GAIRAH DUDA KECE

GAIRAH DUDA KECE
BAB 18. BIMO SAKIT_GDK


__ADS_3

Ketika mendapatkan pesan Whatsapp dari Almaira, mengingatkan kepada dirinya agar tetap istirahat dan Jangan berpikir yang aneh-aneh. Saat ini Bimo mengembangkan senyumnya menatap foto yang ada di layar ponselnya karena diam-diam Bimo mendokumentasikan kebersamaan Devan dan Almaira ketika berada di rumah sakit dan juga saat tidur berdua berpelukan dengan putranya.


"Astaga, berpikir apa aku ini! jangan terlalu jauh pemikiranmu, belum tentu juga Almaira memikirkan hal yang sama seperti yang kamu. Pikirkan bodoh..... bodoh....!" teriak Bimo sambil langsung mengetok-ngetok kepalanya.


Ketika Bimo terus menatap potret kebersamaan Almaira dengan Devan, akhirnya Bimo tertidur pulas mengarungi alam mimpinya.


****


Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Sinar mentari sudah menyinari setiap ruangan yang ada Ventilasi ataupun celah-celah yang dapat menembus cahaya sinar mentari masuk ke setiap ruangan. terkuat kecuali kamar yang selama ini ditempati Bimo.


Bimo masih tertidur pulas. Ia seolah lupa kalau dirinya saat ini harus segera pergi ke kantor, mengingat pagi itu ada meeting di kantor yang ia Pimpin. Almira melihat jarum jam yang ada di dinding.


"Mas Bimo Kok belum keluar ya? apa dia tidak masuk ke kantor Pagi ini? gumam Almaira di dalam hati mengkhawatirkan kalau Bimo akan telat pergi ke kantor. "Sayang tunggu di sini sebentar ya, jangan kemana-mana. Mami ingin memanggil Papi kamu. Siapa tahu Papi kamu belum bangun. Nanti papi kamu terlambat pergi ke kantor." ucap Almaira kepada Devan yang duduk menikmati sarapan pagi yang ada di sana.


"Ya coba kamu cek dulu, siapa tahu Bimo belum bangun. Nanti dia terlambat pergi ke kantor. ucap Nyonya Anita kepada Almaira agar Almaira segera membangunkan.


Tok....


Tok....


Tok......


suara ketukan pintu. Tetapi si pemilik kamar itu tak kunjung menjawab. Membuat Almaira sangat khawatir kalau terjadi sesuatu kepada Bimo.

__ADS_1


Beberapa kali menutup pintu, tetapi tak kunjung mendapat jawaban. Hingga Almaira memutuskan membuka pintu kamar itu, yang ternyata pintu kamar itu tidak terkunci. Ketika Almaira memberanikan masuk ke kamar yang selama ini ditempati oleh Bimo.


Almaira terhenyak melihat kamar itu yang terlihat luas mewah dan juga tertata rapi. seorang lelaki tetapi kamarnya terlihat bersih dan rapi. "Wah lelaki yang luar biasa." gumam Almaira di dalam hati sembari melihat wajah polos Bimo yang masih tertidur pulas.


Almaira memberanikan diri untuk menggoyang tubuh Bimo berharap Bimo dapat bangun dan pergi bekerja.


"Mas bangun, ini sudah siang. Apa mas tidak ke kantor?" ucap Almaira sambil menggoyang tubuh Bimo. Berharap Bimo terbangun dari tidurnya.


Tetapi ketika Almaira menggoyang tubuh Bimo, tetapi Bimo tak kunjung bangun dan sepertinya Bimo saat ini kurang sehat. Ia memegang dahi Bimo dan ternyata tubuh Bimo sangat panas sekali.


"Ya Allah tubuh Mas Bimo panas sekali." gumamnya dalam hati sambil langsung berlari keluar dari kamar mengambil kompres berharap kondisi kesehatan Bimo akan semakin membaik dan demamnya turun.


Dengan teladan Almaira mengompres kepala Bimo. "maaf tuan saya dengan terpaksa harus memegang tubuh tuan." ucapnya dengan nada pelan. Walaupun mata Bimo tertutup tetapi ia dapat mendengar apa yang diucapkan oleh Almaira kepadanya.


