Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Kemarahan Pak Bayu


__ADS_3

Akhirnya Cyra tidak masuk sekolah. Gadis itu terpaksa pergi ke dokter dengan alasan sakit perut. Padahal, alasan yang sebenarnya adalah ingin meminta surat keterangan dari dokter agar Cyra mendapat ijin dari sekolah untuk tidak masuk.


Dan disinilah dia sekarang, dirumah mewah yang sudah dia tinggalkan dua bulan lamanya. Senang sekali rasanya bisa menginjakkan kaki lagi diistana orangtuanya. Bagaimana tidak?!


Setelah dengan terpaksa mengikuti sang suami keluar dari


rumah, sang papa bahkan melarangnya untuk selalu datang. Hanya saat-saat diminta seperti inilah gadis itu bisa pulang dengan leluasa.


Meskipun dalam hatinya muncul berbagai pertanyaan, mengapa sang papa tiba-tiba saja memintanya pulang? Mungkinkah dia disuruh tinggal dirumah itu lagi?!


Ah, sudahlah!


Bisa kembali pulang saja rasanya Cyra sudah senang sekali.


"Biyuuung ...!" teriaknya berlari menghampiri Bi Inah yang sedang mengelap kaca etalase tempat piala disimpan di ruang tengah.


"Non Cyraaa!!!"


Bi Inah yang terkaget karena pelukan nona majikannya sampai menjatuhkan kemoceng dan kain lapnya.


"Maaf, Yung! Habisnya kangeeen."


Cyra makin mempererat pelukannya pada wanita setengah baya itu.


"Alaaahh, bilangnya kangen. Orang hampir tiap hari juga ketemu kalau lagi minta du ..., eemmpf ...!"


Cyra langsung membekap mulut Bi Inah.


"Sssttt!! Jangan keras-keras, dong, Bi! Jangan sampai nanti orang rumah dengar. Apalagi Papa," bisiknya pelan.


"Maaf, Non! Tapi ..."


"Huussstt!! Diam, deh, Yung!" ancam Cyra.


Bi Inah hanya mengangguk karena mulutnya masih dibekap.


"Nah, gitu, dong!"


Cyra langsung melepas bekapannya.


"Yung, tolong, dong bikinkan aku minum! Yang seger, ya! Haus, nih," perintah Cyra seraya menjatuhkan tubuhnya disofa ruang tengah.


Diambilnya remot tv layar lebar dan dinyalakannya. Dicarinya gelombang tv kesukaannya.


"Hmm, nyamannya!" gumam Cyra.


Kakinya diselonjorkan ke atas meja, sementara tubuhnya setengah berbaring pada sandaran sofa, seperti kebiasaannya dulu sebelum keluar rumah.


Namun, kenyamanan Cyra rupanya tidak berlangsung lama.


"Ekhm!"


Terdengar suara deheman dari arah ruang kerja sang papa.


"Bagus! Datang kerumah orang tidak ada sopan-sopannya. Memangnya suami kamu tidak pernah mengajari sopan santun?!"


"Eh, Papa! Hehe ..., maaf!" ucap Cyra sambil menyalami Pak Bayu yang berjalan kearahnya.


"Biasa aja kali, Pa! Dulu-dulu Cyra juga selalu seperti ini, kan, Pa?!"


"Itu dulu, semasih kamu jadi tanggung jawab Papa. Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu. Sudah seharusnya dia yang mendidik kamu dan menegurmu jika ada kesalahan atau kelakuan burukmu. Mana dia?!"


"Siapa yang Papa maksud dia??"


"Tentu saja Ditya, suamimu. Mana dia? Bukankah saya sudah bilang, kalian harus datang berdua?!"


Pak Bayu duduk disofa single diseberang Cyra. Jarak mereka hanya terhalang meja kaca.


"Oh! Ada, dia masih diluar tadi lagi angkat telpon dari Dosen Pembimbingnya, katanya," terang Cyra.


Bertepatan dengan Cyra menjawab, Ditya muncul dari arah depan.


