
"Seharusnya kau tidak boleh bicara seperti itu tadi," ujar Ditya sekeluarnya mereka dari halaman rumah besar.
"Kenapa?! Aku hanya mengeluarkan unek-unekku saja. Lagipula, memang benar, kan apa yang aku bilang tadi?! Jika memang mereka masih menganggapku, mereka tidak akan berkata begitu. Sudahlah, jangan dibahas lagi! Aku jadi moody sekarang!" jawab Cyra masih merasa kesal.
"Hmm, kita makan siang dulu, yuk!"
Setelah cukup lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, Ditya berusaha memecah kesunyian.
"Tidak lapar!" sahut Cyra dari jok belakang vespa yang sedang dikendarai Ditya.
"Tapi aku lapar!" Ditya ngotot.
Tanpa mendapat persetujuan dari istrinya, laki-laki itu langsung membelokkan vespanya menuju sebuah lapak warung soto disisi kiri jalan yang mereka lewati.
"Aku mau makan dulu, lapar! Terserah kamu mau makan atau tidak!" ujar Ditya saat Cyra hendak memprotes.
Ditya pun langsung memesan dua mangkok soto, satu soto ayam dan satu lagi soto babat.
Akhirnya Cyra terpaksa mengikuti Ditya yang sudah duduk dibangku panjang yang ada dilapak tersebut.
"Jangan manyun terus, makanlah!"
Ditya menyorongkan mangkok soto ayam yang baru saja dihidangkan oleh si penjual. Sementara dia sendiri mengambil soto babatnya.
"Kok, pesannya beda?" protes Cyra karena soto yang disodorkan Ditya padanya tidak sama dengan yang Ditya makan.
"Itu soto ayam! Dan ini soto babat! Atau, kau mau tukeran?!" tawar Ditya.
Cyra menggeleng cepat begitu tahu yang Ditya makan adalah soto babat.
"Tidak, terima kasih! Aku yang ini saja!" tolak Cyra.
Gadis itu memang tidak suka jeroan.
"Ya, sudah dimakan mumpung masih panas!"
Cyra pun mulai memakan soto ayamnya dengan lumayan cepat.
Selain karena rasa kesal yang membuat nafsu makannya bertambah, ternyata rasa sotonya juga enak. Meski hanya dengan siraman kuah bening tanpa santan, rasa soto tersebut justru tidak membuat perutnya enek seperti saat dia memakan makanan yang bersantan.
"Katanya tadi tidak lapar, tapi soto satu mangkok besar tandas juga," sindir Ditya sambil tersenyum.
"Uhuk! Uhuk!"
Cyra yang sedang mengunyah suapan terakhirnya langsung tersedak mendengar sindiran dari sang suami.
__ADS_1
"Uhs! Pelan-pelan, dong, Sayang! Nih, minum dulu!"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Cyra makin terbatuk saat mendengar Ditya memanggilnya 'sayang'.
Segera disambarnya gelas yang disodorkan Ditya dan ditenggaknya air didalamnya hingga tandas untuk menghilangkan rasa sesak dan perih ditenggorokannya.
Matanya melotot kearah sang suami.
"kau mau membunuhku, ya?!"ketusnya kesal.
"Tidak, tidak! Aku masih ingin hidup bebas dan tidak mau terkurung dibalik jeruji besi karena membunuh anak orang, apalagi anak seorang pengusaha dari Bayu Purnama. Hiii ...!"
"Kau!!"
"Sudah, sudah! Jangan marah-marah lagi, nanti lapar lagi! Atau ... masih mau nambah?! Kali saja masih lapar, soalnya kamu kelihatan masih kesal dan marah!"
"Kau ini!"
Cyra memukul-mukul lengan Ditya dengan tas selempangnya makin kesal dibuatnya.
"Aku kesal karena kau membuatku tersedak tadi, tahu?!"
Ditya menggapai tangan Cyra yang masih terus memukulinya.
"Maaf, Sayang! Aku cuma bercanda saja tadi!"
Ditya menggenggam tangan Cyra.
"Jangan marah, ya!"
Cyra langsung terdiam.
"Cici Meongku, Sayang!" panggil Ditya.
Cyra mengamati wajah Ditya yang menurutnya aneh siang ini.
Sejak keluar dari rumah besar, Ditya sudah beberapa kali memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Kak Ditya sakit?!" tanya Cyra.
Dirabanya kening Ditya dengan punggung tangannya yang bebas dari genggamannya.
"Tidak panas!" gumam Cyra.
__ADS_1
"Aneh!"
"Siapa yang aneh?!" Ditya bertanya.
"Kau yang aneh!" Cyra menunjuk.
"Aku, aneh?!"
Kini Ditya ikut menunjuk dirinya sendiri.
"Ya! Kau aneh! Sejak keluar dari rumah besar, kau selalu memanggilku 'sayang'. Itu, kan aneh!"
"Kenapa harus aneh?! Aku memanggil istriku sendiri. Dimana anehnya saat suami memanggil istrinya dengan panggilan 'kesayangan'?!"
"Hm!" penjual soto berdehem.
"Itu panggilan kesayangan dari Mas Suami, Mbak, terima saja! Itu tandanya dia benar-benar sayang pada Mbak!" celetuknya.
Meskipun senyum tak dapat disembunyikan dari wajah si penjual soto saat mendengar Ditya memanggilnya 'Cici Meong'. Seperti kucing saja!
"Nah, Pak Soto saja tahu, masa kamu yang istrinya tidak tahu?!"
Ditya membenarkan ucapan si penjual soto.
"Dengarkan aku! Aku memanggilmu bukan tanpa alasan. Kenapa aku memanggilmu Cici Meong?! Karena kamu lucu dan imut seperti kucing Persia yang menggemaskan," terangnya.
"Tahu, ah!"
Cyra bangkit dari duduknya dan keluar dari lapak.
"Hei, Cyra, tunggu!"
Ditya berusaha mengejar Cyra setelah sebelumnya membayar makannya barusan.
"Sayang!" teriak Ditya lagi saat dilihatnya Cyra terus saja berjalan melewati vespanya yang terparkir.
" Cici Meongku Sayang, tunggu!"
Cyra tetap saja berjalan tanpa menyahuti panggilan Ditya.
Hatinya sedang berbunga karena sekarang Ditya memanggilnya 'sayang'.
Mulai hari itu Cyra merasa senang karena ternyata Ditya memanggilnya dengan panggilan Cici Meong yang merupakan panggilan kesayangan.
Selama ini dia berpikir nama itu hanyalah panggilan ejekan untuknya.
__ADS_1