Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Terkejut


__ADS_3

"Cyra berangkat sekolah dulu, ya, Ma! Mama baik-baik dirumah sama Mbak Fani," pamit Cyra pada sang mama sesaat setelah kedatangan Fani.


Fani adalah suster yang sengaja ditugaskan oleh dokter kejiwaan untuk memantau perkembangan wanita itu dalam satu bulan terakhir.


Jika dalam satu bulan kedepan kondisinya tetap stabil, maka Fani akan ditarik kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja.


"Tante Cindy, Zizi juga pamit sekolah dulu, ya!"


Zizi mengekor dibelakang Cyra untuk bersalaman.


"Ya! Kalian rajin-rajinlah belajar!" nasihat Mama Cindy.


"Baik, Mah!"


"Ok, Tante!"


Kedua gadis itu menyahut.


"Mbak Fani, kami berangkat dulu, ya! Titip Mama!"


Cyra pun beralih pada Fani yang baru saja datang.


Perempuan awal tiga puluhan tahun itu mengangguk dan mengacungkan dua jempol tangannya sekaligus.

__ADS_1


"Ok! Kalian hati-hati, ya! Sampai ketemu nanti sore! Jangan lupa pulang bawa martabak telor," teriaknya karena kedua sahabat itu sudah keluar rumah.


Suasana rumah kembali hening.


Mama Cyra atau Cindy sudah masuk kembali ke ruang makan diikuti Fani. Wanita itu akan meminum obatnya sebab tadi Cyra tidak sempat memberikannya


"Sampai kapan aku harus minum obat begini banyak?! Rasanya sudah bosan sekali meminumnya," keluhnya meskipun tetap meminum obatnya.


"Sampai Ibu dinyatakan sembuh oleh Dokter Amril. Makanya Ibu harus rajin minum obatnya, ya! Ibu juga jangan banyak melamun lagi!" ujar Fani setelah membantu meminumkan obat.


"Tapi aku sudah merasa sembuh, kok!" protes Cindy.


"Iya, Ibu memang sudah sembuh! Akan lebih sembuh lagi jika dalam satu bulan ini minum obatnya rutin, tidak bolong-bolong lagi seperti minggu kemarin," hibur Fani.


Fani mengajak Cindy agar mau keluar rumah.


Sudah seminggu ini sejak wanita itu ikut pulang bersama putrinya, belum pernah sekalipun mau keluar rumah.


"Tidak, ah! Malu!" tolak Cindy.


"Kenapa harus malu, Bu?"


"Pasti orang-orang akan mengejek dan mengatai Ibu gila lagi seperti waktu itu."

__ADS_1


Kenangan buruk Cindy saat masih mengalami gangguan jiwa kembali terrekam diotaknya yang sudah bisa berpikir lebih sehat.


"Tidak akan, Bu! Disini tidak ada yang mengenal Ibu, kan?! Jadi, tidak ada yang akan berani mengatai Ibu. Kalaupun ada, biar nanti Fani hajar dia."


"Tapi ..."


"Sudah, Bu! Jangan berpikir yang macam-macam! Masih ingat apa kata Dokter Amril dan Dokter Hardi, kan?!"


Cindy mengangguk.


"Nah, kalau begitu jangan dengarkan kata orang yang bisa merugikan diri Ibu sendiri. Lebih baik sekarang kita keluar jalan-jalan, mumpung sinar mataharinya sedang tepat untuk berjemur," ajak Fani lagi.


Kali ini dia langsung menggandeng tangan Mama Cyra dengan sedikit menariknya agar mau keluar rumah.


Mau tidak mau Cindy akhirnya mengikuti langkah Fani keluar rumah.


Namun, begitu sampai diteras depan, langkah keduanya terhenti. Keduanya tertegun saat melihat sosok pemuda yang juga tengah berdiri mematung dihalaman rumah sambil menenteng tas ransel yang cukup berat terlihat.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Fani memecah keheningan setelah beberapa saat lamanya mereka tertegun dan saling pandang.


"Kalian yang siapa? Kenapa ada dirumahku?!" tanya Ditya bingung.


Ya! Pemuda tersebut adalah Ditya. Dia sengaja pulang tanpa mengabari istri kecilnya. Niatnya ingin membuat kejutan, namun justru dia sendiri yang terkejut mendapati dua orang asing berada dikontrakannya.

__ADS_1


Mungkinkah Cyra pindah tempat tinggal tanpa memberitahunya?!


__ADS_2