Gadis Barbar Itu Istriku

Gadis Barbar Itu Istriku
First Kiss


__ADS_3

Ditya hanya mampu mengikuti derap langkah Cyra dengan menjalankan vespanya dengan pelan.


"Ayo, dong, Ra! Sudahi ngambeknya. Aku tidak bermaksud mengejekmu, Sayang! Cici Meong memang nama panggilan sayangku untukmu," bujuk Ditya dari atas motor, sementara sang istri terus berjalan dengan acuhnya.


Tidak! Jika boleh jujur, Cyra bukannya acuh pada Ditya, melainkan sedang berusaha menetralkan debar jantungnya yang sejak keluar dari warung soto tadi detak jantungnya seakan berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya.


"Kamu tidak capek apa, dari tadi jalan terus?! Mau sampai jam berapa kita sampai rumah kalau kamu pulang dengan jalan kaki?! Aku masih harus memastikan semua barang bawaanku tidak ada satupun yang tertinggal saat aku berangkat nanti malam."


Ditya mulai mengeluh.


Deg!


Langkah kaki Cyra langsung berhenti saat mendengar keluhan suaminya.


Gadis itu benar-benar lupa jika nanti malam Ditya harus berangkat ke Semarang untuk memulai pekerjaan barunya disana.


Ditya yang sejak dari warung soto terus saja mengikuti Cyra dari atas vespa pun ikut berhenti.


"Ada apa?!" tanya Ditya bingung mengapa Cyra tiba-tiba berhenti?!


"Kamu capek? Makanya, ayo naik!"


Ditya menarik tangan Cyra agar segera naik keatas boncengan.


Kali ini Cyra hanya diam menurut. Bukan hanya karena kelelahan seperti kata Ditya, dia juga tidak ingin Ditya terlambat sampai dirumah hanya karena terus mengikutinya berjalan kaki.


Bayangkan saja, seorang Cyra yang tidak biasa jalan kaki itu tanpa sadar sudah berjalan sejauh setengah kilo hanya untuk menutupi rasa gugup oleh debaran jantungnya akibat pernyataan Ditya tadi.


"Capek, kan?!"


Ditya melihat Cyra memijit kakinya sebelum naik keboncengan.


"Ayo cepat naik! Hari juga sudah mulai sore!" perintah Ditya.


Tanpa disuruh yang ketiga kalinya lagi, gadis itu langsung nangkring diboncengan.


"Pegangan!"


Ditya menarik kedua tangan Cyra agar berpegangan diperutnya.


Cyra pun manut-manut saja saat Ditya memerintahnya agar memeluk perutnya untuk pegangan.


Dengan gas poll, Ditya langsung menjalankan si Putih membelah jalanan yang menuju rumah kontrakan mereka.


Detak jantung Cyra yang sempat kembali normal, kini berdetak lagi lebih kencang saat badan depannya menyentuh punggung sang suami.


'Ah, sial! Ada apa sebenarnya dengan jantungku? Kenapa, sih harus berdetak kencang sekali seperti ini? Mungkinkah aku terkena serangan jantung mendadak?!' gumam Cyra dalam hati.


Sesampainya mereka dikontrakan, Cyra langsung masuk kamar, membiarkan Ditya yang kembali mengecek barang yang akan dibawanya serta ke Semarang dengan list yang sudah dia buat sebelumnya.


Ditya tidak mau ada benda sekecil apapun yang dibutuhkannya sampai tertinggal dirumah.


Apalagi, sebelumnya dia tidak sempat mengecek lokasi tempat tinggal barunya nanti mengingat pemberitahuannya begitu mendadak. Apakah tempat barunya nanti jauh dari keramaian atau tidak? Jauh dari fasilitas umum atau tidak?! Jadi, lebih baik dia menyiapkan segala sesuatunya secara rinci.


Satu jam kemudian kemudian Cyra baru keluar dari kamar untuk mandi sore dan membuat makan malam.


Berhubung katanya Ditya akan dijemput selepas maghrib, maka Cyra memutuskan memasak makan malam lebih awal dari biasanya.


