Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Kejujuran Cyra


__ADS_3

Zizi sudah siap untuk pulang. Gadis itu tengah menunggu Cyra yang pamit pergi ke toilet lebih dulu.


"Udah belum, Ra?! Lama amat pip*snya," tanya Zizi tak sabar.


Zizi memang sudah tidak sabar lagi ingin segera mendengar penjelasan dari sahabatnya itu mengenai kabar dan video yang dia dapat dari Mona tadi pagi.


"Kenapa memangnya?!"


Cyra keluar dari kamar kecil menuju washtafel untuk mencuci tangan dengan handwash.


"Ck!"


Zizi berdecak.


"Aku sudah tidak sabar lagi ingin dengar penjelasan dari kamu secara langsung mengenai video dari Mona."


"Sabar! Aku lapar banget sekarang. Makan dulu, yuk!"


Cyra menarik Zizi menuju kantin.


"Eh, kita mau ngapain kesini?!" protes Zizi.


"Ya mau makanlah! Kan, tadi aku bilang lapar."


"Nggak! Nggak!! Kita cari tempat lain aja," tolak Zizi sembari melepas genggaman tangan Cyra.


"Kenapa emangnya kalau disini?!"


"Kamu mau bikin aku pingsan penasaran gara-gara kamu nggak cerita-cerita ke aku?!" cebik Zizi kesal.


"Kamu mau aku pingsan juga gegara kelaparan?!"


Tadi Cyra memang tidak jadi sarapan dikantin karena keburu bel masuk berbunyi. Terus, waktu istirahat dia tidak bisa keluar kelas karena kena hukuman dari guru matematikanya sebab lupa mengerjakan PR yang diberikan kemarin sewaktu Cyra tidak masuk sekolah.


"Ok! Ok! Kita beli makanannya dibungkus aja, tapi makannya ditempat kamu, gimana?!" usul Zizi.


"Iya, iya!"


Akhirnya Cyra mengalah. Mereka pun akhirnya batal makan dikantin sekolah. Keduanya memutuskan langsung pulang kerumah Cyra setelah membeli nasi padang langganan Zizi, setelah mereka berdebat lebih dulu soal makanan yang akan mereka beli.


"Ini tempat tinggalmu sekarang, Ra?!" tanya Zizi begitu mereka turun dsri mobil Zizi.


Zizi memandang berkeliling rumah kontrakan milik Cyra. Meskipun lumayan bersih dan rapi, namun, tetap saja rumahnya sangat kecil jika dibandingkan dengan kediaman Cyra sebelumnya yang bisa dikatakan bak istana.


"Iya, kenapa?!"


"Ah, nggak! Cuma, ..."


"Kecil?!" tebak Cyra.


Zizi mengangguk ragu, takut menyinggung sahabatnya.

__ADS_1


"Yah, beginilah kehidupanku sekarang, Zi!"


Cyra mengambil sesuatu di bawah pot bunga bugenvil yang sengaja diletakkan disudut teras dekat pintu. Dan sesuatu itu ternyata sebuah kunci rumah.


"Masuk, yuk!" ajak Cyra setelah membuka kunci pintu.


Zizi pun masuk dengan pelan. Lagi-lagi ditatapnya isi dalam rumah. Dilihatnya ruang tamu yang hanya berisi satu sofa panjang, satu sofa single tanpa sandaran dan satu meja kaca ditengahnya. Sebuah aquarium kecil berada dipojok, diantara kedua sofa.


Masuk kedalam lagi terdapat dua kamar tidur berukuran tiga setengah meter saling berjejer, ruang makan yang menyatu dengan dapur, serta satu kamar mandi kecil dan tempat cuci pakaian yang juga kecil.


"Duduk dulu, Zi! Aku ganti baju dulu, ya?!"


Cyra masuk ke salah satu kamar dan menghilang dibalik pintu.


Sementara Zizi meletakkan bungkusan nasi padang di atas meja makan. Diberanikannya dirinya masuk dapur dan mengambil peralatan makan dan juga mengambil air minum yang ada di galon.


"Eh, Ra! Maaf, ya, aku lancang masuk dapur kamu."


Zizi mengangkat gelas berisi minum serta dua buah piring kosong dan juga sendok pada Cyra.


Gadis itu baru saja keluar kamar dengan mengenakan kaos oblong dan hot pant yang terlihat nyaman.


"Nggak apa-apa! Terima kasih kamu udah nyiapin semuanya." ujar Cyra tersenyum.


"Sama-sama, Ra! Ya, udah, yuk makan!"


Zizi menarik kursi dan makan nasi padang bagiannya sendiri. Begitu pun dengan Cyra. Keduanya makan dalam diam dan hikmat, apalagi rasa lapar juga membuat rasa makanan menjadi tambah nikmat.


"Sekarang kamu ceritakan semuanya padaku, Ra! Semuanya!"


" Hemm ...!"


Cyra mengambil napas dalam sebelum memulai ceritanya.


"Kamu ingat, nggak kejadian saat aku dan Andin dulu berantem ditaman dekat koridor sekolah sekitar dua bulan lebih yang lalu?!


"Ya, kenapa?!" Zizi menanggapi.


"Nah, sejak kejadian itu aku dapat SP terakhir dari sekolah. Papa sengaja mencabut semua fasilitas yang ada padaku. Semuanya, Zi! Tak terkecuali kartu ATM. Dan parahnya lagi, Papa memberikan aku sebuah pilihan yang sulit aku ambil yang mau nggak mau aku harus mau melakukannya. Dan ... kamu tahu apa pilihan itu?!"


