenarnya, sudah seminggu ini aku kerja disana. Tapi, baru juga seminggu sudah ketahuan sama Ditya. Aku jadi penasaran dia tahu dari siapa?!"
Arah pandangnya menatap Zizi.
Zizi yang merasa ditatap pun jadi sedikit kikuk. Diam-diam dia merasa khawatir jika Cyra tahu kalau sebenarnya dia yang memberitahu Ditya.
"Ya, kali aja ada temennya Kak Ditya yang lihat kamu, terus ngelaporin ke dia," jawab Zizi was-was.
"Tahu, ah! Pusing!! Mana sekarang banyak banget pengeluaran, lagi. Belum juga utangku sama Bang Seno. Kalau Ditya ngelarang aku kerja disana lagi, aku musti gimana?!"
"Banyak pengeluaran untuk apa?! Bukankah selama kamu menikah sama suami kamu, dia yang menghandle semua kebutuhan kamu??!"
"Eh, itu, sebenarnya ...,"
__ADS_1
Ciiittt!!
Tiba-tiba Zizi mengerem mendadak mobilnya karena dilihatnya gerbang sekolah mulai ditutup oleh Pak Satpam.
"Tunggu, Pak!" teriak Zizi melongokkan kepalanya keluar dari mobil.
"Biarkan kami masuk dulu, please ...!" bujuknya.
"Makanya jangan suka terlambat," nasehat Pak Satpam.
Namun, pria setengah abad itu membuka kembali pintu gerbang, membiarkan mobil Zizi masuk.
"Makasih banyak, Pak! Maaf, tadi mobilnya ngadat minta diisi dulu," ucap Zizi tidak berbohong.
Memang tadi pagi sebelum menjemput Cyra, mobilnya mogok kehabisan bensin. Untungnya, didekat situ ada Pom Mini jadi Zizi langsung bisa mengisi bensin disana.
"Ya! Lain kali jangan telat lagi!"
Pak Satpam memperingatkan Zizi sambil mengetuk pelan bamper mobil Zizi menggunakan pentungan andalannya.
"Hehe ...! Siap, Pak! Kalau tidak lupa! Haha ...!"
Zizi cepat-cepat melajukan mobilnya menuju parkiran.
Zizi dan Cyra pun bergegas menuju kelas dengan berlari, takut guru masuk kelas lebih dulu dari mereka, sebab, sekarang sudah mulai jam pelajaran.
"Huh, hampir saja!!" ucap Cyra lega.
"Iya! Telat satu menit saja lagi kita tidak bisa masuk," sahut Zizi ngos-ngosan.
Dijatuhkannya tubuhnya di bangku samping Cyra. Bertepatan dengan itu, seorang guru masuk ke kelas mereka.
__ADS_1