
"Kamu yakin tidak mau ke dokter dulu, Zi?!" tanya Cyra khawatir.
Akibat kena pukul dari mamanya, sahabatnya jadi terluka.
"Tidak usah! Aku baik-baik saja! Nanti diolesi salep saja pasti sembuh, kok!" tolak Zizi menggeleng.
Meski tubuhnya sakit, tapi Zizi mencoba bersikap biasa saja, bahkan memaksakan diri untuk menyetir.
Gadis itu tidak ingin terlihat lemah di depan Cyra dan membuat sang sahabat menjadi semakin merasa bersalah karena mamanya yang sedang terganggu jiwanya memukulinya.
Keduanya baru pulang dari rumah tua yang dinamai Rumah Surga.
Ya! Cyra dan beberapa teman punk-nya menamai rumah tua tersebut dengan harapan rumah itu menjadi surga bagi para ODGJ dan PePeng yang selama ini berkeliaran tidak jelas dan dipandang sebelah mata keberadaannya oleh masyarakat luas.
Tadi sebelum pulang, Zizi dikenalkan dengan beberapa teman Cyra yang merupakan anak punk.
Meski tampilannya seperti preman, namun hatinya lembut dan bersih seperti kapas.
Terbukti, mereka mau mengelola komunitas Rumah Surga yang penghuninya saja sangat dihindari oleh orang kebanyakan yang merasa jijik dengan mereka.
Awal mula Cyra menemukan mamanya juga saat bertemu teman-teman punknya yang saat itu sedang membujuk seorang ODGJ agar mau dicukur rambutnya yang sudah panjang dan berantakan tak terawat.
Cyra yang waktu itu sedang sedih mengingat sang mama, akhirnya menghibur diri dengan berjalan seorang diri disekitaran jembatan tempat komunitas surga biasa nongkrong.
Saat mendekati kerumunan itu, mata Cyra membelalak begitu melihat raut wajah ODGJ tersebut yang ternyata mamanya yang dia kira selama ini sudah meninggal dunia.
Sejak pertemuannya dengan sang mama itulah, Cyra memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Rumah Surga yang didirikan anak-anak punk yang kini menjadi perawat mamanya.
Meski dandanan layaknya anak punk pada umumnya, namun anak punk yang Cyra kenal itu ternyata ada yang berprofesi sebagai dokter, pengusaha, bahkan aparat kepolisian.
Mereka sama-sama saling membantu mengelola komunitas tersebut, meski tidak terlihat dari dunia luar. Karena prinsip mereka, menolong sesama tanpa adanya riya.
__ADS_1
Dan sejak bergabung dikomunitas tersebut, terlebih sang mama ada didalamnya, Cyra bertekad untuk ikut menjadi donatur tetap tanpa sepengetahuan keluarganya.
Dia ingin menyembuhkan mamanya tanpa campur tangan papa dan kakaknya secara langsung agar dia bisa membuktikan pada mereka jika dia bukan gadis manja yang bisanya cuma merengek saja seperti yang mereka lontarkan selama ini.
"Kapan kamu datang ke Rumah Surga lagi, Ra?"
Pertanyaan Zizi membuyarkan lamunan Cyra.
"Eh, kenapa?!"
Cyra gelagapan karena sedang melamun tadi.
"Kapan kamu berkunjung ke Rumah Surga lagi?!"
Zizi mengulangi pertanyaannya.
"Aku boleh ikut lagi, nggak?!"
"Memangnya kamu mau ke tempat seperti itu lagi? Kamu nggak jijik?!"
"Kenapa jijik?! Aku justru kasihan sama mereka. Siapa, sih yang mau jadi seperti mereka?! Aku justru prihatin melihatnya."
"Apa, kamu berkata seperti itu karena disana ada mamaku?! Kamu bilang seperti itu hanya untuk menghiburku?! Kalau iya, terima kasih! Tapi aku tidak butuh penghiburan." ujar Cyra sedikit ketus.
"Ra! Asal kamu tahu saja, ya! Aku juga sering bantu-bantu orang seperti mereka, ya! Yah, walau hanya sebatas sebungkus makanan dan minuman atau uang yang tidak seberapa. Aku juga memberikan pakaian bekas yang masih layak pakai untuk anak-anak jalanan. Apa aku harus memberitahumu soal itu?! Seperti slogan Komunitas Rumah Surga, memberi tanpa harus orang lain itu lebih mulia. Aku baru tahu ada komunitas itu. Jika saja kamu memberitahuku lebih awal, mungkin juga aku sudah lama ikut bergabung. Huh!"
Zizi mendengus kesal. Pasalnya, kata-kata Cyra tadi berhasil mengiris hatinya. Pura-pura peduli karena ada mamanya Cyra disana, dia bilang?! Huh!
"Maaf, Zi! Aku tidak bermaksud," lirih Cyra.
"Sudah, lah! Lupakan! Jadi, kapan kamu kesana lagi?!"
__ADS_1
Zizi berusaha melebur kekesalannya.
"Aku berniat membawa baju-baju lamaku yang masih pantas pakai. Kalau boleh, sih!"
"Tentu boleh! Kami akan sangat berterima kasih sekali untuk itu," balas Cyra semangat.
Kini hatinya yakin, Zizi, sahabatnya benar-benar orang yang tulus mau membantu komunitasnya.
"Gimana hari minggu besok?! Tapi kamu harus bisa ijin pada Ditya dan jangan sampai dia curiga, ok?!"
"Ok! Aku jemput jam delapan pagi, ya! Biar bisa disana lebih lama."
Zizi senang karena akhirnya Cyra mengijinkannya untuk datang lagi kesana.
"Terima kasih, Ra! Sudah ngijinin aku ikut!"
Zizi memeluk Cyra senang.
"Sama-sama!"
Cyra pun membalas pelukan hangat sahabatnya.
"Kalau begitu aku turun dulu, ya! Terima kasih tumpangan dan makan siangnya tadi!"
Cyra pun turun dari mobil Zizi begitu mereka sampai di depan kontrakan rumah Cyra.
"Santuy, saja, Sist! Aku langsung pulang, ya! Bye ...!!"
"Bye ...!! Be carefull!!"
Cyra pun masuk ke dalam rumah saat mobil Zizi menghilang ditikungan jalan besar.
__ADS_1
"Kenapa baru pulang?!"
Suara Ditya terdengar menggelegar dari arah ruang tamu begitu Cyra membuka pintu rumah