" Pilihan apa?" tanya Zizi masih setia mendengarkan.


"Menikah!" jawab Cyra singkat.


Namun, meski singkat tetap mampu membuat Zizi yang sedikit mengantuk karena kekenyangan itu terlonjak kaget.


Gadis itu bahkan sampai terduduk saking kagetnya. Ditatapnya Cyra dengan pandangan menyelidik.


"Me-apa? Menikah?!" tanya gadis itu tak percaya.


"Ya!" ujar Cyra.

__ADS_1


"ME-NI-KAH?!"


Zizi sengaja menekankan kata itu karena lagi-lagi dia tidak percaya. Bahkan, matanya sampai melotot saking kagetnya.


"Ya, menikah! Aku harus menikah dengan laki-laki pilihan Papa. Laki-laki yatim piatu yang sangat sederhana, yaitu laki-laki yang pernah Papa tolong dulu hingga beberapa kali. Dan laki-laki itu harus membalas budi dengan menikahiku," terang Cyra sedikit menunduk.


Ada raut kesedihan diwajahnya.


"A-apa itu berarti, cowok yang ada di video Mona adalah ..." Zizi menggantungkan kalimatnya.


"Ya, kau benar! cowok yang ada divideo yang kamu dapatkan dari Mona itu adalah Ditya, laki-laki yang dijodohkan denganku. Sejak kami menikah, dia tidak mau tinggal dirumah Papa, jadi, mau nggak mau aku yang terpaksa harus mengikutinya, gaya hidupnya."


"Sejak kapan kalian menikah?! Kenapa aku tidak dikasih tahu?! Kamu jahat banget, sih, Ra!"


Zizi tampak kecewa.


"Maaf, Zi! Pernikahan ini berlangsung secara sederhana dan tertutup. Hanya keluarga inti dan satu sahabat Ditya. Lagipula, kami menikah secara siri agar pihak sekolah tidak mengetahuinya."


"Lalu, bagaimana kamu bisa tinggal disini bersamanya tanpa ada yang curiga, tepatnya pemilik kontrakan ini?!"


"Kami sengaja mengaku diri sebagai saudara sepupu. Makanya tidur kami juga terpisah kamar, kan?! Selain untuk menepis kecurigaan orang-orang, juga karena kami tidak saling mencintai. Kami lakukan ini karena terpaksa. Dia terpaksa menikahiku karena merasa utang budi dan aku terpaksa menikah dengannya agar Papa tidak mengirimku ke kampung, tempat tinggal Nenek dari pihak Mama berada."


"Oh!" Zizi menutup mulutnya.


Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika Om Bayu, papa Cyra, adalah orang yang kejam. Hanya karena putrinya berbuat badung untuk mencari perhatiannya, orang tua itu sampai tega menyuruh anak perempuannya menikah dengan laki-laki pilihannya yang terikat hutang budi, laki-laki yang tidak Cyra cintai dan mencintai Cyra.


Seandainya saja Om Bayu tahu betapa sedihnya anak gsdisnya selama ini karena diacuhkan oleh keluarganya karena dianggap penyebab kematian sang mama, pastilah Om Bayu akan menyesal.


Selama ini Cyra hanya dekat dengan Bi Inah, orang yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sehingga dipanggilnya Biyung.


Bahkan, kakak dan kakak iparnya pun hanya bertegur sapa sekedarnya saja. Mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


"Kau tahu, kan, Zi, bagaimana hidupku dulu?! Meski kurang perhatian dan kasih sayang dari Papa dan Kak Fian, tapi aku masih bisa menikmati kemewahan. Dengan uang banyak yang mereka berikan padaku, aku bisa mencari kesenangan dan kebahagiaanku sendiri diluar sana. Tapi sekarang?! Hanya karena kelakuanku yang badung, Papa sampai menyerahkanku pada laki-laki pilihannya untuk hidup dalam kesederhanaan. Bahkan kasih sayang yang selama ini kurang kudapatkan tidak ada lagi," keluh Cyra sedih.


"Kamu yang sabar, ya, Ra!"


Zizi memeluk Cyra yang terlihat menitikkan air matanya.


"Kamu tidak sendiri, Ra! Ada aku disini. Ceritakan saja semua kesulitanmu padaku, ok?! Asal aku ada dan bisa, pasti aku akan bantu kamu."


Zizi sungguh kasihan dengan kehidupan sahabatnya sekarang.


Pantas saja Cyra sampai berhutang banyak padanya, ternyata seperti ini kehidupan gadis itu sekarang.


Pasti Cyra sangat kesulitan harus menyesuaikan kehidupan sang suami yang serba pas-pasan, sementara hidupnya dulu bergelimang harta meski tak dapat dipungkiri jika Cyra kekurangan kasih sayang.


"Zi, berjanjilah padaku! Janji tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Terutama pada Mona, apalagi Andin. Aku bener-bener nggak bisa melawannya lagi dengan kondisiku sekarang," pinta Cyra melepas pelukan Zizi.


Digenggamnya jemari Zizi.


"Kau mau berjanji padaku, kan, Zi?!" harap Cyra.

__ADS_1


"Iya, Ra! Aku janji! Terima kasih sudah mau jujur padaku."


Mereka pun kembali berpelukan saling bertangisan, tanpa menyadari kehadiran seseorang yang juga menangis dalam diam diluar kamar Cyra.


__ADS_2