Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Pingsan


__ADS_3

Selepas konsultasi pada Dokter Hardi, Cyra lantas pergi menemui sang mama yang saat ini sedang berada diruang tengah.


Wanita paruh baya tersebut sedang duduk dipojokan. Matanya terus menatap ketengah ruangan, mengamati orang-orang yang sedang berrebut makanan yang Zizi bawa.


Tidak hanya itu, anak-anak pun saling tarik-menarik memperrebutkan pakaian yang menjadi incaran mereka.


Cyra duduk di samping sang mama tanpa wanita itu menyadarinya.


Gadis itu ikut melihat kearah pandang mamanya yang terus saja berkomat-kamit mengamati kerumunan.


Dapat Cyra lihat, betapa sulitnya Zizi membujuk anak-anak agar tidak saling berrebut dan mendorong.


"Adik-adik, Sayang! Kalian jangan berrebut, dong! Kakak jadi bingung mau kasih kesiapa kalau kalian saling berrebut begini," ujar Zizi kewalahan.


"Buat aku saja, Kak! Aku, kan lebih besar dari Susi. Pasti bajunya pas ditubuhku," kata Rani.


Sedangkan anak yang lebih kecil pun memprotes.


"Tapi, kan kamu sudah dapat dua, sementara aku masih satu. Jadi, baju ini buat aku, dong."


"Sudah-sudah, jangan ribut! Biarkan Kak Zizi saja yang membagi. Baju-bajunya, kan punya dia. Jadi, Kak Zizi yang paling berhak mau ngasih ke siapa?!"


Orang yang Cyra tahu dia bernama Setya itu menengahi.


"Ehm!" Zizi berdehem.


" Betul kata Kak Setya! Kalian harus nurut dan terima apa yang bakal Kakak bagi nanti. Tidak perlu iri, karena yang akan Kakak bagi sudah disesuaikan dengan ukuran tubuh kalian. Ok?!"


"Baiklah!" ujar Rani dan Susi yang tadi sempat berdebat.


Sementara anak-anak yang lain hanya diam mengangguk, menunggu apa yang akan mereka terima.


"Emm, Kak Setya, boleh bantu aku?!"


Zizi meminta bantuan Setya.


"Tolong, dong Kakak bantu bagi kue-kue ini. Sementara itu aku bagi baju-bajunya."


"Ok!"


Setya dan Zizi pun akhirnya berbagi tugas. Kali ini anak-anak menurut.


"Mama tidak ikut bergabung dengan yang lain?!"


Meskipun pelan, tapi rupanya suara Cyra mampu mengagetkan mamanya yang sedang memandang kedepan.


"Kamu ..."


Suara Cindy terhenti saat Zizi datang dengan sekotak kecil kue yang sengaja dikhususkan untuknya.


"Tante, ini kue untukmu!"


Zizi menyerahkan kotak pada Cindy.


Namun, wanita itu hanya menatapnya bingung. Cyra pun berinisiatif mengambilnya dari tangan Zizi, lalu menyerahkannya pada sang mama.


"Ini kue lapis beras pelangi kesukaan Mama. Tadi Zizi yang belikan khusus buat Mama sebagai permintaan maafnya kemarin dulu. Mama terima, ya!" ujar Cyra membujuk.


"Zizi itu sahabat baik Cyra, Ma! Dia tidak akan berbuat jahat padaku, seperti dugaan Mama hari itu. Jadi, Mama jangan marahin Zizi lagi, ya, Ma! Cyra sedih kalau sahabat Cyra dipukulin kayak kemarin."

__ADS_1


Entah kenapa, mendengar penuturan Cyra, raut wajah Cindy langsung berubah. Raut muka yang awalnya siaga melihat kedatangan Zizi itu kini berangsur hilang. Bahkan sedikit senyum samar muncul dibibirnya yang kering.


"Dia baik?!" tanya Cindy pada Cyra.


Dipandanginya Zizi dengan seksama.


Sementara Zizi hanya mampu tersenyum simpul dipaksakan. Jujur rasa takut masih menggelayutinya. Gadis itu takut kejadian saat dia pertama kali berkunjung itu terulang kembali.


"Iya, Ma! Zizi orang baik. Teman Cyra. Mama salaman, ya!"


Cyra mengambil tangan kanan mamanya agar mau menyalami Zizi.


Wanita itu hanya diam menurut.


"Maaf, Tante!" ujar Zizi.


"Maaf!" ucap Cindy menirukan Zizi.


"Nah, begitu, Ma! Mama pintar, deh!" puji Cyra senang karena pada akhirnya sang mama sudah mau mulai berkomunikasi.


"Emm, sekarang Mama makan kuenya, ya! Ini enak, lho, Ma!" ucap Cyra seraya mengambil satu potong kue lapis yang terbungkus plastik bening.


