Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
Mata-mata


__ADS_3

Pov Ditya


Aku pulang dengan terburu-buru. Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat sampai di rumah.


Kabar yang aku dapat dari Zizi tadi siang benar-benar membuatku marah dan tidak habis pikir.


Sedang apa Cyra berada ditempat karaoke itu lagi?!


Ya! Tadi siang Zizi mendatangiku ke cafe tempatku bekerja. Aku yakin, gadis remaja itu tahu tempat kerjaku dari Cyra. Siapa lagi?!


Yang membuatku awalnya sedikit emosi adalah, kabar yang dia sampaikan bahwa istri kecilku itu pergi ke tempat hiburan yang cukup ramai di dekat rumah kami tinggal.


Aku hampir tidak percaya dengan ucapannya kalau saja Zizi tidak menunjukkan video yang sempat dia buat untuk merekam keberadaan Cyra.


Kuakui, Zizi memang gadis cerdas. Dia selalu menampilkan bukti kongkrit disetiap ucapannya.


Sebenarnya tiga hari yang lalu aku sempat memergoki Cyra keluar dari tempat karaoke itu bersama Nita, tetangga sebelah rumah kontrakan yang memang kudengar sudah bekerja disana selama dua tahun.


Saat aku tanya kenapa Cyra pergi ketempat itu bersama Nita, dia langsung berkilah.


"Aku cuma jemput Mbak Nita karena sudah janjian pergi ke mall," katanya saat itu.


Aku masih mempercayainya meskipun aku sempat memarahi dan menasehatinya untuk jangan sekali-sekali ketempat itu lagi karena tempat itu bukan tempat yang baik untuk gadis remaja seperti dirinya.

__ADS_1


Apalagi, jika sampai mata-mata Pak Bayu, mertuaku, itu sampai tahu putrinya kelayaban ketempat seperti itu, habislah riwayatku. Bisa digantung aku dimenara Tugu Monas karena tidak becus mendidik putrinya yang notabene sekarang sudah menjadi istri bawah tanganku.


Bukan hal yang tidak mungkin terjadi sebab mata-mata papa mertuaku ada dimana-mana.


Sebenarnya aku juga baru tahu kalau papa mertuaku sengaja menempatkan mata-matanya disekitarku dan Cyra sekitar lima hari yang lalu.


Kejadiannya begini:


Aku baru pulang dari kerja lemburku di cafe. Saat itu sudah pukul satu dini hari. Ketika aku tiba dirumah, aku melihat orang berpakaian hitam-hitam sedang mengendap-endap didepan pintu sambil menaruh sesuatu yang kuyakini sebuah amplop coklat yang cukup tebal.


Tindakannya yang mencurigakan membuatku waspada. Jangan-jangan dia ingin berbust jahat padaku ataupun Cyra.


Waktu orang itu hendak pergi meninggalkan rumah, kusambar kerah bajunya bagian belakang. Kupiting dia dan kutanyai apa yang sedang dilakukan orang itu malam-malam dirumah orang.


Namun, belum sampai kepalan tanganku mengenainya, orang itu meminta ampun.


"Ampun, Den! Ampun! Jangan pukul saya!" jeritnya tertahan karena cengkeramanku padanya.


"Apa yang kau taruh itu, hah?!" bentakku marah.


"Itu, itu ... uang dari Pak Bayu, Den! Bapak menyuruhku menaruh uang ini secara diam-diam didepan pintu agar besoknya Den Ditya mengambilnya, dengan harapan digunakan untuk kebutuhan Aden. Makanya, diamplop itu selalu ada tulisan nama Aden," cerita orang yang ternyata suruhan mertuaku


"Jadi, kau yang selama ini menaruh amplop ini disini?!"

__ADS_1


Aku mengambil amplop yang terletak didepan pintu masuk rumah.


"Ya, Den!" jawabnya.


Pantas saja sudah tiga kali ini ada amplop tergeletak didepan pintu bertuliskan namaku. Saat dibuka, isinya sejumlah uang dan secarik kertas bertuliskan pesan untuk aku menggunakan uang itu.


Kupikir uang itu Nita yang diam-diam memberikannya padaku, sebab, sejak awal aku dan Cyra tinggal disini Nita selalu menawarkan bantuan padaku.


Aku tahu jika wanita itu menyukaiku, tapi aku selalu cuek padanya.


Pantas saja saat aku berniat mengembalikan uang itu, Nita terlihat terkejut dan kebingungan. Bahkan, dia bersumpah bukan dia yang menaruhnya.


Karena tidak tahu itu uang darimana dan uang apa, maka aku menyimpannya dengan rapi hingga saat ini, takut itu uang yang digunakan untuk menjebakku.


Ceklek!


Kudengar pintu rumah terbuka dari luar. Kulihat Cyra masuk dengan mengendap-endap seperti maling yang takut terpergok tuan rumah.


Aku yang sengaja menunggunya pulang memilih berdiri ditembok dekat saklar lampu,--- tidak dilihatnya karena memang sengaja aku matikan agar dia mengira aku sudah tidur.


"Darimana saja jam segini baru pulang?!"


Kutengok jam dinding diruang tamu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

__ADS_1


__ADS_2