Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Obrolan Panjang


__ADS_3

"Kenapa baru pulang?!"


Suara Ditya terdengar menggelegar dari arah ruang tamu, begitu Cyra membuka pintu rumah.


Cyra terlonjak kaget karenanya. Dipeganginya dadanya yang langsung berpacu kencang saking kagetnya.


"Eh, Kak! Belum tidur?!"


Cyra berusaha bersikap tenang, meskipun sebenarnya ada rasa takut dihatinya.


"Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa baru pulang?!" dengus Ditya kesal.


"Kau lihat jam berapa sekarang?!"


Ditunjuknya jam dinding bundar bergambar kodok warna hijau di ruang tamu.


"Sekolah mana yang muridnya pulang pukul sepuluh malam, hah?!"


"Kan, tadi pagi aku sudah bilang sama kamu kalau hari ini aku akan pulang sore karena harus mengerjakan tugas kelompok bareng Zizi."


Gadis itu berusaha mencari pembelaan.


"Tadi pagi kamu ijinnya pergi sampai sore. Kenapa sampai malam baru sampai rumah?! Memangnya berapa lama waktu tempuh perjalanan dari perpustakaan ke rumah sampai kamu baru tiba jam sepuluh malam??!" ujar Ditya tidak may kalah.


"Memangnya kamu pergi ke perpustakaan kota mana?!"


"Itu, anu, aku dan Zizi tadi mampir dulu kesuatu tempat," lirih Cyra.


"Tempat seperti apa yang membuat kalian lupa waktu? Memangnya kamu tidak bisa kasih kabar lewat ponsel kalau mau mampir ketempat lain lagi?"


Ditya bertanya masih dengan nada suara yang cukup tinggi.


"Iya, maaf! Aku salah tidak mengabarimu lagi tadi. Ponselku mati dan lupa bawa power bank. Tapi beneran, kok, aku perginya sama Zizi. Kalau nggak percaya, Kak Ditya bisa tanya langsung ke Zizi saat dia jemput aku ke sekolah besok."


"Hemmgh ...!"


Ditya menghembus napas kesal.


Namun, dibiarkannya juga istrinya pergi masuk kamar.


Sebenarnya Ditya hanya khawatir. Sebab, tadi pagi sang istri minta ijin akan pulang sore untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Zizi dengan pergi ke perpustakaan kota. Tapi, sampai lepas jam makan malam Cyra belum juga pulang.


Ponselnya tidak aktif saat tadi dia berusaha menelpon untuk mengetahui keberadaannya. Begitu juga dengan ponsel Zizi. Kedua gadis itu sama-sama tidak bisa dihubungi sampai Ditya merasa gusar sendiri.


Ditya bahkan sampai mondar-mandir di ruang tamu, sesekali melongok kearah jalan melalui jendela yang sengaja dibuka gordennya kalau-kalau mereka pulang.


Ditya jadi was-was. Jangan-jangan Cyra sudah membohonginya lagi seperti yang sudah-sudah yang dilakukannya selama ini.


Laki-laki itu takut jika sampai Cyra terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik.


***


Pagi harinya, Cyra sudah siap dengan seragam sekolahnya. Gadis itu sedang duduk di teras rumah menunggu Zizi menjemputnya.


"Belum berangkat juga?!"


Suara Ditya mengagetkannya yang tengah berselancar digawainya.


"Eh!"


Cyra terlonjak.


"Belum! Masih nunggu jemputan Zizi. Kakak mau kemana pagi-pagi sudah rapi?!"


Dipandanginya Ditya yang sudah rapi dengan kemeja panjang biru dongker yang digulung lengannya hingga ke siku.

__ADS_1


Celana hitam bahan dan sepatu fantofel yang kenakannya menambah ketampanan laki-laki itu. Sayangnya Cyra tidak menyadari akan hal itu.


"Hari ini aku ada sidang skripsi!" ujarnya sembari mengeluarkan vespanya dari dalam rumah.


Dipanasinya si Putih yang sudah beberapa hari ini dibiarkan saja tidur di ruang tamu.


"Habis dari kampus aku langsung ke cafe," lanjutnya.


"Memangnya kamu sudah sembuh? Luka Kak Ditya sudah nggak sakit lagi??"


Pagi ini Cyra tidak mengolesi luka Ditya lagi dengan salep karena laki-laki itu menolaknya saat dirinya hendak melakukan tugasnya selepas sarapan tadi.


"Tidak! Hanya tinggal sedikit saja perihnya."


"Oh, syukurlah!"


Cyra mengangguk lega.


" Jam berapa kamu pulang?"


"Kenapa?"


Ditya mengambil tas ranselnya yang tadi dia letakkan di meja teras di samping Cyra duduk.


"Nggak! Hanya ingin tau saja! Kalau misalnya nanti pulang malam, aku nggak perlu masak untuk makan malam," jawab Cyra menggeleng.


"Oh!"


Ditya sudah siap berangkat. Dia menawari Cyra untuk ikut berangkat dengannya.


"Mau bareng, nggak?!"