"Nah, itu dia!" tunjuk Cyra dengan dagunya.


"Selapat pagi, Pa!" sapa Ditya sembari mencium tangan papa mertuanya.


"Maaf, tadi tidak langsung masuk! Ada telpon dari Dosen Pembimbing mengenai bahan skripsi. Maaf juga kami baru bisa datang! Kemarin Ditya sedang ada tugas dari atasan yang tidak bisa diwakilkan. Jadi, saya terpaksa tidak bisa datang sesuai panggilan Papa," ujar Ditya memberi alasan.


"Duduk, Dit!" perintah Pak Bayu.


Ditya pun duduk disebelah istrinya yang masih menyelonjorkan kakinya di atas meja.


"Ra, turunkan kakimu! Tidak sopan!" tegur Ditya setengah berbisik.


Ditaboknya kaki Cyra membuat gadis itu mengaduh.

__ADS_1


"Aduh! Apaan, sih main tabok-tabok," sungut gadis itu.


"Turunkan kakimu!" perintah Ditya sekali lagi.


Kali ini ucapannya sengaja dikeraskan agar mertuanya mendengar sekalian.


"Cyra, kamu tidak dengar ucapan suamimu?!" Pak Bayu menimpali.


"Ck, iya, iya!!"


Dengan ogah-ogahan akhirnya Cyra menurunkan kakinya dari meja.


"Begini, Dit, sebenarnya ada hal penting yang harus saya bicarakan denganmu mengenai Cyra," ujar Pak Bayu memulai percakapan.


"Eh! Mengenai Cyra? Maksud Papa apa?" kejut Cyra.


Ditya juga merasa penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh papa mertuanya.


"Kudengar, Cyra berhutang uang pada temannya, apa kamu mengetahui hal itu?"


Pak Bayu melirik kearah Cyra yang merasa terkejut.


"Hu-hutang? Hutang apa? Berapa? Dan pada siapa?" tanya Ditya memberondong.


Ditatapnya Cyra yang duduk disebelahnya dengan tatapan menyelidik.


"Eee, itu ..."


Cyra bingung harus menjawab dengan beralasan apa.


"Jadi, kamu tidak tahu istrimu berhutang?!"


Ditya hanya menggeleng pelan. Dia sendiri shock mendengar Cyra punya hutang. Untuk apa??


"Ck, Cyra!" decak Pak Bayu terlihat kecewa.


"Kupikir kamu berhutang uang sebanyak itu karena sudah berunding dengan suamimu lebih dulu. Dan Papa kira kamu melakukan itu demi kebutuhan rumah tanggamu. Nyatanya kamu habiskan hanya untuk bersenang-senang dengan teman berandalmu itu."


"Kalau saya boleh tahu, berapa utang Cyra, Pa?" Ditya menyela.


"Dia berhutang pada Zizi sebanyak sepuluh juta. Kemarin dulu Zizi mendatangi Papa karena ingin meminta piutang itu pada Papa karena istrimu tidak sanggup mengembalikannya."


"Apaa?? Se-sepuluh jutaa??!" pekiknya kencang saking kagetnya.


"Apa itu benar, Ra?" tanyanya berusaha menekan rasa geram.


Wajahnya menahan malu dan yang teramat sangat.


Malu, karena sebagai suami dia tidak becus memberi nafkah istrinya sesuai kehidupan mewahnya. Dan marah karena Cyra berani melakukan itu dibelakangnya seakan dia tidak berarti dan berguna apa-apa.


"Cyra!"


Kali ini suara Ditya lebih keras.


"Iya! Aku memang berhutang pada Zizi sepuluh juta. Tapi aku melakukan semua itu karena ada alasannya," teriak Cyra kesal karena merasa dipojokkan.


Dia pikir disuruh pulang untuk apa, nyatanya hanya untuk mendapati kemarahan papa dan suaminya.


"Alasannya?!"


Ditya masih belum terima dengan ulah Cyra yang diam-diam berhutang dibelakangnya.


