Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Hutang


__ADS_3

Seharian ini baik Cyra maupun Ditya sama-sama sibuk dengan aktifitas mereka.


Cyra sibuk dengan kepanitiaannya dalam rangka memperingati hari jadi kemerdekaan Republik Indonesia di sekolahnya.


Sementara itu, Ditya sedang sibuk mengurus segala sesuatu dicafe tempatnya bekerja karena acara ulang tahun berdirinya cafe, baru akan dimulai pukul delapan malam nanti.


Namun, meskipun begitu, Ditya sudah harus berangkat tadi pagi bersama karyawan yang lain.


Drrt! Drrrt!!


Baik Cyra maupun Ditya mendapatkan notifikasi pesan diponsel masing-masing ditempat yang berbeda.


Cyra yang ponselnya diubah menjadi mode silent tidak mengetahui adanya notifikasi pesan yang masuk.


Sementara Ditya yang mengetahui ada pesan via aplikasi WA, langsung membacanya.


Keningnya tampak berkerut, kemudian membalas pesan itu.


"Aku tidak bisa datang, Kak! Cafeku bekerja sedang merayakan ulang tahun. Dan aku dipercaya sebagai ketua panitia acaranya. Bukankah semalam sudah kuberitahu?! Maaf!, aku tidak bisa datang!"


Lima menit tidak ada balasan chat, Ditya memasukkan ponselnya lagi ke kantong celana hitamnya.


"Oh, ya, aku lupa! Aku harus mengingatkan si kucing barbar itu agar jangan sampai lupa," monolognya.


Ditya mengambil kembali ponselnya dan mendial nomor seseorang.


Dari deringan pertama hingga ketiga belum juga ada tanggapan.


Akhirnya dia menulis pesan dan mengirimkannya pada orang itu.


"Dit, lo dipanggil Pak Manager keruangannya sekarang," teriak Ucil marucil dari arah kasir.


"Ok!"


Ditya membentuk huruf O dengan jempol dan telunjuknya.

__ADS_1


Ditya pun segera keruangan sang atasan tanpa melihat kembali keponselnya jika ternyata pesan yang dikirimkannya belum juga dibaca.


***


"Kau yakin sudah mengabari mereka untuk datang kerumah?"


Pak Bayu Purnama sedang duduk diruang tengah bersama putra dan menantu serta cucu laki-lakinya yang sibuk bermain robot.


"Sudah, kok, Pa! Tadi Fian sudah menelpon mereka. Aku juga sudah mengirimi mereka pesan. Hanya Ditya saja yang membalas pesanku. Tapi, dia tidak bisa datang karena dia jadi ketua panitia ulang tahun cafe tempatnya kerja. Sedangkan Cyra, jangankan membalas. Membaca pesanku saja tidak," sungut Alfian.


"Hmm!"


Pak Bayu menghela napas berat.


"Ya, sudah! Nanti kalau mereka ada yang datang, panggil Papa. Kalau sampai besok belum juga datang, kamu jemput mereka agar pulang," perintahnya ketus lalu bangkit dari duduknya.


Dilangkahkannya kakinya keruang kerja dan menghilang didalam sana.


"Baik, Pa!"


"Ini sebenarnya ada apa, sih, Sayang?! Kenapa tiba-tiba saja Papa meminta Cyra dan Ditya datang kerumah? Terus, raut muka Papa kayak yang menahan emosi gitu," tanya Kinanthi sambil mengawasi gerak putranya.


"Hmm!!"


Alfian menghirup udara dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Fiuuuhh!!"


"Sayang, ada apa?"


Kinanthi makin penasaran karena suaminya justru memejamkan matanya sambil bersandar pada sofa yang sedang didudukinya.


"Sayang!"


Kinanthi mengelus lengan suaminya pelan.

__ADS_1


"Cyra, Sayang ..."


"Cyra kenapa, sih?!"


" Papa bilang, Cyra berhutang pada Zizi, Sayang!"


Alfian menoleh pada Kinanthi. Disandarkannya kepalanya dipundak istrinya. Kepalanya berdenyut pusing.


Hari ini dikantor Alfian selalu kena kemarahan sang papa. Padahal dia tidak tahu apa-apa.


Alfian sekarang memang bekerja dikantor menjadi wakil Pak Bayu. Cafe yang dulu dikelolanya kini dipasrahkan pada adik laki-laki Kinanthi yang bernana Zainal, atau lebih senang dipanggil Zain. Lebih bagus dan lebih gaul katanya.


"Hutang? Berapa banyak?"


"Sepuluh juta!" jawab Fian merentangkan kesepuluh jarinya.


"Untuk apa uang sepuluh juta?! Lalu, kamu tahu darimana kalau adik kamu itu berhutang sama Zizi?!"


"Zizi sendiri yang menghubungi Papa dan memintanya untuk ketemuan dicafe kita. Aku tidak tahu apa saja yang dibicarakan mereka. Tapi, selepas Zizi pergi, Papa terlihat sangat marah sampai tangannya terkepal."


"Pasti Cyra meminjam uang pada Zizi untuk kebutuhannya. Kenapa tidak kamu lunasi saja hutangnya?! Kasihan Cyra. Pasti karena Ditya tidak mampu menafkahinya, makanya Cyra sampai berani berhutang."


Kinanthi mengira-ira.


"Sorry, nih, ya, Sayang! Bukannya mau menghina atau apa. Secara adik kamu kan selama ini hidup mewah dengan gelimang harta, terus tiba-tiba saja dia harus tinggal dan hidup bersama suami yang ..., yah, kamu tahu sendiri lah kondisinya. Pasti tertekanlah Cyra. Mau minta sama kita mungkin dia malu ngomongnya. Ya, nggak?!"


"Entahlah! Aku juga kurang tahu, makanya semalam aku diminta Papa untuk menghubungi Ditya dan menyuruh mereka pulang.


Kalau sekedar uang sepuluh juta, pasti buat Papa itu hal yang kecil. Pasti Papa akan segera melunasinya. Yang jadi pertanyaan, kenapa raut mukanya terlihat menahan amarah?! Atau, ada sesuatu yang aku tidak ketahui?!"


Alfian menghadap istrinya meminta jawaban.


"Ya mana aku tahu? Kan, yang dikasih tahu sama Papa itu kamu, Sayang, bukan aku."


Kinanthi mengangkat bahunya tanda tak tahu.

__ADS_1


__ADS_2