
Terdengar suara berisik dari luar kamar Cyra. Gadis itu jadi terusik tidurnya yang baru satu setengah jam itu.
"Duuhh, suara apaan, sih?! Berisik sekali!" gumamnya sembari menutupkan bantal pada kedua telinganya agar tidak mendengar suara gaduh.
Namun, bukannya suara itu menghilang, justru suara bising tersebut semakin jelas terdengar ditelinganya.
Rupanya suara-suara bising itu berasal dari suara panci dan sutil yang beradu.
"Bangun, Pemalas!!" teriak Ditya sambil terus memukul-mukulkan sutil pada panci kecil yang biasa digunakannya untuk memasak mie rebus.
"Ayo, bangun!!"
Ditariknya bantal yang menyembunyikan kepala Cyra, juga selimut yang menutupi tubuh gadis itu.
"Iiihhh, apaan, sih?! Berisik banget pagi-pagi!" gerutu Cyra terpaksa bangun dari tidurnya yang hanya beberapa waktu saja.
"Heh, gadis malas! Tengok jam itu, sudah jam berapa sekarang?! Itu di depan ada Zizi jemput kamu sekolah," sentak Ditya sekali lagi memukulkan sutilnya karena melihat istrinya yang hendak tidur lagi.
"Whatt?? Zizi? Sekolah??" pekik Cyra keras.
Gadis itu langsung bangkit dari ranjang dan bergegas keluar kamar menuju kamar mandi setelah menyambar handuk dan seragam sekolah yang tergantung dibalik pintu kamarnya.
"Tunggu bentaran, Zii! Aku mandi dulu!" teriaknya kearah ruang tamu dimana Zizi berada.
"Kebo, kamu! Jam segini baru bangun!" komentar Zizi ikut-ikutan teriak dari ruang depan.
Ditya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua gadis barbar itu. Meskipun kenyataannya istrinya jauh lebih barbar dari Zizi, sahabatnya.
"Bisa pelankan suara kalian, nggak?! Berisik, pagi-pagi teriak-teriak kayak Tarzanabar saja," pinta Ditya.
"Hehe ...! Maaf, Kak! Eh, what?? Apaan tadi, Tarzanabar??!" pekik Zizi makin keras.
"Ck, ni bocah! Sudah dibilangin jangan teriak, juga" dumal Ditya ngeloyor ke dapur.
Zizi pun bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Ditya ke dapur.
"Tadi Kakak ngomong apaan, Tarzanabar?! Tarzanabar itu apaan, sih?!" tanya gadis itu penasaran.
"Ck, begitu saja tidak tahu!" cebik Ditya yang kembali sibuk dengan masakannya.
"Dasar kudet! Tarzanabar itu, TARZAN BETINA BARBAR."
Ditya sengaja menekan kata-kata Tarzan Betina Barbar.
"Whatt??"
Zizi melotot mendengar penjelasan Ditya.
"Wah, parah, nih, Kakak! Seenaknya aja ngatain kita begitu. Mana ada Tarzan Betina Barbar yang cantiknya paripurna kayak kita. Ya, nggak, Ra?"
Zizi meminta pendapat pada Cyra yang baru keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Tahu, nih, orang!" timpal Cyra.
"Ada, lah!"
__ADS_1
Ditya tidak mau kalah.
"Dimana?!"
Zizi malah terpancing dengan jawaban Ditya yang terdengar serius.
"Eh, beneran ada emang?!"
Cyra ikut-ikutan penasaran.
"Iya, beneran ada, kok!" jawab Ditya mengangguk.
"Dimana?"
Zizi dan Cyra bertanya kompak.
"Disini! Nih, kalian berdua Tarzanabarnya!"
Ditya menunjuk kedua gadis yang sedang penasaran itu sambil nyengir.
"Whaatt??" pekik kedua gadis barbar itu sambil melotot.
"Sialan! Kita dikatain Tarzanabar, Ra," sungut Zizi.
