
Bimo berlalu meninggalkan ruang rawat inap yang ditempati oleh Devan saat ini. mengingat hari sudah malam sepertinya Almaira belum makan, Bimo pergi ke sebuah restoran yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit.
Setelah membeli 3 kotak makanan, Ia pun kembali ke rumah sakit menghampiri Devan dan juga Almaira. "Ini makan dulu pasti kamu sudah lapar, Soalnya kamu makannya tadi siang hanya makan roti doang." ucap Bimo kepada Almaira sembari menyodorkan kotak makanan yang sudah ia beli sebelumnya.
Almaira mengembangkan senyumnya. Jujur Almaira memang sudah sangat lapar. Cacing cacing di perutnya sudah berdemo meminta jatah. Untung saja Bimo paham kalau saat ini Almaira sudah lapar.
"Alhamdulillah ternyata Tuan Bimo paham kalau saya sudah lapar." gumamnya dalam hati sembari meraih kotak makanan itu dari tangan Bimo. "Ayo dimakan Jangan dilihat melulu." ujar Bimo agar Almaira menyantap makanan yang sudah dibeli Bimo.
"Ini pasti saya makan, karena kebetulan cacing-cacing di perut saya sudah berdemo meminta jatah. