
"Bagaimana ini, Zi? Aku bingung harus bersikap," keluh Cyra pada Zizi.
Dua puluh menit yang lalu, setelah memeriksa Cindy yang baru sadar dari pingsannya, Dokter Hardi memintanya untuk segera membawa mamanya ke rumah sakit, khususnya ke bagian kejiwaan.
"Apa nggak sebaiknya kamu beritahu keluargamu saja masalah ini?" tanya Zizi takut-takut.
Gadis itu takut menyinggung perasaan sahabatnya itu. Apalagi, saat ini suasana hatinya sedang tidak bagus.
"Aku belum siap, Zi! Selama ini Papa selalu menekankan jika Mama sudah meninggal. Dan aku tidak tahu bagaimana nanti reaksi Papa kalau tahu sebenarnya Mama masih hidup, apalagi melihat kondisi Mama yang sekarang."
Cyra menghela napas berat dan dalam.
"Tapi, menurutku, saran dari Dokter Hardi ada benarnya, Ra! Tante Cindy harus segera dibawa ke dokter yang lebih berkompeten, mengingat beliau hanya seorang dokter umum. Jika dibawa kedokter rekomendasi beliau, mungkin saja kesembuhan mamamu akan lebih cepat. Kau lihat sendiri, kan, bagaimana tadi reaksi mamamu saat melihat foto yang kamu tunjukkan?! Kata Dokter Hardi itu reaksi yang bagus. Tante Cindy mulai mengingat siapa keluarganya."
Panjang lebar Zizi menasehati.
"Emm, begini saja! Jika kamu belum siap cerita masalah ini ke Kak Alfian maupun Om Bayu, gimana kalau kamu cerita saja ke Kak Ditya?! Kita ajak Tante Cindy pulang ke kontrakan kamu saja. Biar kamu bisa punya banyak waktu buat jagain mama kamu," saran Zizi.
"Itu lebih tidak mungkin, Zi! Ditya baru saja dipecat dari pekerjaannya kemarin. Aku nggak mungkin nambah beban dia lagi. Sudah cukup aku saja yang jadi bebannya, jangan Mama. Lagipula, aku berniat akan bekerja lagi demi pengobatan Mama. Kalau harus tinggal dikontrakan, siapa yang bakal jaga Mama?! Kupikir disini tempat yang paling tepat, Zi!" tolak Cyra.
"Tapi, untuk pengobatan Mama seperti saran Dokter Hardi akan aku pertimbangkan," imbuhnya.
"Baiklah! Terserah kamu saja! Apapun keputusanmu akan aku dukung, Ra!"
Akhirnya Zizi pun menerima keputusan Cyra.
"Kamu yang sabar, ya!" hiburnya.
"Terima kasih, Zi!"
Cyra memeluk tubuh Zizi penuh haru.
Dia sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Zizi. Disaat dirinya terpuruk, Zizi tetap berada disampingnya memberi dukungan.
***
Sementara itu di tempat kos Dimas.
"Sudah sore, Bro! Tidak mau pulang?!" tanya Dimas pada Ditya yang masih rebahan dikasur, meski sudah bangun dari tidur.
"Ck, kamu mengusirku?!"
Ditya berdecak.
"Bukan begitu, Bro! Kamu jangan tersinggung dulu!" sergah Dimas cepat.
"Maksudku, kamu tidak pulang saja, takutnya nanti Cyra mencemaskanmu. Kamu sendiri, kan yang bilang kalau tadi kamu pergi tidak pamit sama dia?!"
"Mana mungkin dia mencemaskanku, Sob! Palingan juga sekarang dia sedang pergi sama Zizi. Lagipula, aku sedang kesal dengannya, huh!"
Ditya mendengus kasar.
"Jangan begitu, lah, Bro! Kali saja dia cuma belum siap untuk cerita masalahnya ke kamu. Kasih dia privacy dan kepercayaan. Aku yakin, kok, cepat atau lambat dia bakal terbuka sama kamu. Kamu yang sabar saja menghadapi gadis ABG macam dia," hibur Dimas.
"Kalau yang aku lihat, sih, sekarang Cici Meong sudah mulai jadi kucing penurut sama kamu. Terbukti, sudah lama aku tidak dengar dia memberontak dan menuntut lagi sama kamu seperti awal-awal kalian menikah. Itu artinya, secara tidak sadar kamu bisa mengubah perilaku barbarnya. Yah, walaupun belum sepenuhnya, sih."
"Kau mengatai istriku kucing?!" Protes Ditya.
__ADS_1
"Cieee, dibelain! Roman-romannya ada yang sudah mulai bucin, nih. Haha ...!"
Dimas justru tergelak melihat pelototan Ditya.
"Jujur saja, deh, tidak usah pura-pura terus. Aku tahu, kok kamu mulai suka sama dia. Sudah, kamu buang saja, tuh peraturan nomor lima kalian. Ganti saja isinya dengan yang baru. Isinya, meskipun hanya kawin siri, tapi tetap boleh nikah. Eh, kebalik, ya!"
"Sialan, kau!" umpat Ditya.