Dilihatnya Ditya sedang pulas tertidur dikamarnya melalui pintu yang memang terbuka. Didepan ranjang tampak sudah berjajar rapi barang-barang yang akan Ditya bawa.


Cukup banyak juga barang-barang tersebut. Ada satu koper besar berisi pakaian dan perangkatnya. Sebuah tas ransel berisi alat tulis kantor dan satu buah dus besar bekas tempat televisi yang berisi printer dan laptop, juga roll kabel.Belum lagi satu dus penuh berisi bahan makanan instan untuk persedian dua minggu kedepan yang masih tersimpan dimeja makan.


Ditya benar-benar orang yang perfeksionis. Dia selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.


Berbeda dengan Cyra yang cenderung ceroboh dan barbar. Beruntung sekarang ada Ditya yang selalu mengingatkan segala sesuatunya. Entah apa jadinya nanti setelah Ditya berangkat.


Sore ini Cyra hanya membuat nasi yang dia masak di m*gic com, dan memasak ayam bakar mentega yang dia bakar diatas kompor menggunakan pemanggang berbahan dasar teflon plus sambal dan lalapan.


Tepat pukul lima sore masakan Cyra sudah matang. Gadis itu bergegas mandi sore kemudian membangunkan sang suami yang masih tertidur.


"Kak, bangun! Sudah sore, mandilah!"


Cyra menggoyang lengan Ditya agar orang itu segera bangun.


"Kak, banguun!!" serunya lagi.


Setelah panggilannya yang kedua, barulah mulai ada pergerakan Ditya diatas ranjang.


"Eughh!!" Ditya melenguh khas bangun tidur.

__ADS_1


"Jam berapa sekarang?!"


Dikuceknya matanya untuk melihat jam yang ada didinding kamarnya.


"Sudah jam lima! Bangun dan mandilah sekarang! Setelah itu makan sebelum berangkat selepas maghrib nanti!" perintah Cyra.


Gadis itu hendak keluar dari kamar Ditya, namun tangannya ditarik keras oleh sang suami sampai-sampai tubuhnya terhuyung dan jatuh keranjang, tepatnya diatas tubuh laki-laki itu.


"Kak Ditya, apaan, sih?!" sungutnya kaget.


Cyra tidak pernah berpikir akan berada dalam posisi seperti itu.


"Le-lepasin aku, Kak!" cicitnya saat dilihatnya Ditya hanya diam dan memandangnya intens.


"Kak!"


"Rasanya berat sekali untuk pergi," ujar Ditya tanpa melepas cengkeramannya dilengan Cyra yang masih berada diatas tubuhnya.


"Ke-kenapa?" tanya Cyra gugup.


Dia berusaha bangun dari posisinya saat ini, tapi dicegah oleh tangan kekar Ditya yang justru semakin mencengkramnya erat.


"Karena harus jauh dari kamu," jawabnya berat.


"Setelah empat bulan lebih kita hidup bersama, rasanya berat sekali jika kita harus berpisah."


"Kita bisa VC, kan?!"


"Beda rasanya jika dibandingkan ketemu langsung."


"Kita, kan sudah sepakat dari awal kalu kamu bisa pulang sebulan sekali."


"Lama! Aku bakal kangen sama kamu!"


Blush!


Pipi Cyra langsung merona saat Ditya bilang akan kangen padanya.


"Ra!" panggilnya serak.


"Hm!"


Cyra menggumam.


"A-apaan, sih, Kak! Jangan panggil aku begitu."


"Kenapa?"


"Aku bukan kucing! Aku nggak suka!" ketusnya.


Setelah beberapa hari ini berkata cukup formal, kini kata-kata barbarnya keluar lagi.


"Tapi aku suka!" kilah Ditya.


"Pokoknya aku nggak mau dipanggil begitu! Memangnya aku kucing, apa?!" dengusnya.


"Kau memang kucingku yang manis!" ledek Ditya.


"Kaakk!" rengek Cyra kesal.


"Jangan bergerak! Atau ... kau akan membangunkan ular yang sedang tidur melungker disarangnya."


"Ngomong apaan, sih? Gak jelas banget, deh!"


"Mau aku jelasin?!"


Ditya menaik turunkan alisnya.


