Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Pindah


__ADS_3

Cyra terbangun dari tidurnya karena mendengar suara orang sedang mengobrol. Ternyata, orang yang sedang mengobrol itu adalah Ditya dan Dimas yang berada di depan pintu kost.


"Eh, kamu sudah bangun, Ra? Sorry, ya ganggu tidur kamu."


Dimas yang melihat Cyra terbangun pun segera meminta maaf.


Cyra hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Dimas.


Ditya pun ikut menoleh kearah pandang Dimas. Dilihatnya Cyra sedang membetulkan ikat rambutnya sambil beranjak dari kasur lalu berjalan mendekatinya dan Dimas yang berada di depan pintu.


"Sudah bangun?! Lekaslah mandi! Sebentar lagi mobil pick-up datang mengantar kepindahan kita," ujar Ditya.


"Eh, pindah?!"


Cyra terkejut mendengar penuturan Ditya.


"Bukankah semalam kita sudah membahasnya, hari ini kita akan pindah ke rumah kontrakan," tegas Ditya.


"Eh, bukankah katamu masih minggu depan?!" jawab Cyra mengernyitkan kening, bingung.


"Rencana berubah. Orang yang menghuni rumah yang akan kita kontrak ternyata sudah pindah dua hari lalu. Jadi kita langsung bisa pindah. Kebetulan hari ini aku dan Dimas libur kuliah. Jadi, dia bisa bantu-bantu kita bawa barang-barang," terang Ditya.


"Memangnya harus sekarang banget pindahnya?!"


"Iya, SE-KA-RANG! Bukankah barusan kubilang mumpung aku dan Dimas libur?! Makanya buruan mandi sekarang!" ketus Ditya.


"Etdah! Nggak usah nge-gas, kali. Kayak vespa bututnya aja pakai di gas. Jalan enggak, nyungsep iya. Aku, kan cuma nanya. Huh!"


Cyra lantas pergi ke kamar mandi sambil mendumal.


"Hmmmft ...! Digas apanya, Ra. Kamu hidupin aja belum. Masih dianggurin, kan, tuh kunci keramat Ditya?!"


Dimas tertawa tertahan mendengar dumalan dari istri sahabatnya itu.


Ditya langsung melotot pada Dimas yang sedang menertawakannya itu. Dirinya paham dengan kata 'kunci keramat' yang dimaksud Dimas.


"Kamu, tuh, ya," sungut Ditya menampol bahu Dimas dengan makalah bahan kuliahnya yang diantar Dimas tadi.


"Sorry, Bro!" ucap Dimas menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


"Lagian, tuh makalah sudah capek-capek aku ketik semalaman, malah kamu rusak begitu. Nggak tanggung jawab aku kalau nanti rusak," lanjutnya.


Ditya baru sadar jika makalah itu digulungnya tadi untuk menampol sahabatnya itu. Dirapihkannya lagi seperti semula agar tidak sampai. rusak. Sia-sia nanti dia keluar uang untuk membelikan Dimas paket data demi mengetikkan tugasnya karena semalam dia menggantikan shift rekan kerjanya sehingga tidak ada waktu untuk mengerjakan tugas kuliahnya.


"Kamu sudah pamit, kan sama ibu kost?"


Dimas mengingatkan.


"Sudah tadi pagi-pagi sekali aku telpon."


"Terus tanggapannya gimana? Secara kamu, kan anak kost kesayangannya."

__ADS_1


"Ibu kaget, sih. Beliau bilang kenapa mendadak sekali? Tapi aku jawab saja karena kemarin-kemarin beliau keluar kota jadi tidak ada waktu untuk pamit."


Sebenarnya Ditya sudah berusaha menghubungi ibu kost-nya dua hari lalu. Berhubung beliau sedang keluar kota menjenguk anaknya yang baru melahirkan dan disana susah signal, akhirnya Ditya memutuskan menunggu sampai ibu kost pulang.


Namun, ternyata ada kabar mendadak dari pemilik kontrakan yang baru, Ditya terpaksa berpamitan lewat telpon meski harus mengulang panggilan berkali-kali karena susahnya signal di tempat tinggal putri ibu kost-nya.


Ditya tidak bisa menunggu sampai ibu kost-nya pulang sebab, jika dalam dua hari dia tidak pindah ke kontrakan, maka pemilik kontrakan akan menyewakannya pada orang lain.


Ditya yang sudah merasa cocok dengan tempat tinggal barunya tidak mau tempat itu disewa orang lain. Apalagi selain fasilitas listrik dan air memadai, biaya kontraknya terbilang murah padahal tempatnya ada dipinggir jalan raya.


"Nggak nanya pindahnya karena apa?" tanya Dimas penasaran.


" Tanya, lah. Aku bilang saja kalau dua hari lalu aku menikah, makanya perlu tempat tinggal baru yang lebih luas dan privacy," jawab Ditya sembari mengeluarkan koper miliknya ke teras.