"Mama cobain, ya! Aaa ...!"


Cyra menyuapkan potongan kue tersebut kemulut Cindy yang langsung terbuka menyambutnya.


"Enak!" gumamnya.


"Iya, kan, enak?!"


Cyra senang sekali sang mama mau memakan kue tersebut.


"Bikin?!" Cindy menatap Cyra.


"He-em! Terutama pas hujan-hujan seperti sekarang ini."


Cyra menatap rintik hujan yang mulai turun diluar sana.


"Mama juga sering bikinkan aku dan Kak Alfian pisang bakar mentega dengan toping keju dan susu cokelat. Kadang-kadang dengan toping mesess. Tapi, kalau Papa lebih suka pisang goreng, katanya lebih tepat buat teman ngopi. Hehe ...! Mama ingat nggak?!" pancing Cyra sengaja menyebutkan nama kakak dan papanya.


"Al-fi-an?! Pa-papa?!"


Cindy mengernyitkan dahi, seolahsedang bertanya siapa mereka.


Aha! Rupanya umpan pancing sudah mulai termakan.


Cyra jadi semangat. Ditatapnya Zizi yang sedari tadi berdiri di samping Cyra.


"Zi!" panggilnya.


"Oh, iya! Sebentar!"


Zizi yang maksud dengan panggilan Cyra pun lantas mengambil sesuatu dari dalam tas Cyra yang sedang dipegangnya karena tadi Cyra memberikannya pada Zizi saat gadis itu hendak menyuapi mamanya.


"Ini, Ra!"


Zizi menyodorkan sebuah bingkai pada Cyra.


Cyra pun menyambutnya.

__ADS_1


"Ma, tadi Mama tanya siapa Kak Alfian dan Papa?!" tanyanya pada Cindy.


Cindy mengangguk pelan.


"Cyra akan tunjukkan fotonya pada Mama."


Gadis itu pun menyodorkan bingkai berisi foto keluarga antara dirinya, kakak serta orang tuanya saat mereka masih berkumpul dulu.


Cyra sengaja membawa foto yang dibuat sesaat sebelum kejadian naas tersebut terjadi.


"Ini, Ma! Ini aku dan ini Mama. Dan... Ini Kak Alfian dan juga Papa. Kita sempat berfoto berempat saat kita berlibur ke pantai dulu. Mama ingat?!"


Cindy menatap foto keluarga itu dengan kening berkerut, seakan sedang berusaha keras mengingat sesuatu. Terlebih, saat tadi Cyra menunjuk foto Alfian dan papanya.


Tiba-tiba saja keringat dingin sebesar biji kacang hijau bermunculan diwajahnya.


Zizi yang menyadari lebih dulu pun menyenggol bahu Cyra agar melihat respon wanita akhir lima puluhan tersebut.


"Ra, Mama kamu!" bisiknya.


"Mama kenapa? Mama baik-baik saja, kan?!"


Cyra yang sedari tadi melamun mengingat kejadian beberapa tahun silam itu terkejut melihat reaksi sang mama.


"Ma!" panggilnya lagi begitu dilihatnya Cindy memegang kepalanya seakan begitu kesakitan.


"Aaaaakh ...!!!" jerit Cindy tiba-tiba membuat seisi Rumah Surga terkejut.


"Mama ...!!" pekik Cyra.


"Tante ...!" teriak Zizi.


Cindy sendiri baru saja terkulai lemas dipangkuan Cyra yang sedari tadi duduk disebelahnya.


"Ma, bangun, Ma!" panggilnya panik.


"Ma, maafin Cyra, Ma! Cyra nggak bermaksud buat Mama kayak gini." tangisnya pecah.


"Ada apa ini, Ra? Kenapa dengan Bu Cindy?! tanya Setya yang juga berada diruangan yang sama.


Hanya saja tadi laki-laki itu sedang asyik mengajari anak-anak jalanan yang putus sekolah.


"Tante Cindy pingsan, Mas!" Zizi membantu jawab pertanyaan yang sebenarna dilontarkan untuk Cyra.


"Dokter Hardi!" kata Cyra cepat.


Setya pun paham.


"Tolong panggilkan Dokter Hardi diruangannya!" perintahnya pada salah satu anak.


Lima belas menit kemudian, Dokter Hardi keluar dari kamar Cindy dan beberapa ODGJ lainnya.


"Bagaimana keadaan Mamaku, Dok?! Apa Mama baik-baik saja?!" tanya Cyra yang sedang dalam pelukan Zizi.


Gadis itu habis menangis sehingga suaranya terdengar parau.


"Kita lihat sampai Bu Cindy siuman. Kamu yang sabar, ya!"


Dokter Hardi tersenyum lalu menepuk bahu Cyra memberi semangat.

__ADS_1


__ADS_2