"Alasannya tentu saja karena aku butuh uang sementara kamu tidak becus jadi suami! Aku minta uang saku sama kamu saja selalu banyak alasan dan kena ceramah kamu tiap hari. Sampai bosan aku dengerinnya. Mana uang sakunya sedikit, lagi," ujar Cyra berapi-api.


Ditya yang emosinya sudah tersulut pun tidak bisa mengontrol diri lagi.


"Sedikit kamu bilang?! Setiap hari aku selalu memberikanmu uang tiga ratus ribu hanya untuk uang sakumu saja, belum termasuk paket data dan yang lainnya. Cuma kamu bilang?!"


Ditya bahkan sampai melupakan keberadaan papa mertua dan tempat dimana mereka saat ini. Emosinya benar-benar tidak bisa dibendung lagi setelah mendengar kalimat Cyra yang mengatainya tidak becus jadi suami.


"Bahkan uang tiga ratus ribu bisa aku belikan makanan untuk beberapa hari kedepan sedangkan kamu menghabiskannya dalam waktu sehari saja," lanjutnya dengan nada sedikit menurun.


Ditya baru tersadar mereka ada dirumah papa mertuanya.


" Tentu saja cuma! Papa saja dulu selalu memberiku satu juta tiap harinya, nah, kamu cuma tiga ratus ribu. Tentu saja kurang, lah! Kurang banyak malah!"


Kalimat Cyra kali ini langsung menjatuhkan harga dirinya kedasar jurang paling dalam.


Ditya sudah melupakan kenyataan bahwa sang istri adalah anak sultan yang semua hal bisa dia dapatkan. Uang satu juta sangat tidak berarti bagi gadis itu, apalagi yang cuma tiga ratus ribu??


"Apa itu benar Cyra?!" tanya Pak Bayu yang entah sudah sejak kapan berdiri didekat mereka.


"Iya, Pa! Ditya memberiku uang saku cuma tiga ratus ribu. Mana cukup, Pa?!" Cyra membela diri.


"Dan karena kurang kamu jadi nekat berhutang pada Zizi?"

__ADS_1


"Iya!"


"Dan karena alasan kurang itu juga kamu selalu menelpon Biyungmu secara diam-diam untuk meminta uang belanjanya?!!" imbuh Pak Bayu lagi.


"Eh! Da-darimana Papa tahu itu?"


Cyra mendongakkan wajahnya keatas karena posisinya yang duduk, sementara papanya berdiri.


"Jawab saja! Apa itu semua betul?!" bentak Pak Bayu.


"Iya, Pa!"


Plak!


Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dipipi mulus Cyra. Tentu saja pelakunya sang papa.


"Itu untuk kekurang ajaranmu yang berani diam-diam memeras Bi Inah dan berani berhutang dibelakang suamimu."


Plakk!!


Satu lagi tamparan dipipi yang tadi tidak terkena tamparan.


"Dan ini untuk kekurang ajaranmu telah berani menghina dan mengatai suamimu. Kalau dia tidak becus mengurusimu, dia tidak akan mati-matian banting tulang dan rela selalu kerja hingga larut malam. Dan uang yang kamu katakan CUMA itu, memang hanya segitu kemampuannya yang bisa dia nafkahkan padamu. Itupun harus dia bagi dengan kebutuhannya sendiri. Belum lagi untuk biaya kuliahnya. Kalau bukan karena mengurusimu, seharusnya Ditya sudah merampungkan skripsinya dari bulan lalu. Dan ini tertunda karena biaya skripsinya dia bagikan padamu."


Pak Bayu terdengar bergetar karena menahan marah. Bahkan, nafasnya pun terengah-engah.


"Da-darimana Papa tahu semua itu??"


Kali ini Ditya memberanikan diri bertanya.


"Kamu pikir? Kamu pikir Papa akan lepas tangan dengan kehidupan kalian?! Tidak! Papa selalu memantau kalian berdua. "


"Bahkan Papa yang sudah diam-diam membantumu disetiap cafe tempatmu bekerja mengadakan acara, karena Papalah yang memberikan amplop itu melalui managermu," batin Pak Bayu.


