Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Si Putih Minta Jajan


__ADS_3

" Hufh ...!"


Ditya menghembuskan napas lelah.


Keringat bercucuran membasahi wajahnya yang terkena sengatan matahari. Disekanya keringat diwajahnya menggunakan lengan kemeja birunya.


Kembali dituntunnya si Putih, vespa kesayangannya meski terkadang dia merajuk, bahkan sering mogok kurang jajan. Dituntunnya vespanya ke bengkel langganannya. Langganan kasbon, tepatnya.


Seperti halnya hari ini. Selepas kuliah, Ditya bermaksud langsung menuju ke cafe tempatnya bekerja.


Baru setengah perjalanan, si Putih mulai merajuk dan pada akhirnya mogok tidak mau berjalan.


Sudah distarter berkali-kali tetap saja tidak mau berjalan, apalagi berlari secepat kilat.


Seharusnya si Putih bahagia karena baru tadi pagi dikasih minum cairan warna biru bertuliskan pertam*x sehabis mengantar Cyra ke sekolah.


Tapi entah kenapa, dia tetap saja mogok.


"Kenapa lagi dengan siPut?!" tanya Bang Firman, pemilik bengkel, melihat Ditya menuntun vespanya kebengkelnya.


Itu sudah ketiga kalinya si Putih datang ke bengkelnya dalam dua bulan ini.


"Tahu, nih, Bang! Padahal baru juga dikasih minum tadi pagi, masih aja ngambek dia," jawab Ditya memarkir si Putih di samping motor yang sedang diperbaiki Bang Firman.


"Mana musti buru-buru ke cafe, lagi," lanjutnya.


"Kamu, sih terlalu manjain dia. Jalannya kayak siput begitu, masih aja kamu pertahanin. Mending kamu buang kehabitat aja, deh, Dit. Hehe ...," ledek Bang Firman terkekeh.


"Ah, kamu, Bang. Kamu, kan tahu si Putih itu banyak perjuangan dan kenangannya sama aku. Berkat dia juga aku nggak naik onthel lagi."

__ADS_1


Ditya jadi teringat saat-saat mendapatkan si Putih.


Dia yang dulunya selalu menggunakan sepeda tuanya kemanapun, akhirnya melirik vespa milik rekan kerjanya yang akan dijual karena rekannya itu sudah membeli motor baru.


Merasa harganya murah, mesin oke dan bodi masih mulus, Ditya pun kepincut. Dengan sedikit nekat dia membeli vespa tersebut yang waktu itu diharha tiga juta setengah. Padahal uang yang dia gunakan untuk membeli vespa tersebut diniatkan untuk biaya semesteran yang akan dilaksanakan tiga hari lagi.


Dengan yakin bisa mengganti uang tersebut, dibayarlah vespa itu.


Tiga hari kemudian, semesteran pun dimulai. Dirinya dipanggil bagian administrasi karena belum melunasi semesteran.


Dengan jujur Ditya memberi alasan. Karena merasa kasihan, petugas yang memanggilnya itu pun memberinya keringanan sampai ujian berakhir baru melunasinya.


Selama seminggu itu, Ditya harus mampu menjalankan ujian dan bekerja demi melunasi bisya semesteran. Bahkan, dia rela begadang bekerja sambilan sebagai kuli panggul dipasar pagi yang mulai buka pukul satu dini hari.


Berkat kegigihannya, Ditya akhirnya bisa melunasi biaya ujian tepat waktu.


"Ini, sih harus ganti accu, Bro! Mau diganti yang kering atau yang basah? Kalau yang kering agak mahalan dikit."


"Hah? Harus banget, gitu, Bang ganti accu-nya?!" tanya Ditya kaget.


'Uang darimana, coba? Uang dua ratus ribu cadangannya, kan sudah diambil Cyra tadi. Haduuuh ...!' batin Ditya sesak.


"Ya, kalau mau si Put nggak ngambek, ya itu jajannya. Kamu tenang aja. Nggak dibayar sekarang juga nggak apa-apa, kok. Kayak sama siapa aja kamu."


Bang Firman seakan mengerti kondisi pelanggannya itu.


"Tapi, Bang, yang kemarin dulu aja masih tinggal separoh belum dilunasin."


Ditya ingat kalau tanggungannya pada Bang Firman saja dua bulan lalu belum bisa dia lunasi. Janjinya bulan ini mau dia bayar. Jika harus ditambah dengan yang sekarang, itu artinya tanggungannya akan bertambah lagi.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirin."


Belum juga menjawab Bang Firman, telpin genggamnya berbunyi.


"Ya, hallo!"


Ditya sedikit menjauh dari bengkel guna menjawab telpon.


"Iya, Pak! Baik! Tunggu sekitar setengah jam lagi saya kesana. Baik, Pak!"


Bip.


Ditya mematikan telpin dan memasukkannya kembali ponsel ke saku celana jeans-nya.


"Ini aku udah ganti yang baru, aku pilihin yang agak mahal dikit biar awet."


Bang Firman baru saja selesai memasang spare part yang diinginkan si Putih tepat Ditya masuk ke bengkel.


"Aduuh, maaf banget, nih, Bang! Nyusahin Abang terus akunya. Jadi nggak enak lagi sama Abang," ujar Ditya sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


"Santai wae, lah. Koyo karo sopooo ... . Kalau kata anak jaman sekarang, sih santuy aja, Bro!"


"Hemm ...!"


Ditya tersenyum mendengar candaan Bang Firman dengan logat jawanya. Tapi anehnya dia lebih suka dipanggil Bang, daripada Mas.


"Ya, udah sana berangkat! Ntar telat lagi kamunya," suruh Bang Firman mengingatkan.


"Oh, iya! Untung Bang Firman ngingetin. Ya, udah, Bang. Aku pergi dulu. Aku doain rejeki Abang makin Lancar. Doain juga aku, ya, Bang," pamit Ditya akhirnya.

__ADS_1


Ditya pun langsung meluncur ke cafe dengan kekuatan maksimal si Putih yang baru dikasbon jajan lagi.


Tadi Pak Managernya menelpon supaya segera datang ke cafe, sebab cafe sudah dibooking seseorang untuk acara ulang tahun. Ditya diminta untuk mendekor ruangan seperti biasanya saat ada acara-acara mendadak atau acara khusus tertentu.


__ADS_2