
"Ra!"
Ditya memanggil istrinya yang sedang sibuk mengganti sprei milik Ditya yang tadi juga terkena muntahan.
Saat ini laki-laki itu sedang duduk di kursi belajarnya yang merangkap sebagai kursi rias.
Ditya manut-manut saja kala Cyra menyuruhnya bangun dari ranjang karena akan diganti spreinya. Bukannya takut, tapi Ditya sedang tidak punya banyak energi untuk debat. Apalagi, setelah tadi dia muntahkan semua isi perutnya dipangkuan sang istri.
"Maafin aku, Ra! Aku tidak sengaja, beneran! Tadi perutku tiba-tiba saja mual dan tidak bisa menahannya lagi," ucapnya penuh penyesalan.
"Udah!"
Cyra selesai mengganti alas kasur dengan yang baru.
"Tiduran lagi, gih!" perintahnya agar Ditya kembali rebahan.
"Ra, jangan marah, dong!" rengek Ditya yang sudah kembali berbaring dikasur.
"Istirahatlah! Aku harus mandi lagi biar nggak bau muntahan!"
Cyra langsung keluar kamar suaminya tanpa mempedulikan panggilan laki-laki itu.
Hatinya masih sangat dongkol.
Ya, dongkol karena terkena muntahan dan terpaksa harus membersihkannya sendiri, dongkol karena Ditya tidak mau berobat, juga dongkol kenapa harus mandi lagi?! Padahal, baru satu jam yang lalu dia mandi sore.
Brrr!!
Cyra berlari ke kamarnya dengan hanya memakai handuk karena merasa kedinginan sehabis mandi kedua kalinya.
"Ck! Ada apalagi, sih, tuh manusia keras kepala?! Nggak tahu apa, aku lagi kedinginan begini?!"
Cyra berdecih sebal saat mendengar Ditya terus saja memanggilnya. Padahal, dia baru saja mencari posisi ternyamannya mencari kehangatan dibawah selimut yang membungkus tubuhnya agar tidak kedinginan.
"Ada apa lagi?"
Cyra melongokkan kepalanya kedalam kamar sang suami.
"Boleh minta tolong?!" ucap Ditya ragu manakala dilihatnya wajah sang istri dalam mode jutek.
"Hmm!" gumam Cyra.
"Aku ingin minum air hangat, tapi kepalaku sangat pusing. Bisa minta tolong ambilkan?!"
"Hmm, ya!"
Lima menit kemudian Cyra masuk dengan segelas teh hangat dan juga segelas air tawar hangat.
"Terima kasih!"
Ditya menerima air putih hangatnya lalu meminumnya hingga setengah.
__ADS_1
"Mau tehnya?!"
Cyra menyodorkan gelas teh hangatnya di depan Ditya.
"Tidak!" tolaknya lirih.
"Takut mual lagi, nanti merepotkanmu lagi."
"Ini teh jahe, Kak! selain bisa menghangatkan badan, teh jahe bisa juga mengurangi rasa mual. Cobalah!"
Cyra menyodorkan gelasnya lebih dekat lagi kemulut Ditya.
Dengan ragu Ditya meminum teh jahe milik Cyra.
"Bagaimana, enak, kan? Nggak bikin mual, kan?!"
Ditya mengangguk lalu meminum lagi teh milik sang istri.
"Ck! Katanya tadi tidak mau, tapi sekarang tehnya justru dihabiskan sendiri. Dasar PPKM!" cebik Cyra sambil meletakkan gelas kosong bekas teh.
"Apa itu PPKM?!" tanya Ditya tidak maksud.
"Pura-Pura Kagak Mau!!" sahut Cyra santai.
"Hehe ...!" cengir Ditya.
Ada-ada saja istrinya membuat istilah.
"Hmm!!"
Cyra hanya bergumam.
Gadis itu hendak keluar kamar lagi, tapi segera dia cegah.
"Eh, mau kemana?!"
"Tidur, dingin! Gara-gara kamu muntahin aku, aku harus mandi dua kali sore ini. Mana diluar hujan, tambah cuacanya makin dingin."
"Jangan pergi, Ra! Tidur disini saja! Biar nanti aku butuh sesuatu, aku gampang minta tolongnya."
"Tapi ...,"
"Sini! Tempat tidurnya masih muat untuk berdua, kok."
"Baiklah!"
Dengan ragu Cyra pun melangkah menuju sisi ranjang yang langsung mepet ketembok.
Gadis itu langsung menarik bed cover milik sang suami lalu segera membungkus dirinya dengan nyaman.
"Eh!"
__ADS_1
Cyra terlonjak saat dirasanya Ditya ikut masuk kedalam bed cover dan merapatkan tubuh dengan melingkarkan tangan kanan pada pinggangnya.
"Ka-Kak Ditya mau ngapain?!" tanyanya gugup.
Seumur pernikahannya, baru pertama kali mereka berada dalam posisi sedekat dan sein*im itu.
"Aku juga merasa dingin. Kamu benar! Udara semakin malam semakin dingin. Ditambah lagi hujan bertambah lebat."
"Ta-tapi, kenapa harus seperti ini?! ucap Cyra lirih.
Degup jantungnya tiba-tiba berdentum tidak karuan.
"Biar saling menghangatkan. Lagipula, ini selimutku. Aku juga berhak memakainya," ujar Ditya datar.
"Kalau begitu, aku tidur dikamarku saja."
Baru saja Cyra hendak bangun, tubuhnya ditarik kencang oleh Ditya sehingga membentur dada bidang laki-laki itu.
"Sudah, tidur saja!"
Ditya kembali melingkarkan lengannya pada tubuh mungil istrinya.
"Tapi, Kak," cicit Cyra.
"Tidur, atau aku akan memaksa meminta hakku malam ini juga!"
Diancam seperti itu, Cyra langsung terdiam kaku.
Gadis itu sadar betul dengan kata-kata suaminya. Demi keamanannya sendiri, Cyra pun berbalik memunggugi Ditya.
Tapi, hal itu justru menjadi kesempatan emas bagi Ditya sebab, dengan posisi seperti itu dia justru bisa memeluk sang istri semakin erat.
"Jangan bergerak! Kau bisa membangunkan ular kobra yang sedang tidur. Kalau kau sampai membangunkannya, siap-siap saja terkena semburan bisa mematikannya."
"Ih, Kak Ditya ngomong apaan, sih?! Nggak lucu, tahu?!"
"Aku serius, Istriku Sayang! Tidurlah! Atau kau mau mencobanya?!"
"Enggakk!!" teriak Cyra cepat.
"Hiii!!"
Cyra bergidik ngeri membayangkan si ular kobra mencari mangsa.
"Makanya tidur disini dan jangan banyak gerak! Kepalaku masih pusing. Demamku juga belum begitu normal. Tetaplah disini kalau-kalau aku perlu sesuatu!"
Jadilah malam ini keduanya untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka tidur berdua dalam satu kamar, dalam satu ranjang, bahkan dalam satu selimut yang sama.
Entah karena selimutnya, entah karena pelukan Ditya. Yang jelas, malam ini Cyra merasa sangat nyaman dalam tidurnya.
Dan untuk pertama kalinya juga Cyra merasakan tidur yang sangat pulas semenjak meninggalkan ranjang queen size kesayangannya di rumah besar.
__ADS_1
***