"Dia masih putih abu-abu, Sob!"
Ditya mengeluh.
"Ya tinggal kamu merah-merahin saja dia biar tidak putih abu-abu lagi," ledek Dimas.
"Punya bini cantik, kok dianggurin.
Emang kamu tidak n*f*u, gitu lihat body langsing dia?!"
"Makin ngaco saja kamu, Mas! Dia, kan masih sekolah."
"Memang apa salahnya kalau masih sekolah?! Kalian, kan bisa main aman. Pakai sarung, lah! Atau, jangan kamu tabur benihnya, buang saja."
"Kamu, tuh makin ngaco, tahu, nggak?!"
Ditya melempar bantal yang sedari tadi dijadikan bantalan kepalanya.
"Hahaha ...!"
Dimas menghindar dari lemparan bantal.
"Sudahlah, aku mau pulang! Disini lama-lama dengar ocehan kamu makin pusing aku," keluh Ditya.
Dia pun bangkit dari tidurnya.
Diambilnya jaket dan tas ransel setelah mengenakan sepatunya.
"Pusing mikirin gimana caranya bikin tanda merah pada gadis putih abu-abu kamu?!" ledek Dimas lagi.
"Berisik, kamu!"
Ditya pun keluar kamar kos Dimas diikuti siempunya kos.
"Aku pulang! Jangan lupa kasih aku info jika ada loker ditempat kamu, ok?!" pamitnya sesaat sudah nangkring diatas si Putih.
"Ok!" Dimas mengangguk sambol menautkan jempol dan telunjuknya membentuk huruf O.
"Hati-hati! Sampai rumah jangan lupa bikin tanda merah, euy!"
Lagi-lagi Dimas meledek.
Namun, kali ini Ditya tidak membalasnya karena sudah melesat bersama vespa kesayangannya.
Sampai dirumah, Ditya mendapati mobil Zizi sudah terparkir dipinggir jalan depan rumahnya.
Tampak olehnya jika saat ini istrinya dan Zizi sedang serius ngobrol dikursi teras, entah apa yang dibicarakan.
Obrolan pun terhenti saat Ditya masuk dan menginjakkan kakinya di teras.
__ADS_1
"Hai, Kak Ditya baru pulang?!" sapa Zizi tersenyum kikuk.
Ada rasa gugup diwajahnya, tapi entah gugup karena apa?!
Ditya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Darimana?!" tanya Cyra penuh selidik.
"Buang stress! Percuma dirumah, nggak ada yang peduli," jawabnya ketus.
"Siapa yang nggak peduli?! Siapa yang semalam minta diambilkan minum? Lalu, siapa yang muntah dan bikin aku mandi dua kali?! Siapa juga yang minta ditemani tidur satu ranjang semalam?!" balas Cyra ikut ketus.
"Kamu sendiri yang main pergi gitu aja, dipanggil-panggil nggak gubris," dengusnya.
"Tahu, ah! Berisik!"
Ditya lantas masuk rumah tanpa mempedulikan Zizi yang sedang terbengong melihat perdebatan mereka.
"Ra, kalian sedang bertengkar, ya?! Terus, maksud dari tidur seranjang itu apa?! Kalian sudah ..."
Zizi menerka-nerka.
"Nggak!" sahut Cyra cepat.
"Semalam kami memang tidur satu ranjang, tapi karena dia sakit. Kemarin sore dia muntah-muntah karena asam lambungnya naik. Sialnya lagi dia muntah dipangkuan aku, soalnya aku duduk didepannya lagi suapin dia makan dan bikin aku jadi mandi dua kali sore itu juga. Terus, malamnya dia demam. Jadi, aku terpaksa menuhin permintaannya tidur temenin dia . Kami nggak ngapa-ngapain, kok. Cuma dia aja yang main peluk-peluk. Eh!"
Cyra langsung menutup mulutnya begitu tersadar jika sudah meceritakan semuanya pada Zizi.
"Haha ...!"
Zizi tergelak melihat wajah merah Cyra yang menahan malu.
"Nggak apa-apa, lagi, Ra! Dia, kan suami kamu. Lebih dari sekedar peluk juga boleh, kok! Yang penting ati-ati, jangan sampai bunting dulu, ingat sekolah!"
"Ish, ngaco kamu, Zi!"
Cyra menimpuk lengan Zizi menggunakan ponselnya.
"Haha ...! Ada yang Cici Meong rupanya," ledek Zizi.
"Uhs! Pulang sana!"
"Kamu ngusir aku?!"
Zizi mendelik.
"Emang iya!" jawab Cyra cuek.
"Keterlaluan banget, deh kamu, Ra! Ya, udah, deh aku pulang! Kali aja kalian mau peluk-pelukan lagi, ya, kan?!" ledekan Zizi makin menjadi.
"Hush, hush!! Pulang sana!"
Cyra maki mengusir Zizi saking kesalnya.
"Cieee, yang udah nggak sabar! Haha ...!"
Zizi langsung tancap gas begitu dilihatnya Cyra hendak melemparinya dengan sandal yang sedang dipakainya.
__ADS_1