
"Saya terima nikah dan kawinnya, Cyra Purnama binti Bayu Purnama, dengan mas kawin uang tunai sebesar seratus lima puluh ribu dibayar tunai!!"
"Bagaimana para saksi, apakah pernikahan ini sah?!"
"Saaahhh!!!"
"Alhamdulillah!!"
Saat penghulu membacakan doa setelah akad dilaksanakan, Cyra justru menangis dipelukan kakak iparnya yang duduk bersimpuh disebelahnya.
"Sekarang, kalian sudah sah menjadi suami istri yang sah dimata agama, meski belum sah dimata hukum. Saya harapkan, begitu nak Cyra menyelesaikan sekolahnya, kalian srgera mendaftarkan pernikahan ke catatan sipil agar pernikahan kalian kuat secara hukum. Mengingat ini hanyalah pernikahan dibawah tangan. Terlebih lagi jika kalian sampai punya anak, maka anaknya tidak akan diakui oleh negara."
Begitulah nasehat penghulu sebelum meninggalkan kediaman Purnama untuk melanjutkan pekerjaannya ditempat lain.
"Terima kasih, Pak Penghulu, atas nasehat dan sarannya."
Pak Bayu mewakilkan anak dan menantunya menjawab.
Sepeninggal penghulu serta tamu dan kerabat terdekat pergi meninggalkan kediaman Purnama, kini yang tertinggal hanya Pak Bayu, Alfian, Kinanthi dan Bintang yaitu istri dan anak dari Alfian, serta Cyra dan suaminya juga satu temannya yang diajaknya sebagai perwakilan dari keluarga sang suami.
"Sekarang kalian sudah sah jadi suami dan istri. Papa harap, kalian bisa akur dalam menjalani mahligai rumah tangga."
Pak Bayu mulai memberi wejangan. Beliau duduk didepan keluarganya dengan posisi yang sama saat tadi menjadi wali nikah untuk putrinya.
"Cyra, Papa berharap kamu dapat mengerti dengan keputusan ini. Ini semua Papa lakukan untuk kebaikan kamu kedepannya."
Hening untuk sesaat.
Gadis itu masih saja sesenggukan dalam rengkuhan Kinan, sang kakak ipar.
"Dan untuk kamu, Ditya, saya mohon maaf. Saya terpaksa sekali harus melibatkan kamu dalam hal ini. Sungguh, saya ikhlas membantumu waktu itu. Tapi, saya benar-benar memerlukan bantuanmu untuk menjaga dan mengawasi putri saya yang badung ini. Mohon jangan benci saya karena sudah membuatmu dalam situasi seperti ini."
"Saya mengerti, Pak! Saya sangat berterima kasih sekali karena lagi dan lagi Bapak sudah menyelamatkan dan membantu saya untuk keluar dari masalah. Dan ... untuk masalah Cyra, saya tidak yakin bisa menjinakkan putri Bapak sesuai keinginan Anda. Tapi saya akan berusaha semampu saya," jawab Ditya sambil melirik sinis pada Cyra yang duduk disampingnya.
Alfian duduk disebelah istrinya dengan memangku Bintang, putranya yang masih berumur tiga tahun.
Sementara disebelah Ditya duduklah Dimas, sahabatnya sekaligus perwakilan untuk keluarganya, mengingat Ditya kini sebatang kara.
"Hust, kamu ini. Memangnya istrimu binatang buas yang harus dijinakkan?!" bisik Dimas menyikut Ditya dari samping.
"Saya tahu itu. Untuk itu saya meminta bantuan kamu, sebab saya sendiri selaku papanya tidak bisa menjinakkannya. Haha ...," ujar Pak Bayu tertawa sambbil menekan kata menjinakkan.
"Dengar, tuh, Ra! Papa sudah memilihkan pawang untuk menjinakkanmu."
Alfian ikut-ikutan meledek adiknya.
"Mas Fian!!" tegur Kinan sambil melotot pada suaminya.
"Nggak usah didengerin, Ra! Mereka cuma bercanda saja, kok. Jangan dimasukin kehati, ok?!"
Kinan menghibur Cyra yang makin menangis dipelukannya sampai baju kebaya yang dipakainya basah oleh air mata adik iparnya tersebut.
"Udah, dong, Ra nangisnya! Kebaya Kak Kinan basah, nih kena air mata kamu dari tadi."
