Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Istilah


__ADS_3

Kriiingg!!


Bell pulang sekolah berbunyi nyaring.


Anak-anak Sekolah Budi Pekerti langsung berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan Cyra dan Zizi.


"Hari ini mau pulang sendiri atau aku anter?! tawar Zizi saat mereka keluar dari kelas dua belas IPS 1, yang merupakan kelas Cyra.


"Emang kamu mau anterin aku pulang?!" tanya Cyra balik.


"Yeee, sok-sokan nanya! Emang selama ini siapa yang suka nganterin kamu pulang?! Makanya aku nanya ke kamu, karena aku mau nganter kamu," sungut Zizi.


"Yaa, kan kadang-kadang aku dianterin sama Bang Ojol!"


Cyra mencari pembelaan.


"Huh, kalau itu, sih jangan dibilang lagi!"


"Hehe ...!"


"Ya, udah, yuk!"


Zizi lantas menggandeng tangan Cyra dan membawanya memasuki mobil H* nda Jazz milik Zizi.


"Eh, kita mau kemana?"


Cyra kaget karena saat di pertigaan, Zizi justru berbelok kearah berlawanan rumah mereka.


"Hehe ...! Kita cari makan dulu, laper!"


Zizi nyengir.


"Tapi, kita mau cari makan dimana?! Kenapa musti jauh-jauh, sih?!"


"Ntar juga kamu tahu, kok!"


Sekitar setengah jam kemudian, Zizi memarkirkan mobilnya di halaman sebuah cafe.


"Kok, kita turun disini?!"


Lagi-lagi Cyra melontarkan pertanyaan.


"Ya, kan kita mau makan. Makanya kita turun disini. Gimana, sih?! Buruan, turun!!"


Zizi menyuruh Cyra untuk segera turun dari mobil.

__ADS_1


"Maksudku, kenapa musti disini?!"


"Emangnya kenapa? Kamu belum pernah masuk kesini, kan?!"


Cyra menggeleng pelan.


"Ya, udah, ayo!! Disini tempatnya asyik, makanannya enak, kok! Harganya juga pas dikantong kita-kita yang masih anak sekolahan."


Zizi menarik tangan Cyra yang terlihat ragu.


"Tapi ...,"


"Udaahh, ayo!!"


Zizi makin menarik tangan sahabatnya memasuki cafe.


Sebenarnya Zizi tahu kalau Cyra ragu-ragu, bahkan cenderung takut. Soalnya, ini merupakan cafe tempat dimana suami Cyra bekerja. Hanya saja, Cyra belum pernah datang kesini sebelumnya. Dia hanya tahu lokasinya saja.


"Mas, pesen, dong!" ujar Zizi pada seorang waiter yang sedang berdiri memunggungi mereka yang duduk tepat dipinggir jendela sebelah pintu masuk.


"Iya, Mbak, sebentar! Saya sedang mencatat pesanan! Saya panggilkan teman saya, ya!" jawabnya.


"Oh, baiklah!"


Zizi mengangguk.


Gadis itu hendak ke toilet namun dicegah Cyra.


"Eh, kamu kena HIV??" pekik Cyra kaget.


Memangnya Zizi melakukan s*x bebas? Kok, bisa, sih dia kena HIV?!


Padahal, setahunya Zizi anak yang pandai membawa diri. Kenapa bisa sampai terkena penyakit kel*m*n begitu, ya?!


"Bukan HIV penyakit itu, Dodol! Tapi, maksud aku, tuh Hasrat Ingin Vivis!" ringis Zizi.


Gadis itu malu sebab pelanggan cafe yang duduk didekat meja mereka mendengar pekikan Cyra sontak menatapnya tajam.


"Oh, itu maksudnya?! Kirain, kamu beneran kena HIV yang menakutkan itu," sahut Cyra lega.


"Ya, udah buruan! Ntar keburu KDRT, lagi!" perintah Cyra.


Gadis itu mengibaskan tangan menyuruh Zizi untuk bergegas ke toilet.


"Eh, apaan, tuh KDRT?!"

__ADS_1


Sekarang malah Zizi yang penasaran dengan istilah Cyra barusan.


"Kencing Di Rok Tekolah!" jaeab Cyra santai.


"Yee, itu sih sekolah, bukan tekolah," ralat Zizi.


"Suka-suka aku, lah! Aku yang membuat istilah ini," teguhnya.


"Ssshhh, aku ke toilet sekarang, ya!"


Zizi langsung berlari ke toilet sambil memegangi perutnya.


Sementara itu, sang waiter memanggil rekannya yang berada dimeja kasir.


"Ada apa?"


Seorang laki-laki ber-rambut belah tengah mendekati rekan kerja yang memanggilnya.


"Itu ada pelanggan pesan makanan. Aku masih melayani Mbak-Mbak ini," tunjuknya pada pelanggan yang tadi sedang memesan.


"Oh, ok! Meja nomor berapa?!"


"Itu, yang dekat jendela, dekat pintu masuk!"


"Oh!"


Orang itu pun mendekati meja Cyra. Gadis itu tengah asyik dengan ponselnya, membuka novel di aplikasi online kesukaannya.


"Maaf, mau pesan apa?"


Deg!


Deg!


Dada Cyra pun berdetak lebih kencang kala mendengar suara waiter tersebut.


Kenapa dia merasa tidak asing dengan suara itu?!


"Mbaknya mau pesan apa, ya?!" tanyanya sekali lagi.


Cyra pun mendongakkan kepala hendak memesan. Tubuhnya langsung menegang manakala dilihatnya seseorang yang dia kenal sedang berdiri di depannya sambil membawa buku catatan.


"Kamu?!"


"Kak Ditya?!"

__ADS_1


***


__ADS_2