"Nggak!!"


"Ya, sudah, diam!"


Cyra pun terdiam.


"Ra!"


Hening.


"Cici!"

__ADS_1


Cyra masih juga bungkam.


"Cici Meong! Sayang!!" panggil Ditya lagi.


"Kok diam?"


Cyra yang tadinya memalingkan muka dan terdiam kini menoleh dan membuka suara.


"Katanya tadi suruh diam, ngapain manggil-manggil?!" dumalnya kesal karena harus terus berada diposisi int*m begitu.


"Ra! Bolehkah aku ..."


Ditya tidak melanjutkan kalimatnya.


Sebagai gantinya, dia justru meraba wajah Cyra dengan tangan kanannya yang bebas.


Diusapnya pipi Cyra hingga berakhir dibibir mungil sang istri.


"Ka-kamu mau ngapain?!" ujar Cyra panik.


"Boleh, ya?! Just a kiss, no more!" pinta Ditya dengan suara yang sudah semakin serak dan berat.


"No! A-aku nggak ..."


Sebelum Cyra menyelesaikan kalimatnya, Ditya dengan cepat menggulingkan tubuh Cyra keranjang dan mengungkungnya.


Kini posisinya berbalik jadi Ditya yang berada diatas Cyra dengan satu tangan sebagai tumpuan.


Tanpa aba-aba, Ditya langsung membungkam bibir mungil istrinya dengan bibirnya sendiri sebelum gadis itu kembali memprotes.


Awalnya hanya sekedar menempelkan bibir. Namun, naluri alamiahnya seolah menuntun untuk berbuat lebih.


Ditya yang awalnya hanya menempelkan bibirnya saja, kini dia mulai berani menciumnya dan sedikit mel*m*tnya perlahan.


Meskipun ini ciuman yang pertama kali untuk keduanya, namun didorong oleh naluri alamiahnya yang normal, Ditya kembali melancarkan aksinya setelah sejenak melepas guna mengambil napas.


Kali ini dia berani menggigit kecil bibir sang istri agar terbuka. Dan setelah apa yang diharapkan terkabul, dia pun langsung mengeksplor segala sesuatu yang ada pada mulut sang istri.


Cukup lama mereka berciuman sampai tiba-tiba saja Cyra mencubit dadanya agar Ditya melepaskan ciumannya.


"Aukh!!"


Ditya mengaduh saat dadanya terasa sakit akibat ulah Cyra.


"Hah!"


Cyra membuang napas kasar lalu menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya yang sudah kosong.


"Kak Ditya jahat banget, sih, bikin aku nggak bisa napas, tahu?!"


"Tapi suka, tidak tadi?!"


Blush!!


Lagi-lagi wajah Cyra merona mendengar pertanyaan suaminya.


"Apaan, sih?!"


Cyra pun mendorong tubuh Ditya agar segera menyingkir dari tubuhnya.


"Mau kemana?"


Ditya lagi-lagi berhasil mencegah Cyra pergi dari kamar itu.


"Makan, laper!" ujar Cyra sekenanya.


"Cuma ciuman doang sampai kelaparan. Bagaimana kalu lebih dari itu?!" ledek Ditya lagi.


"Apaan, sih, ah! Minggir!"


"Tunggu!"


Ditya memeluk tubuh Cyra yang hendak bangun lagi.


"Terima kasih, Sayang, untuk bekal yang barusan! Sepertinya mulai sekarang aku akan merindukannya."


Dipeluknya tubuh mungil sang istri dengan erat. Diciumnya kening Cyra lama dan dalam.


Baru setelah itu Ditya melepaskan dekapannya, membiarkan Cyra keluar dari kamarnya dengan wajah yang bertambah merona, entah karena malu ataupun karena senang diperlakukan selembut dan seint*m itu.

__ADS_1


Ditya tersenyum simpul mengingat apa yang baru saja dia lakukan pada istrinya.


Dirabanya bibirnya sendiri. Masih tertinggal disana rasa manis bibir sang istri yang untuk pertama kalinya mereka melakukan first kiss setelah empat bulan lebih dalam pernikahan siri mereka.


__ADS_2