Kinan melepaskan pelukannya dan memperlihatkan dadanya yang basah.
"Lagian apa yang kamu tangisin, sih?! Orang dinikahin sama laki-laki tampan gitu, kok, malah nangis," lanjutnya.
"Ekhem ...!"
Alfian berdehem.
"Tetep gantengan kamu, kok, Yah! Gitu aja cemburu," ujar Kinan menoleh suaminya.
Kinan tahu betul tabiat sang suami yang cemburuan, bahkan terhadap anaknya sendiri sekalipun.
__ADS_1
"Jadi, kalau aku nggak ganteng, kamu nggak mau sama aku, gitu?!" tanya Alfian.
"Aku tetep cinta, dong, Sayang. Sama duitmu. Hahaha ...!" jawab Kinan terbahak.
Alfian makin cemberut mendengar jawaban istrinya.
" Hahaha ... syukurin! Kakak kalah saing sama duitnya," celetuk Cyra tertawa.
"Nah gitu, dong tertawa. Masa jadi manten, kok manyun," ledek Kinan sembari menoel hidung Cyra.
"Apaan, sih, Kak Kinan," rajuk Cyra.
Gadis itu pun bangkit dari duduknya. Dengan menyingsing kain yang dipakainya, gadis itu lantas beranjak menaiki tangga menuju kamarnya dilantai dua. Langkah kakinya sengaja dihentak-hentakkan.
"Hati-hati, woi, jatuh!" teriak Alfian.
"Jadi gadis, kok, nggak ada manis-manisnya. Udah pakai kebaya dan kain, jalannya yang anggun kayak Putri Solo, gitu loh."
Pak Bayu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak bungsunya itu.
"Begitulah Cyra. Perilakunya sangat barbar semenjak ..."
Pak Bayu tidak melanjutkan kalimatnya. Raut mukanya mendung seketika.
"Eh, Dit, kamu nggak mau nyusul istrimu kekamar?! Udah dikode, tuh."
Kinan mengalihkan pembicaraan papa mertuanya karena sepertinya Ditya penasaran dengan kelanjutan kalimat mertuanya yang masih ditunggunya.
"Eh, tidak, Mbak! Saya mau pulang saja bareng Dimas," tolak Ditya cepat.
"Lho, kenapa pulang?? Kalian, kan sudah menikah dan jadi suami istri. Sudah sewajarnya kalian sekarang tinggal satu rumah, bahkan satu kamar."
"Tapi ...,"
"Iya, Dit! Masa mau melewatkan first night gitu aja," celetuk Alfian.
Wanita itu kembali melotot pada Alfian. Bahkan Bintang yang sudah lelap dipangkuan ayahnya pun terbangun mendengar suara bundanya yang menggelegar didekatnya.
"Iya, maaf!!"
Alfian mengatupkan kedua tangannya didepan dada, lalu kemudian mengunci mulutnya seperti gerakan orang menutup tas ransel yang ada ritsletingnya.
"Betul kata Kinan! Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi ini juga rumahmu. Sebaiknya kamu istirahatlah dikamar Cyra. Untuk Nak Dimas bisa tidur dikamar tamu," ujar Pak Bayu.
"Eh, tidak perlu, Pak! Saya pulang saja. Kebetulan besok saya ada kuliah pagi. Dan saya harus menyiapkan tugas yang harus dikumpulkan besok," tolak Dimas.
"Lagipula saya sudah ada janji dengan ibu kost untuk mengantar beliau ke stasiun besok pagi-pagi sekali. Beliau hendak keluar kota naik kereta," imbuhnya beralasan.
"Ya, sudah kalau begitu! Hati-hati dijalan!"
"Terima kasih, Pak! Kalau begitu, saya langsung pamit saja."
"Eh, tunggu sebentar!"
Kinan bangkit dari simpuhnya dan berjalan menuju dapur. Lima menit kemudian dia keluar sambil membawa paperbag.
"Ini, bawalah pulang buat sarapan besok," ujar Kinan.
Diserahkannya paperbag itu ketangan Dimas.
"Nggak usah repot-repit, Mbak!" tolak Dimas.
"Nggak apa-apa, ambillah! Maaf cuma itu yang ada."
"Terima kasih, Mbak! Jadi ngrepotin."
