
Rainan masih menatap seseorang didepan matanya. Rasanya ia ingin sekali mendekap tubuh mungil itu dan membelai rambut kuncir kudanya itu. Tapi, ia sadar dengan posisinya saat ini. Ya, ia sedang terbaring lemah di ranjang yang cukup besar dan muat untuk 3 orang di sana. Rainan menatap sosok itu dengan perasaan yang sudah campur aduk, ingin rasanya ia menyeka air mata yang turun dari pelupuk mata diyas. Wanita paruh baya itupun menatap mereka bergantian, kemudian pergi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
"Ka kau... ra rainan? "tanya diyas terbata bata, rainan terdiam seribu bahasa, ingin sekali ia mengatakan bukan, tapi ia sudah terlanjur sakit melihat air mata itu mendarat begitu mulusnya di pipi diyas.
" Bu bukan" jawab rainan, kini ia memalingkan wajahnya dan berusaha menutupi wajahnya dari pandangan diyas.
" Be benarkah begitu? "tanya diyas memastikan, namun seperti prediksinya rainan terdiam kembali dan masih dengan posisi yang sama.
__ADS_1
" Jawab aku rainan, kau pasti dia aku paham bahwa kau tengah berbohong , ada apa dengamu? " tanya diyas lagi
" Su sudah ku katakan aku bukan rainan" jawab rainan kini menatap wajah diyas, dan tampak air mata kembali mengalir di pelupuk matanya.
" Aku bertanya sekali lagi rainan, apa kau rainaj yang aku kenal? " tanya diyas mencoba tegar bila ia mendengar kata bukan dari mulut rainan sendiri.
"Jika kau bukan rainan mengapa aku menangis dan berada di sini" guman diyas sambil menyeka air matanya. Rainan tetap terdiam dan masih tetap tak menoleh ke arah diyas. Tampak diyas yang masih tetap menyeka air mantanya dan menatap rainan.
__ADS_1
"Ba baikhlah kalau begitu, aku permisi maaf sudah mengaggumu" ucap diyas kemudian ia melangkah pergi berjalan hendak keluar dari ruangan itu.
Rainan membalikan wajahnya menatap kepergian diyas, namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu saat ia sudah memegang gagang pintu dan hendak memutarnya.
"Sengaja atau tidak bila kita bertemu, ingatlah bahwa aku tak mengenalmu yang ku kenal adalah rainan" ucap diyas, kemudian membuka knop pintu itu dan pergi melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu. Rainan terdiam seribu bahasa tak bisa betkata apa apa, rasanya ia ingin mengejar diyas dan memeluknya, namun semua itu sudah terlambat.Ia sudah melukai hatinya, mengapa ia tak jujur saja? mungkin bila ia jujur pada diyas dan menjelaskan semuanya, mungkin diyas akan mengerti dan akan tetap di sini, bukanya pergi dengan air mata yang masih menggenang dimatanya?
Rainan adalah lelaki yang jahat, yang sudah melukai hati seorang gadis mungil dengan ucapan dan kebohonganya, rasanya ia akan menjadi orang paling bersalah dalam hal ini? akankah diyas memaafkanya saat ia kembali dan akan tetap menjadi teman yang akan utuh dan selalu bertengkar? Tidak. Dia sudah melukai hati gadi mungil itu dan membuatnya berkata seperti itu? akankah harapanya akan pupus begitu saja? tidak. Ia harus berusaha membuat diyas kembali padanya dan memaafkanya. Diyas harus tetap bersama nya!!
__ADS_1