Pak Bayu beralih menatap putrinya yang kesakitan memegangi kedua pipinya.


"Papa juga tahu semua kehidupanmu diluar sekolah, Cyra. Jangan dikira Papa tidak tahu kamu bergaul dengan anak punk itu. Mau jadi apa kamu, Cyra?!"


Cyra hanya menunduk dalam. Dia lupa jika sang papa adalah seorang beruang yang bisa membayar siapa saja untuk mengawasi gerak-geriknya.


"Ditya, bawa istrimu pulang! Didik dia, ajari dia sampai benar-benar menjadi perempuan yang bisa menempatkan posisinya srbagai seorang istri. Jangan pernah bawa dia pulang kesini sebelum dia berubah," ujarnya dengan nada dingin.


"Baik, Pa! Kami pamit pulang sekarang!"


Ditya pun bangkit dari duduknya. Ditariknya tangan Cyra agar berdiri mengikutinya.


Cyra yang merasa ketakutan dengan sikap papanya, ditambah rasa sakit dikedua pipinya yang makin terasa, hanya mampu diam menurut.


Selama perjalanan pulang, keduanya hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.


Sesampainya dirumah, Ditya langsung menuju dapur mengambil sapu tangan handuk dan air es serta dibawanya kekamar Cyra.


"Sini, aku kompres dulu lukanya!"


Ditya menarik Cyra agar duduk ditepi ranjang.


"Biar aku sendiri saja! Kau keluarlah!"


Cyra mengambil saputangan dari tangan Ditya.


Gadis itu jadi pendiam sepulangnya dari rumah sang papa. Untung saja kakak dan kakak iparnya sedang tidak ada dirumah, jadi mereka tidak menyaksikan kejadian tadi.


"Ra! Mulai sejak kau dinikahkan denganku dua bulan lalu, kau sudah menjadi tanggung jawabku sekarang. Kau tidak perlu lagi meminta secara diam-diam pada Bibi. Kasihan! Kau bisa memintanya dengan baik-baik padaku. Jika itu untuk kebutuhanmu yang bermanfaat, aku akan usahakan meskipun harus menunggu waktu sampai aku ada."


Ditya berusaha bicara tanpa emosi.


"Dan kalau mau berhutang, beri tahu aku. Jangan sampai kejadiannya jadi seperti ini lagi."


Ditya memegangi pipi istrinya. Dia merasa kasihan dan bersalah. Gara-gara dia Cyra mendapat tamparan dari papa mertuanya, bahkan sampai dua kali.


"Maaf! Gara-gara aku kamu jadi begini. Maaf! Aku memang belum bisa memberimu kehidupan yang layak seperti yang sudah kau dapatkan dari keluargamu selama ini. Dan maaf! Karena aku sudah membawamu kedalam kehidupanku yang penuh dengan kemiskinan," cicit Ditya lirih.


Matanya tiba-tiba memerah menahan sesak didadanya.


"Tapi aku janji, aku akan berusaha lebih keras lagi agar semua kebutuhanmu tercukupi. Maaf, aku belum bisa membahagiakanmu."


Ditya pun beranjak meninggalkan Cyra sendiri didalam kamarnya. Dihapusnya air matanya yang perlahan menetes.


Kenapa dia harus menjalani kehidupan yang seperti ini, demi sebuah balas budi??!


Ditya pun masuk kekamarnya untuk mengganti pakaian kerjanya. Siang ini dia harus menggantikan temannya lagi yang ijin karena orangtuanya masuk rumah sakit dan harus menungguinya.


"Ra, aku berangkat kerja sekarang! Kalau mau makan siang, makanannya sudah aku siapkan dimeja makan, ya," pamitnya dari luar pintu kamar Cyra.


Ditya tidak ingin terlalu sering memasuki kamar Cyra yang menjadi tempat privacy-nya. Dia juga ingin membiarkan gadis itu sendiri merenungi kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2