"Brukk!"
Cyra melempar handuknya yang sedikit basah ke muka Ditya dengan geram.
"Sialan emang!" umpatnya.
"Hahaha ...!"
"Eh, kalian mau kemana?"
Dilihatnya Cyra sudah rapi dengan sepatu dan tas sekolahnya.
"Karaoke!!" jawab Cyra asal.
Ditya langsung mendelik.
"Berani kamu injakkan kaki ketempat itu lagi, awas!!" ancamnya.
"Habis mau kemana lagi pakai kayak beginian?! Ke sekolah, lah!"
Cyra pun mengajak Zizi segera berangkat.
"Ayo, Zi!"
"Ayo!"
"Tapi, kalian belum sarapan, kan?!" Sini, sarapan dulu!" ajak Ditya yang sudah menyiapkan tiga piring nasi goreng.
"Nggak! Sudah si-"
"Boleh, deh!"
__ADS_1
Belum juga Cyra menyelesaikan kalimatnya, Zizi nyerobot.
"Kita sarapan dikantin aja, lah! Sudah hampir telat, nih!" tolak Cyra.
"Itu, sih gara-gara kamunya yang tidur kayak kebo. Dibangunin nggak bangun-bangun. Yuk, ah sarapan!"
Zizi melangkah menuju meja makan seakan justru dia yang jadi Nona rumah.
"Lah, kok ...!"
Akhirnya Cyra mengikuti langkah kaki Zizi menuju meja makan. Disana sudah tersaji satu nasi goreng telor ceplok dan dua piring nasi goreng udang.
"Lah, kok, punya Kak Ditya beda sendiri?" tanya Zizi bingung.
"Iya! Aku alergi udang, makanya sengaja pakai telor ceplok!"
Ditya mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Ayo, buruan makan!" tawarnya.
Zizi dan Cyra pun akhirnya memakan nasi goreng buatan Ditya dengan lahap.
"Wuihh, nasi goreng buatan Kakak enak banget! Boleh, dong kapan-kapan numpang sarapan lagi disini?!"
Zizi begitu cepat memakan nasi goreng ala chef Ditya hingga tak bersisa sebutir nasi pun dipiringnya.
"Hm, terima kasih! Boleh, kok!" jawab Ditya mengangguk tersenyum.
"Sepiring dua puluh ribu!" celetuk Cyra.
"Apanya?"
Ditya dan Zizi saling pandang.
"Nasi gorengnya, lah! Kalau kita beli di Abang Tukang nasi goreng, kan begitu. Seporsi dua puluh ribu,"jawab Cyra cuek.
Gadis itu baru selesai menyimpan piring kotornya di tempat cuci piring.
"Dasar matre, kamu! Semuanya dinilai dengan uang," dumal Zizi.
"Iya, lah! Jaman sekarang, kan apa-apa serba mahal."
"Terus, kapan sedekahnya kamu?!"
"Ntar, kalau aku punya suami yang tajir melintir sampai jalan aja tergelincir saking banyaknya harta, sampai jalan aja susah. Haha ...!!" seloroh Cyra tertawa.
Ditya yang mendengar selorohan Cyra pun terdiam seribu kata. Meskipun cuma bercanda, namun, kata-kata Cyra barusan benar-benar menusuk hatinya.
"Sstt!! Kamu, tuh!"
Zizi menyuruh Cyra diam dan melirik Ditya yang raut wajahnya berubah sendu.
"Emm, Kak, kita berdua berangkat sekolah dulu, ya!" pamit Zizi cepat.
Zizi jadi merasa tidak enak, karena awal candaannya dari dia tadi.
__ADS_1
"Ya! Hati-hati!" balas Ditya yang masih meneruskan makannya.
Wajahnya tertunduk menatap nasi goreng buatannya sendiri dengan nanar, membiarkan dua sahabat itu pergi meninggalkan luka hatinya yang tergores karena ucapan istri sirinya barusan.