Cyra tampak berpikir mendapat tawaran tersebut.


"Emm, aku hubungi Zizi dulu sebentar! Kakak jangan berangkat dulu!"


"Aku ikut Kak Ditya aja!" putus Cyra setelah melakukan panggilan pada Zizi.


"Yu, udah! Buruan!!"


Cyra langsung nangkring diboncengan si Putih setelah mengunci pintu rumah dan menyimpannya ditempat biasa mereka mengambilnya nanti.


"Memangnya Zizi kenapa tidak bisa jemput?!"


Ditya mulai menjalankan vespanya membelah jalanan.


"Mobilnya mau dipakai papanya. Mobil papa Zizi masuk bengkel karena rem blong, katanya," jawab Cyra dari belakang tubuh Ditya.


Tangan kanan Cyra memeluk pinggang laki-laki itu agar tidak jatuh karena rupanya si Putih sedang semangat berlari setelah tiga hari berdiam diri dirumah.


Ditya sedikit menarik bibirnya keatas mendapati sang istri memeluk perutnya.


Biasanya gadis itu hanya mau berpegangan sisi bajunya saja.


"Terus, dia naik apa ke sekolah?!"


Ditya mengelus tangan istrinya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang stang vespa untuk mengendalikannya.


Cyra sempat menegang saat tangan laki-laki itu menyentuh tangannya. Namun, dekik berikutnya dia rileks kembali. Membiarkan tangannya tetap memeluk perut sang suami yang juga memegangi tangannya.


"Naik taksi online!"


"Oh!"


Untuk sejenak keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing!

__ADS_1


"Ra!" panggil Ditya kemudian.


"Ya?!"


"Aku minta maaf, ya!"


"Minta maaf untuk apa?" tanya Cyra heran.


"Semalam, aku udah bentak kamu!"


"Oh!"


"Aku cuma khawatir sama kamu! Takutnya kamu bohong lagi sama aku seperti yang sudah-sudah," ujarnya.


"Aku juga minta maaf karena semalam tidak ngabari Kak Ditya lagi!" ucap Cyra lirih.


"Kalau boleh tahu, semalam kalian kemana sehabis ngerjain tugas?!"


Ditya penasaran.


"Eh, itu, kami habis ketemu seseorang. Zizi berniat memberikan bantuan berupa baju pantas pakai dan sedikit makanan untuk orang-orang yang membutuhkan." jawab Cyra sedikit gagap.


Gadis itu kerkata jujur dengan niatan Zizi yang akan membantu orang, meski Cyra tidak jujur mengenai seseorang di Rumah Surga yang selama ini disembunyikan keberadaannya.


"Lain kali, kalau mau pergi kemanapun pamit dulu yang jelas biar aku tidak khawatir. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Bebanku untuk menjagamu sesuai permintaan papamu itu berat. Jadi, aku mohon kerja samanya!"


"Iya, maaf!!" cicit Cyra.


"Semalam papa kamu telpon!"


"Eh, tumben! Papa ngomong apa?!"


"Katanya kita sudah lama tidak berkunjung," ujar Ditya menghentikan laju vespanya.


Saat ini mereka sudah sampai di sekolah Cyra.


"Papa minta kita main kesana!"


Memang sudah lama sejak kejadian hutang Cyra pada Zizi, mereka belum pernah berkunjung lagi.


Sebenarnya Ditya sering membujuk Cyra, namun istrinya itu selalu menolak dengan berbagai alasan.


"Kapan kamu siap?!"


"Entahlah!" jawab Cyra malas.


Semenjak menikah dengan Ditya dan keluar dari rumah, Cyra seolah memutus hubungan dengan keluarganya.


Dia pasrahkan hidupnya sepenuhnya pada Ditya, walaupun diantara mereka juga sering terjadi cek-cok dan perselisihan.


"Ya, udah! Jangan terlalu dipikirkan!" putus Ditya berusaha bijak.


Dia tahu istri kecilnya masih kecewa dengan keputusan mertuanya.


"Jangan pulang malam lagi, ya!"


Cyra hanya mengangguk pelan.


"Masuk, gih! Sudah bel, tuh!"


Ditya pun membiarkan Cyra berlari masuk kelas setelah berhasil mengacak anak rambutnya.


Laki-laki itu tersenyum sendiri mengingat obrolannya bersama Cyra barusan. Obrolan yang mereka lakukan disepanjang jalan itu merupakan obrolan atau percakapan terpanjang selama pernikahan mereka selama kurang lebih empat bulan ini.


Dalam hati laki-laki itu berharap, semoga kehidupan rumah tangganya bersama Cyra akan lebih baik lagi kedepannya.

__ADS_1


Entah sejak kapan, namun Ditya merasakan kenyamanan saat berada didekat gadis barbarnya itu.


Ditya pun menghidupkan dan menjalankan kembali vespanya untuk melanjutkan perjalanan menuju kampus dengan hati deg-degan karena sebentar lagi akan melakukan sidang skripsinya yang sempat tertunda.


__ADS_2