Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Shock


__ADS_3

Pov Cyra


Aku masih belum bisa memejamkan mata. Padahal, jam diatas nakas sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.


Aku masih shock mendengar kemarahan dan penuturan Ditya tadi. Ternyata dia sudah mengetahui kegiatanku jika selama seminggu ini bekerja di tempat karaoke atas rekomendasi dari Nita. Entah mendapat laporan atau pun tahu dari siapa karena dia tidak mengatakannya.


Lalu, bagaimana nasib pekerjaanku jika Ditya sudah mengetahuinya secepat ini?! Bagaimana juga dengan hutangku pada Bang Seno?!


Padahal, aku sedang sangat membutuhkan uang. Melalui pekerjaan sebagai penyanyi karaoke, aku berharap bisa dengan cepat mendapatkan uang.


Karena selain mendapat gaji pokok ditiap bulannya, aku juga mendapatkan tip dari beberapa pelanggan yang menyukai suaraku.


Memang, sih, betul kata Ditya, ada beberapa pelanggan yang sedikit kurang ajar padaku karena sudah berani mencolek-colek pipiku. Namun, semua itu masih bisa kumaklumi. Demi apa?!


Tentu saja demi uang yang akhir-akhir ini harus kukeluarkan cukup besar.


Aku tidak mungkin memintanya lebih dari Ditya. Dia sudah berusaha keras memenuhi semua permintaanku selama ini saja aku sudah sangat berterima kasih.


Aku tahu, sejak dia diminta papa untuk menikahiku, Ditya bekerja dengan sangat keras. Bahkan dia rela bekerja lembur menggantikan teman-temannya yang mempunyai kepentingan sehingga tidak dapat bekerja, sampai mengabaikan kesehatannya sendiri.

__ADS_1


Kulihat wajahnya yang semakin tirus dan tubuhnya semakin kurus akibat kurang tidur dan istirahat. Berbanding terbalik saat sebelum dia dinikahkan denganku.


Dulu dia terlihat berisi dan atletis.


Ingin sekali rasanya aku berpisah dengannya secepatnya. Selain karena aku tidak punya rasa dengannya, aku juga ingin sekali segera membebaskannya dari beban karena sudah menghidupiku selama tiga bulan ini.


Aku tahu, Ditya sangat berat melakukan hal ini. Menikahiku hanya karena merasa hutang budi pada papa yang sudah sering membantunya. Meskipun aku tahu, dia sangat terpaksa menerimaku yang banyak sekali kekurangannya ini.


Bahkan, jika dihitung, keburukanku jauh lebih banyak daripada kebaikan yang kulakukan. Dan aku sadar akan hal itu.


Tapi mau sampai kapan hal ini berakhir?!


Aku sendiri tidak bisa apa-apa tanpa adanya Ditya.


Huhh!!


Kepalaku makin pusing saja.


Aku bangun dari rebahan dan

__ADS_1


Kulangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil minum. Kuududukkan diriku di kursi makan dan kutenggak habis air putih satu gelas dengan harapan bisa menenangkan hati.


Bukannya bertambah tenang, aku malah semakin gelisah saja.


Sebenarnya, yang membuatku lebih shock lagi adalah tentang kenyataan jika ternyata selama ini secara diam-diam papa mengerahkan mata-mata untuk menguntit dan mengawasiku dan juga Ditya.


Pantas saja papa tahu jika selama ini aku sering meminta uang jatah belanja Bi Inah, yang lebih suka kupanggil Biyung itu. Kupikir Biyung yang sudah menceritakannya pada papa sehingga papa sampai tahu hal itu.


Ah! Jangan-jangan, papa juga tahu kemana saja kegiatan yang lain yang aku lakukan akhir-akhir ini?! Bukankah kemarin dulu waktu aku dan Ditya datang kerumah, papa bilang jika papa tahu kegiatanku bersama anak-anak punk?! Gawat! Benar-benar gawat jika hal itu sampai diketahui oleh mata-mata papa dan melaporkannya.


Aku harus bagaimana?!


Aku beranjak kembali menuju kamar dan merebahkan diri dikasur sempitku.


Kubolak-balikkan tubuh berusaha mencari posisi tidur yang nyaman agar bisa segera tidur dengan lelap, namun gagal.


Pikiranku masih saja berkelana pada segala kemungkinan yang bakal terjadi jika sampai papa mengetahui kegiatanku yang satu itu. Kegiatan yang tidak diketahui oleh orang-orang terdekatku. Tidak papa, tidak kakak dan kakak ipar. Tidak juga Zizi sahabatku, apalagi Ditya yang termasuk anggota keluarga baru.


Hanya aku dan orang-orang tertentu yang memang sengaja aku libatkan, namun sengaja aku sembunyikan keberadaan dan identitasnya dari khalayak ramai.

__ADS_1


"Aku harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang," monologku pelan.


Lambat laun mataku mulai kabur dan akhirnya terpejam saat jam beker sudah menunjukkan angka setengah lima.


__ADS_2