Bimo membuka netranya menatap Almaira ada kegelisahan di wajah Almaira ketika mengetahui kalau Bimo saat ini sedang sakit. "Mas Kenapa Mas bisa sakit seperti ini? Devan baru saja sembuh sekarang Mas yang sakit. Mas harus kuat dong, kan Mas Papinya Devan." ucap Almaira sembari terus mengompres bagian kepala Bimo.


"Maminya Devan yang cantik, Mas juga tidak mau sakit seperti ini. Tetapi sepertinya mas kurang istirahat. Kamu tahu sendiri kan ketika Devan berada di rumah sakit, mas harus bolak-balik kantor baru Rumah Sakit kembali. tidurnya tidak nyenyak dan juga menguras pikiran di kantor." ucapnya memberitahu Mengapa dirinya bisa sampai tumbang saat ini.


Almaira mengangguk paham apa yang diucapkan oleh Bimo benar adanya. Pastilah Bimo memang lelah, sehingga ia sampai meminta bantuannya untuk merawat Devan saat ini.


"lebih baik Mas sarapan dulu, karena sebentar lagi dokter akan datang memeriksa kondisi kesehatan Mas." ujar Almaira sambil menyuapi makanan yang sudah ia bawa sebelumnya dari lantai bawah.


Tiba-tiba saja Devan masuk ke kamar yang selama ini ditempati oleh Bimo. Papi sakit ya? tanya Devan yang mengkhawatirkan kondisi kesehatan Bimo saat ini. lihat Mas, Putra kamu juga mengkhawatirkan Mu. Jadi Mas harus segera sembuh. apa Mas ingin membuat Devan sedih ? Bimo menggelengkan kepalanya sambil mengunyah makanan yang sudah disuapi oleh Almaira kepadanya.

__ADS_1


Papi, lihat mami sangat sayang kepada Devan dan juga Papi. ucap devan sambil langsung memeluk Almaira tidak ingin kalau Almaira hanya saja memperhatikan Bimo. Almira menggelengkan kepalanya menatap Devan dan Bimo secara bergantian. "Ya Allah apa yang terjadi Mengapa aku merasa nyaman di tengah-tengah mereka." gumam Almaira di dalam hati.


Ketika Bimo sudah menghabiskan menu sarapan pagi yang sudah disediakan Almaira, kini dokter pribadi keluarga Setiawan sudah tiba menghampiri. Memeriksa kondisi kesehatan Bimo saat ini. Tampak dokter sekaligus sepupu Bimo mengembangkan senyumnya menatap kebersamaan Almaira Devan dan juga Bimo.


" kalau sudah cocok Kenapa tidak dijadikan saja bro?


"Awas kalau terlalu lambat, nanti akan saya sambar duluan." ucap dokter itu kepada Bimo tepat di telinga Bimo.


"Awas kamu macam-macam. Saya coret nama kamu menjadi sepupu Ku. Jika itu kamu lakukan. " Apa kamu tidak bosan apa, terus bermain-main kepada setiap wanita. Aku tidak akan mengizinkan kamu bermain-main dengannya. Karena dia wanita baik-baik dan jangan pernah berpikir di otakmu itu untuk membodohinya. Dengan cinta palsu mu itu.


Karena aku sangat mengetahui siapa kamu. apa tidak cukup wanita-wanita di sekelilingmu yang selalu membuatmu puas melakukan hal-hal yang selama ini kamu inginkan? Ingat tidak selamanya kamu bisa berbuat seperti itu. Nggak malu apa, umur yang sudah tua seperti itu tapi tak kunjung menikah.


"Putraku aja sudah besar seperti ini, Bahkan aku sudah hampir dua kali kamu masih sekalipun belum. Jadi kamu tidak ada tandingannya denganku." ucap Bimo merasa marah mendengar dirinya akan bersaing mendapatkan hati seorang wanita.


Aku tidak peduli apa yang Kakak ucapkan. yang penting sepertinya aku menyukai dan mencintai wanita itu." ucap dokter itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Almaira memilih meninggalkan keduanya di sana daripada mendengar suara krasak khusuk yang tidak jelas ia dengar. Daripada harus duduk di sana mendengar yang tidak ia mengerti.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2