Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Judulnya Empat Suap


__ADS_3

Tok ...! Tok ...! Tok ...!


Cyra mengetuk pintu kamar Ditya.


"Kak, makan malam sudah siap!"


Cyra memberitahukan kalau makan malam sudah siap.


Selepas ngobrol tadi, Cyra memutuskan untuk langsung mengerjakan pekerjaan rumahnya.


Selain karena sekarang jadwalnya mengurus rumah, dia juga merasa kasihan melihat suaminya tidak bersemangat.


Cyra pun menyuruh Ditya untuk beristirahat saja dikamarnya.


"Kak!" panggilnya sekali lagi.


Karena tidak mendapat jawaban juga, Cyra pun memutuskan untuk masuk kekamar Ditya.


Sebenarnya ada larangan masuk kamar masing-masing. Tapi, sesekali diantara mereka melanggar peraturan yang mereka buat sendiri, terlebih jika saat-saat seperti sekarang ini.


"Kak, aku masuk, ya!"


Tanpa menunggu jawaban, Cyra langsung membuka pintu dan membiarkannya terbuka saat dirinya masuk.


"Kak Ditya, kamu masih tidur? Udah jamnya makan malam. Makan dulu, yuk!"


Cyra mendekati ranjang kayu berukir dimana sang suami tengah berbaring.


"Ya, ampun!! Kakak sakit?!"


Cyra panik saat menyentuh lengan Ditya yang terasa panas.


Niat hati ingin membangunkan, justru hawa panas yang dia dapat.


Disentuhnya kening laki-laki itu untuk memastikan.


"Panas sekali!" gumamnya.


"Kak, bangun, Kak!"


Gadis itu menepuk-nepuk pelan pipi mulus suaminya yang rajin bercukur.


"Eughh!!"


Ditya melenguh pelan.


"Kak, bangun! Makan dulu, yuk! Setelah itu ke harus periksa ke rumah sakit. Kamu demam, Kak."


"Air," rintih Ditya.


Cyra pun cepat-cepat berlari ke dapur mengambil minum, sebab botol air yang ada dikamar Ditya sudah kosong.


"Ini airnya, Kak! Tapi kamu bangun dulu!"


Cyra meletakkan gelas ke meja nakas samping ranjang.


Dibantunya Ditya agar bangun dan bersandar kekepala ranjang.


"Ini minumnya!"


Ditya pun minum dengan gelas tetap dipegangi Cyra.


"Sudah!" ucapnya pelan.


"Kenapa tadi Kak Ditya nggak bilang kalau lagi sakit? Ke rumah sakit, yuk!"


Ditya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Tidak usah! Nanti juga baikan," tolaknya.


"Tapi demam kamu tinggi banget, Kak, yuk!"


"Tidak mau!"


Ditya tetap keukeuh menolak dibawa ke rumah sakit.


"Ya, udah! Kalau begitu makan aja, ya. Sebentar aku ambilkan!"


Cyra kembali ke dapur.


Tiga menit kemudian dia kembali ke kamar Ditya dengan membawa nampan berisi nasi, sayur sop dan ayam bakar mentega yang tadi dibuatnya.


"Ayo, buka mulutnya! Aaa ...!"


Cyra menyuapkan satu sendok nasi yang sudah dicampur dengan kuah sop.


"Buka mulutnya yang lebar, dong!" pintanya saat Ditya hanya membuka mulutnya sedikit.


"Ayo, A lagi!"


Ditya pun membuka mulutnya sedikit lebih lebar.


"Sudah!"


Tangan laki-laki itu menolak sendok yang sudah berada didepan mulutnya.


"Baru juga dua suap, masa sudah."


Cyra memaksa menyuapkan sendok kemulutnya.


"Pahit!"


"Hah?! Masa, sih pahit?!"


"Ah, enggak pahit! Enak, kok!" ujarnya setelah merasai masakannya.


"Pasti karena Kak Ditya lagi sakit, nih, makanya mulutnya terasa pahit."


"Ayo makan lagi! Nanti lama-lama juga pahitnya ilang," bujuk Cyra.


"Tidak mau!"


Ditya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menolak.


"Sekarang Kak Ditya pilih, habiskan makanan atau ke rumah sakit?!" ancam Cyra.


"Tidak dua-duanya!"


"Ck! Dasar keras kepala!" sungut Cyra.


"Makan lima suap lagi atau aku paksa bawa kamu ke rumah sakit!" ancamnya lagi.


"Emmmh!"


Ditya membungkam mulutnya dengan telapak tangan kirinya, menolak suapan.


"Ok, aku panggil taksi suruh bawa kita ke rumah sakit sekarang."


Cyra meletakkan nampan dinakas dan hendak keluar kamar.


Namun, tangannya ditarik Ditya agar gadis itu jangan memanggil taksi.


"Baiklah, satu suap lagi!"


Ditya berusaha menawar.

__ADS_1


"Lima suap!"


"Dua!"


"Lima!" jawab Cyra keukeuh.


"Tiga suap, ya!" rayu Ditya.


"Pokoknya tidak ada tawar menawar. Kalau nggak mau makan lagi lima suap, aku panggil dokternya saja yang suruh kemari."


"Empat, deh!" Ditya pasrah.


"Emm, ok! Empat suap lagi nanti udahan."


Akhirnya Cyra mengalah.


Daripada tidak makan sama sekali, pikirnya.


"Ayo, buka mulutnya!"


Cyra kembali mengambil nampan dan meletakkannya dipangkuannya.


Sementara dia sendiri duduk ditepi ranjang dekat Ditya duduk berselonjor.


"Buka mulutnya yang lebar!"


Aaa...


"Nah, begitu, kek dari tadi. Nggak perlu buang-buang energi buat debat."


Cyra kembali menyendokkan nasi dan sayur sop, juga ayam yang sudah dia suwir-suwir, satu sendok penuh.


"Kebanyakan!" protes Ditya.


"Nggak pakai protes! Pokoknya harus nurut!"


"Itu, sih tidak empat suap, Ra! Satu piring namanya," sungut Ditya melihat sang istri menyendokkan nasi satu piring hanya dengan empat sendok saja hingga mulutnya menggembung berisi penuh makanan.


" Hihi ...!"


Cyra terkikik.


"Kalau nggak gitu kamu nggak mau makan, sih! Yang penting, kan judulnya empat suap. Nah, ini minumnya!"


Gadis itu menyodorkan gelas.


"Huek!!"


Tiba-tiba saja Ditya merasa mual.


"Eh, eh, jangan muntah!" teriak Cyra panik.


"Tahan, jangan dimuntahin. Sayang, masuknya susah!"


"Huekk!!"


Ditya kembali mual.


"Stooppp!! Jangan dimun...tahin!"


Cyra langsung lemas saat melihat nasi yang baru masuk ke perut Ditya keluar lagi.


Yang paling membuat gadis itu ngenes, semua isi perut Ditya muntahkan kepangkuan Cyra yang masih duduk didepannya.


"Maaf!!" cicit Ditya merasa bersalah.


Wajah pucatnya semakin pucat melihat raut wajah sang istri yang tampak menahan emosi.

__ADS_1


***


__ADS_2