Semua barang-barang pribadinya yang sekiranya perlu dibawa kekontrakan sudah dia keluarkan semua, kecuali koper milik Cyra dan kasur yang tadi masih ditiduri istrinya itu.


"Sudah selesai? Kemasi barang-barang kamu ke dalam koper. Itu pick-upnya sudah datang."


Bertepatan dengan Cyra keluar dari kamar mandi, sebuah mobil bak terbuka memasuki halaman kost.


Ditya pun meminta bantuan Dimas untuk mengangkat kasur ke dalam pick-up.


Setelah semuanya diatas pick-up, mereka pun meluncur ke tempat tinggal yang baru.


Sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya pick-up tersebut sampai dihalaman sebuah rumah sederhana namun tampak asri dengan halaman yang cukup luas, muat untuk memarkir tiga buah mobil itu.


Dipojokkan rumah ada sebatang pohon rambutan yang kebetulan sedang berbuah dan mulai menguning. Sisanya halaman itu ditanami tanaman hias berbagai macam warna dan bentuk.


"Huft, capeknyaaa ..."


"Haus, ya, Mas?"


Pemilik kontrakan menyodorkan tas plastik berisi tiga botol air mineral dan beberapa bungkus kue basah yang dia bawa dari rumahnya.


"Ini, minumlah. Tapi maaf, minumnya cuma tiga. Bapak kira tadi cuma bertiga. Eh, tak tahunya adiknya ikut juga," ujarnya.


"Adik??"


Cyra dan Dimas bertanya bersama. Mereka berdua pun saling pandang penuh tanda tanya. Tapi mereka memilih diam saja takut salah bicara dan membuat Ditya dalam masalah.


"Oh, iya, Pak! Kenalkan, ini adik sepupu saya yang saya ceritakan kemarin dulu itu. Dia yang akan ikut mengontrak disini bersama saya. Soalnya sekolahnya didekat sini. Dia merasa lelah jika harus bolak-balik dari rumah ke sekolah. Apalagi sebentar lagi akan menghadapi ujian, jadi dia ingin lebih fokus belajarnya. Makanya dia ikut ngekost saja dengan saya disini," jelas Ditya sebelum Cyra dan Dimas bertanya lebih jauh lagi.


Ditya memang bilang pada pemilik kontrakan jika dirinya akan mengontrak rumah bersama dengan adik sepupunya yang masih sekolah.


"Oh, begitu."


Si pemilik rumah manggut-manggut.


"Kenalkan, Pak nama saya Cyra, a-adik sepupunya Mas Ditya."


Cyra mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.

__ADS_1


Dimas pun melakukan hal yang sama.


"Dimas, Pak, sahabatnya."


Dimas menunjuk Ditya sambil tersenyum sopan.


"Dan ini Mas Rudi, tetangga kost yang lama yang mengantar kepindahan mereka," sambungnya.


"Oh, ya!"


Pemilik rumah yang ternyata bernama Harun itu mengangguk.


"Kalau begitu, maaf! Bapak harus pamit karena masih ada keperluan ditempat lain. Semoga kalian betah tinggal disini," pamit Pak Harun setelah menyalami kembali Ditya dan rombongannya.


"Sama-sama, Pak. Mohon pengertiannya," ujar Ditya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hahaha ...!"


Pak Harun maksud dengan kedipan yang biasa dia dapatkan dari orang-orang yang mengontrak ditempatnya.


"Kamu tenang saja. Saya akan berusaha memberi keringanan, asal kamu juga bisa bekerja sama."


Pak Harun juga mengedipkan matanya.


"Hahaha ...!"


Ditya dan yang lain pun tertawa melihat Pak Harun yang mengedipkan mata dengan ganjen.


Pemilik kontrakan pun berlalu. Tidak lama Dimas dan Rudi juga ikut pamit.


"Kami pulang dulu, Bro! Semoga betah tinggal disini. Yang akur, ya!" pamit Rudi.


"Makasih bantuannya, Mas. Maaf sudah merepitkan!"


Ditya menyalami Rudi sambil memberikan amplop putih kecil.


"Ini sekedar beli bensin," lanjutnya.


"Sama-sama!"


Rudi menerima amplop itu dan memasukkannya kedalam saku celana.


"Yang akur, ya!"


Dimas menyalami Cyra yang ditanggapi dengan senyuman.


"Semoga kamu bisa menjinakkan si gadis barbar. Syukur sekali kunci keramatmu cepat bisa membuka pintu menuju indahnya surga dunia," bisik Dimas ditelinga Ditya yang langsung meninju perutnya.


Bukannya marah, Dimas malah tertawa terbahak.


"Ghahaha ...!!"

__ADS_1


Ditya pun mengajak Cyra untuk segera masuk kerumah begitu Dimas dan Rudi pergi meninggalkan halaman rumah kontrakan mereka yang baru.


Mereka harus menata barang-barang mereka ketempat yang sesuai dengan tata letak dan fungsinya dirumah itu sebab tadi masih lumayan berantakan.


__ADS_2