Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Mimpi Hujan


__ADS_3

Cyra sampai dirumah pukul lima sore. Dia terpaksa harus membantu teman-temannya untuk beberes bekas lomba lebih dulu.


"Fiuuuhh!"


Cyra menjatuhkan tubuhnya melintang di ranjang singlenya yang terbalut sprei bergambar bulan dan bintang warna kuning. Kakinya yang masih mengenakan sepatu menjuntai disisi ranjang.


"Hahh!! Nyamannya!"


Direntangkannya kedua tangannya seolah sedang mengukur panjang ranjang.


Matanya terpejam menikmati empuknya ranjang setelah seharian ini lelah melakukan banyak kegiatan di sekolah.


Semenjak Cyra dinikahkan dengan Ditya dua bulan yang lalu, gadis itu mampu membuktikan pada semua guru dan orangtuanya bahwa dia bisa berubah menjadi siswi yang baik.


Dia juga sudah tidak pernah bolos lagi.


Apalagi, ancaman papanya yang akan mengirimkannya ke kampung jika masih berlaku seperti sebelumnya, suka membolos dan berantem dengan siswa lain baik yang perempuan maupun yang laki-laki.


Namun, sayangnya perubahan baik itu hanya terjadi dilingkungan sekolah saja. Diluar sekolah, justru kelakuannya semakin parah. Sekarang pergaulannya bahkan dengan anak-anak punk yang notabene suka nongkrong-nongkrong dipinggir jalan dan suka kebut-kebutan dijalanan.


Cyra semakin merapatkan kedua kelopak matanya yang terkena semilirnya angin dari kipas angin yang berputar-putar di atas plafon kamarnya.


Saking lelapnya Cyra tidur, dia bahkan sampai bermimpi jika dirinya sedang tidur telentang disebuah hamparan rumput yang hijau nan empuk.


Namun, tiba-tiba saja awan mendung datang menyelimuti bumi hijau tersebut.


"Cyra, bangun!"


Sayup-sayup Cyra mendengar orang memanggilnya. Namun, gadis itu tidak menggubrisnya. Cyra justru semakin meringkuk dirumput hijau tersebut dengan nyaman.


"Hei, Cici Meong! Banguuunn ...!!!" teriak suara itu lagi.


Langit semakin mendung. Tetes demi tetes air berjatuhan mengenai wajah Cyra.


Cyra mengelap wajahnya yang basah dengan lengan seragamnya yang belum diganti. Baru saja dia mengelap wajahnya, kembali butiran air berjatuhan mengenai wajahnya.


Semakin lama tetes-tetes air itu berubah menjadi hujan yang cukup deras. Tapi anehnya, hanya area wajahnya saja yang basah terkena siraman hujan yang membuat Cyra gelagapan karenanya.


Byuuurrr!!

__ADS_1


"Hapff ...! Hapff ...!"


Cyra yang gelagapan sontak bangun dari tidurnya.


Tidur?! Ya! Rupanya Cyra tertidur sampai pagi hari tanpa melepas sepatu dan mengganti seragamnya. Lalu, mimpi hujan barusan kenapa bisa terasa sangat nyata?!


"Hei, bangun, Pemalas!"


Sebuah suara menyadarkannya dari keterpakuannya.


"Kak Dityaaa ...!" teriak Cyra setelah tersadar.


Dilihatnya Ditya sudah berdiri didepannya dengan sebuah gayung.


"Kenapa disiram, sih?! Basah tahu!!" dengusnya kesal.


Ditengoknya ranjangnya yang sedikit basah terkena air dari gayung yang Ditya siramkan padanya.


"Makanya kalau tidur itu jangan kayak orang mati. Ayo, bangun! Ini sudah pagi. Kita harus kerumah papa sekarang!" ajak Ditya seraya menarik tangan gadis itu agar segera bangun.


"Siapa juga yang kayak orang mati?!" sungut Cyra.


"Lah, buktinya dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun."


"Mana aku tahu?! Harusnya kamu sudah kesana tadi. Gegara kamu tidak kesana, papa marah dan minta Kak Fian buat ngehubungin kamu. Tp ponsel kamu mati, kenapa?! Lagipula tadi pagi aku sudah kasih pesan ke kamu, memangnya tidak kamu baca?!"


Cyra merasa heran. Tumben-tumbenan papa menyuruh datang. Biasanya menanyakan kabar saja tidak.


Ditya menyentil kening istri kecilnya gemas. Bukannya menjawab malah bengong.


"Haiss! Sakit, tahu?!"


Cyra mengelus keningnya yang lumayan sakit.


"Lagian, ditanya bukannya jawab malah bengong."


"Papa marah? Pesan apa??"


Cyra masih belum mengerti maksud ucapan Ditya.

__ADS_1


"Eeegghh!!"


Ditya mengepalkan tangannya dan berpura-pura memukul Cyra.


"Lihat ini!"


Ditya menarik tangan Cyra menuju pintu.


"Lihat! Aku tulis pesan disini sesuai permintaan kamu karena menurut kesepakatan kamar adalah ruang privacy kita masing-masing."


"Eh, tapi kenapa sekarang kamu masuk kamar aku?! Pelanggaran! Kamu kena denda. Berarti minggu depan kamu harus beberes lagi. Asyiik, aku bebaaasss ...!!!"


Cyra merentangkan tangannya keudara.


"Enak aja, nggak bisa!!" protes Ditya.


"Salah sendiri kamu main masuk kamar aku, wleee ..."


Cyra memeletkan lidahnya.


"Ya, aku, kan cuma bangunin kamu doang. Siapa suruh tidur kayak orang mati?!"


"Enak aja ngatain tidur aku kayak orang mati."


"Terus kayak apa? Kayak kebo??"


"Kakaaakk ...!"


Cyra melemparinya dengan bantal yang ada diranjangnya.


"Stop!"


Ditya menangkap bantal yang dilempar Cyra dan meletakkannya kembali keranjang.


" Pergi mandi, gih! Kita ketempat papa sekarang."


"Tapi aku, kan mesti sekolah," elak Cyra.


"Kamu ijin aja sehari. Daripada nanti papa makin marah sama kita," ujar Ditya berlalu dari kamar Cyra.

__ADS_1


Dia juga harus bersiap. Dia sendiri bangun kesiangan karena semalam pestanya selesai pukul dua belas. Ditambah waktu untuk beres-beres, akhirnya Ditya baru sampai dirumah pukul setengah dua dini hari tadi.


Kalau bukan karena telpon dari Alfian yang terus mengganggunya, mungkin Ditya juga belum bangun. Niatnya hari ini dia ijin mau istirahat seharian dirumah, nyatanya dia harus membawa tuan putri pulang keistananya hari ini juga.


__ADS_2