
Sesuai ijinnya tadi pagi, Cyra pergi bersama Zizi untuk mengerjakan tugas kelompok selepas pulang sekolah.
Mereka berdua langsung menuju perpustakaan kota untuk mencari buku referensi sebagai acuan pembuatan makalah yang diminta oleh guru Bahasa Indonesianya.
"Ra, kita cari makan siang dulu, yuk! Laper, nih!"
Zizi memegangi perutnya yang keroncongan.
Gadis itu tidak sempat sarapan tadi pagi. Dan saat jam istirahat pun dia tidak bisa pergi ke kantin karena dihukum oleh guru ekonominya sebab tidak mengerjakan tugas rumah.
"Kita mau makan dimana?!"
Cyra melihat sekeliling.
Disekitar gedung perpustakaan memang ada sederet kios dan warung makan. Tapi, entah makanan disana enak atau tidak, sebab dia belum pernah makan disana.
"Mm, kita kesana saja, yuk! Kelihatannya warungnya ramai. Dan kalau ramai, biasanya menandakan makanannya enak."
Zizi menunjuk salah satu kios mie ayam pangsit diseberang gedung perpustakaan yang tampak ramai pengunjung.
"Ok!"
Zizi pun memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dekat trotoar, mengikuti mobil dan motor pengendara yang lain.
"Nggak apa-apa, nih, kita parkir disini?!"
Cyra khawatir takut terkena razia.
"Nggak apa-apa, deh! Toh, yang lain juga parkir disini juga."
Zizi menunjuk beberapa mobil dan motor terparkir dibahu jalan.
"Yahh, seenggaknya kalau ketangkap sama Pol.PP kita ada temannya. Hehe ...!" cengir Zizi.
Akhirnya Cyra dan Zizi pun masuk ke dalam kios mie ayam pangsit.
"Penuh gini, mau makan dimana kita?"
Zizi tengak-tengok ke dalam kios yang hanya berukuran enam meter persegi itu sudah penuh pelanggan.
"Itu, dipojokan sana ada dua bangku kosong," tunjuk Cyra pada meja yang ada dua bangku kosong di depan dua orang pengunjung yang membelakangi posisi mereka berdiri.
"Ya, udah, yuk!"
__ADS_1
Zizi bergegas menuju meja tersebut dan minta ijin.
"Maaf, apa bangku ini kosong?!"
"Kosong! Silakan!" jawab salah satu pengunjung perempuan sambil tersenyum ramah.
Sedangkan pengunjung yang satu lagi, laki-laki, tampak cuek dan tetap fokus pada mangkok mie di depannya yang masih tinggal setengah.
"Terima kasih, Mbak!" ucap Zizi.
Perempuan itu hanya mengangguk.
"Ra, sini!" panggilnya sedikit berteriak.
Cyra hanya memberi tanda kode oke, lalu segera memesan makanan.
"Pak, saya pesan mie ayam pangsit gorengnya satu, mie ayam pangsit kuahnya satu. Minumnya teh manis hangat saja, dua! Tolong diantar ke meja pojok sana, ya, Pak!"
Cyra berkata pada penjual mie lalu menunjuk kursi yang masih kosong dipojok kios.
"Baik, Neng! Ditunggu, ya!"
"Terima kasih!"
"Kamu pesan minumnya apa tadi?" todong Zizi saat Cyra menjatuhkan b*k*ngnya di kursi di sebelah Zizi.
"Sesuai permintaanmu, Nona, mie ayam pangsit kuah dan teh manis hangat," jawab Cyra sedikit gaya membungkuk seolah seperti pelayan.
"Hehe ...! Terima kasih, Pelayan!"
"Si-alan, lu!" gerutu Cyra dengan gaya barbarnya yang mulai keluar.
Laki-laki yang satu meja dengannya yang sejak tadi asyik menyantap mie dengan sesekali ngobrol dengan teman perempuannya itu menoleh kearah Cyra begitu mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
"Rara?!" panggilnya kaget.
Dia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan penyanyinya di kios mie langganannya.
"Eh, Bang Seno?!" pekik Cyra tak kalah terkejut.
Gadis itu tidak mengira akan bertemu dengan Bang Seno ditempat seperti ini.
"Bang Seno makan disini juga?!" tanya Cyra sekadar basa-basi.
__ADS_1
"Ini, mah tempat favorit gue, Ra! Udah dari jaman school dulu," jawab Bang Seno tertawa.
"Oh!"
"Eh, kenalin, nih cewek gue! Namanya Diana, tapi gue suka manggil dia Didi."
Bang Seno mengenalkan perempuan tomboy bertatto red rose dipunggung tangannya.
Tapi, meski tomboy dengan rambut cepak dan bertatto, perempuan itu tidak terlihat seperti gadis nakal. Justru senyum ramah tersungging dibibirnya yang berpoles lipstik warna nude.
"Didi!" ujar perempuan itu.
"Rara!" sambut Rara.
"Emm, ini teman Rara, namanya Zizi!"
Cyra memperkenalkan Zizi pada Bang Seno dan Didi.
Didi pun menyambut uluran tangan keduanya, meski saat diawal Bang Seno sempat cuek padanya.
"Zizi!"
Bang Seno mengangguk masih dengan muka cuek.
"Lu kemana aja, sih, nggak pernah nongol lagi ke karaoke?" tanyanya beralih pada Cyra.
"Ah, itu! Aku, aku udah nggak dibolehin kerja disana lagi sama su..., eh, maksudnya sama kakak aku. Aku disuruh fokus sekolah aja, katanya! Maaf, ya, Bang, nggak sempet pamit sama Abang!" jawab Cyra sedikit gagap.
Hampir saja dia bilang kalau dia dilarang kerja sama suaminya.
"Tapi urusan lu sama si Nita udah kelar, kan?!"
"Ud-udah, kok, Bang! Seminggu yang lalu udah aku lunasin. Makasih, ya, Bang udah kasih kesempatan kerja disana!"
"Ma-sama! Lain waktu lu butuh gawean, lu dateng aja lagi ketempat gue, ok?!"
"I-iya, Bang! Makasih tawarannya!"
"Ya, udah! Gue sama cewek gue duluan, ya! Gue tunggu kedatangan lu lagi! Para pelanggan udah kangen sama suara emas lu!" ujar Bang Seno bangkit dari kursi.
Laki-laki itu lantas menggandeng pergi perempuan di sampingnya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan mereka.
"Ra, kamu musti cerita sama aku! Siapa Bang Seno?!" todong Zizi curiga.
__ADS_1
***