__ADS_1
Dimas mengambil tentengan itu dengan malu-malu tapi mau.
"Kalau begitu saya pamit, Pak, Mbak dan Masnya," pamitnya.
"Yuk, Dit! Aku duluan, ya," pamitnya pada Ditya.
"Eee, maaf, semuanya! Saya antar Dimas dulu kedepan," ijin Ditya dijawab anggukan dari orang-orang yang baru beberapa saat yang lalu menjadi mertua dan kakak iparnya.
Sesampainya dipintu gerbang.
"Aku duluan, Bro!" pamit Dimas.
"Kamu ngapain pulang, sih. Harusnya temenin aku disini, dong," gerutu Ditya kesal.
"Sorry, Bro! Aku, kan musti ngantar Bu Indri ke stasiun besok. Lagian juga aku nggak mau ganggu pengantin baru untuk melewati first night-nya. Hehe ...," cengir Dimas.
"Apaan, sih. Kamu, kan tahu sendiri aku menikahinya karena apa?!"
"Karena mau perk**a dia depan umum?!" ledek Dimas.
"Sialan, kamu! Itu kecelakaan, tahu?!" umpat Ditya menoyor kepala Dimas.
"Hahaha ...!"
Dimas terbahak.
"Yuk, ah! Aku pulang dulu. Kamu masuk, gih! Nggak enak sama mertua kamu."
Dimas mendorong Ditya untuk kembali masuk kerumah. Sedang dirinya langsung melesat dengan scooter maticnya yang baru lunas itu, membelah jalanan yang mulai lengang oleh lalu lalang kendaraan. Padahal, jam menunjukkan belum ada diatas pukul sepuluh malam.
Ditya pun masuk kerumah setelah menutup Gerbang dan berpamitan pada Pak Satpam yang berjaga.
Langkahnya terhenti ditempat tadi dia melaksanakan pernikahan bawah tangan atau pernikahan siri dengan Cyra, putri Pak Bayu, orang yang sudah tiga kali menyelamatkannya dari masalah.
"Kenapa malah bengong disitu?" tegur Kinan yang baru turun dari lantai dua.
Wanita itu kembali masuk dapur karena anaknya minta dibuatkan susu.
" Naiklah! Kamar Cyra ada diatas, kamar nomor dua dari tangga. Didepan kamarnya ada tulisannya, kok!"
"Emm, Bapak kemana, Mbak?"
"Oh, kalau Papa sudah masuk kamar. Mas Alfian juga. Makanya sekarang kamu masuk kamar Cyra, istirahat disana."
"Tapi ..."
"Tunggu apa lagi?! Buruan, sebelum Papa datang dan menegurmu. Papa nggak suka masih ada obrolan lewat dari jam sepuluh malam. Semua sudah harus istirahat dijam tersebut," beritahu Kinan.
"Oh, baik, Mbak! Selamat malam!" pamit Ditya bergegas menuju kamar Cyra, istrinya.
"Hm!" gumam Kinan sebagai jawaban.
Kinan pun melanjutkan langkahnya ke dapur, membuat susu untuk Bintang.
Sementara Ditya yang sudah berada didepan kamar Cyra pun berhenti. Dia ragu untuk masuk kedalam.
Namun, karena dirinya sudah mengantuk dan penat, dipaksanya dia masuk kekamar tersebut.
Dibukanya pintu pelan-pelan. Dilongokkannya kepalanya kedalam kamar, berharap yang empunya sudah dibuai mimpi.
"Syukurlah, dia sudah tidur!" gumam Ditya pelan.
Dengan langkah pelan, diambilnya bantal diranjang disamping kepala Cyra. Ditya tidak mau tidur seranjang dengannya. Pernikahannya terjadi karena sebuah kecelakaan yang mengharuskannya bertanggung jawab.
Berhubung tidak ada sofa panjang, akhirnya Ditya memutuskan untuk tidur dilantai. Beruntung ada karpet rasfur diujung kaki ranjang.
__ADS_1
Ditya pun tidur disitu setelah meletakkan bantalnya. Tidak sampai sepuluh menit, laki-laki itu pun lelap dibuai angin AC yang sejuk.
Tidak ada drama, apalagi malam pertama. Sepasang pengantin itu hanyut dalam mimpi masing-masing hingga pagi menjelang.