
"Jadi, siapa mereka?!"
Zizi kembali bertanya setelah penjual mie mengantar pesanan mereka.
"Kan, tadi kamu udah tahu sendiri! Dia itu Bang Seno. Dan yang perempuan itu ceweknya," jawab Cyra sambil mengaduk mie ayam pangsit gorengnya.
"Iya, kalau soal nama itu tadi aku dengar! Yang aku tanyain itu, ada hubungan apa kamu sama mereka?!"
"Bang Seno itu mantan boss aku! Dia pemilik tempat karaoke yang cukup terkenal didaerah sini. Kalau ceweknya aku baru ketemu tadi."
"Oh, gitu! Terus, urusan kamu sama Mbak Nita itu apa? Kalau nggak salah tadi kalian bahas soal lunas, lunas apaan?! Kamu punya utang sama perempuan itu?!"
Zizi menatap curiga.
"Iya! Aku utang dua juta ke dia. Sebenarnya, sih utangnya ke Bang Seno! Tapi, Mbak Nita jaminannya. Tapi sekarang udah kelar, kok!" terang Cyra.
"Ra, maaf, nih sebelumnya! Sebenarnya, kalau boleh tahu, kamu utang sana-sini buat apa, sih?! Kemarin dulu kamu udah utang sama aku sepuluh juta. Dan sekarang utang lagi dua juta. Memangnya, uangnya kamu gunakan untuk apa? Nggak buat yang aneh-aneh, kan?!"
"Adalah! Kamu tenang aja, Zi! Yang pasti uangnya berguna buat kebaikan, kok!"
Cyra masih tetap berkilah.
"Tapi untuk apa?! Ok, lah aku minta maaf soal utang itu! Gara-gara aku, kamu jadi dimarahi sama papa kamu, bahkan diusir dari rumah!"
Zizi menyesal, karena secara tidak langsung, dialah yang sudah membuat Cyra hidup susah seperti sekarang ini.
"Sudah, lah nggak usah dibahas lagi! Aku nggak apa-apa, kok!"
"Tapi, Ra! Please, jujur sama aku! Sebenarnya kamu butuh uang buat apa, sampai-sampai kamu nekat kerja dengan cara diam-diam dibelakang Kak Ditya?!" todong Zizi masih penasaran.
"Huufth!!"
Cyra menghela napas berat dan dalam.
"Habiskan makanan kamu! Setelah kita ngerjain tugas kelompok, aku akan ajak kamu ke suatu tempat."
Cyra menyudahi makannya.
Diseruputnya teh manis hangatnya hingga tandas.
Jujur, Cyra berat mengatakan itu pada Zizi. Takutnya dia akan mengadukan kegiatannya pada papanya jika gadis itu tahu.
Tapi, setelah dipikir-pikir dia harus memberitahu masalahnya pada Zizi. Toh, Cyra juga sudah bosan karena ditodong terus oleh Zizi dengan pertanyaan yang sama.
Mungkin, dengan dia jujur pada Zizi , dia bisa membantu kesulitannya saat ini, mengingat sekarang dia sudah tidak bekerja lagi.
Sekarang sudah tidak ada pemasukan lagi, padahal pengeluaran sedang banyak-banyaknya.
"Eh, kemana?!"
Zizi penasaran.
"Ke tempat yang bakal ngasih jawaban buat kamu, tanpa aku cerita panjang lebar!"
Selesai mengerjakan tugas sekolah, disinilah mereka sekarang.
__ADS_1
Disebuah rumah tua, disudut kota yang cukup jauh dari keramaian, tampak oleh Zizi beberapa orang berkebutuhan khusus dan ODGJ ( Orang dengan Gangguan Jiwa ) serta anak-anak gelandangan dan pengemis ( GePeng ) hidup dengan sangat memprihatinkan.
"Ra, maksud kamu bawa kesini itu apa?!" tanya Zizi lirih.
Hatinya berontak melihat keadaan rumah tua dengan para penghuni yang ... ah, Zizi tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
"Kamu ingin tahu aku butuh uang untuk apa, kan?!"
Cyra menjawab pertanyaan Zizi dengan pertanyaan juga.
"Nah, ini jawaban dari pertanyaan kamu yang sebenarnya berat aku jawab."
"Ja-jadi, selama ini kamu butuh uang banyak untuk mereka?!"
"Ya!"
"Kenapa kamu tidak jujur saja pada papa dan kakakmu, juga suamimu?! Kenapa kau menutupi hal ini dari mereka?!"
"Tidak semudah aku meminta uang untuk membeli tas branded, Zi!" ujar Cyra lirih.
"Tapi kenapa?!"
Lagi, lagi dan lagi Zizi menanyakan kenapa?
Sebenarnya kenapa?
Kenapa Cyra tidak jujur saja pada keluarganya?!
Jawabannya adalah, karena diantara penghuni rumah tua itu ada seseorang yang dapat mempengaruhi dan mengganggu ketenangan batinnya.
"Kau lihat wanita paruh baya yang disudut ruangan ini, Zi?!"
Cyra menunjuk seorang perempuan dengan baju daster yang terlihat tertawa dan menangis secara bersamaan.
Ditangannya terdapat sebuah topi pantai yang sudah sangat lusuh. Topi itu didekapnya erat, seakan tidak boleh hilang dari jangkauannya.
"Aku seperti familiar dengan raut wajahnya. Tapi, dimana aku melihatnya?!" gumam Zizi.
Gadis itu berpikir keras, kira-kira dia pernah melihatnya dimana, ya?!
"Oh, Tuhan! Semoga kau berikan dia kesembuhan!!" pekik Zizi terkejut.
"Dia ..."
Zizi tidak bisa berkata-kata lagi saat melihat Cyra mengangguk membenarkan.
"Oh, ya, ampuun!! Cyraaa!!"
Zizi langsung memeluk Cyra setelah tahu siapa wanita depresi itu.
Wanita yang dilihatnya disebuah bingkai dikamar Cyra. Ya, wanita itu adalah mamanya Cyra yang selama ini disangka telah meninggal karena terseret ombak dan tidak ditemukan jazadnya hingga batas waktu pencarian dihentikan.
Namun, faktanya mama Cyra masih hidup sampai saat ini, meskipun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Inilah jawaban dari pertanyaan yang selalu dia todongkan pada Cyra. Pantas saja gadis itu tidak pernah mau jujur padanya.
__ADS_1
Kiranya, sebuah fakta yang justru sangat menyakitkan saat terkuak.
"Kamu yang sabar, ya, Ra! Maaf, selama ini aku selalu memaksamu dengan pertanyaan yang telah membuat hatimu terluka."
Tangis Cyra akhirnya pecah dalam dekapan Zizi.
"Gadis Cantik, kamu menangis?"
Sebuah suara mengagetkan keduanya.
Saat pelukan mereka terlepas, pemilik suara itu menyentak tubuh Zizi hingga gadis itu terjengkang.
"Beraninya kau membuat Gadis Cantikku menangis!" bentaknya.
"Pergi kau dari sini!"
Pemilik suara yang ternyata seorang wanita yang baru saja mereka bicarakan itu menggelegar mengagetkan penghuni rumah tua.
Bahkan, ada yang sampai teriak histeris.
Seorang perawat langsung berusaha menenangkannya.
"Jangan, Ma! Dia, Zizi, sahabatku!" cegah Cyra saat wanita yang ternyata mamanya Cyra itu memukul Zizi dengan gagang sapu yang dipegangnya, entah darimana dia peroleh.
"Mama, jangaaan!!" teriaknya saat gagang sapu itu bertubi-tubi mendarat ketubuh Zizi yang hanya pasrah menerimanya.
"Pak Samsul, tolong suntikkan mamaku obat, sekarang!!" teriaknya pada pria akhir lima puluhan yang baru saja datang dari arah dalam rumah.
"Baik, Non!"
"Kamu tidak apa-apa, kan, Zi?! Maaf, Mama sudah melukaimu! Tidak seharusnya aku membawamu ke tempat seperti ini."
Cyra membantu Zizi bangun.
Terlihat beberapa lebam akibat terkena pukulan yang diberikan mamanya barusan.
"Aku tidak apa-apa, kok!"
Zizi mengusap tubuhnya yang terkena pukulan.
Rasa perih mulai menjalar disekitar luka.
"Ra!"
Zizi melihat Cyra menutupi wajahnya menyembunyikan tangisnya.
"Ra! Sudah, jangan nangis! Aku tidak apa-apa, kok!"
"Inilah yang aku takutkan selama ini, Zi! Kumohon, berjanjilah! Jangan beritahu siapapun mengenai hal ini. Paling tidak sampai mama sembuh dan tidak ngamuk-ngamuk lagi."
"Iya, Ra! Aku janji! Tapi mulai sekarang, kamu juga harus janji padaku! Apapun yang terjadi, kamu harus cerita sama aku! Kalau kamu butuh sesuatu, selagi aku bisa dan mampu, aku bakal bantu kamu!"
"Terima kasih, Zi! Kamu memang sahabat terbaikku!"
Keduanya pun saling berpelukan saling menguatkan satu sama lain untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
***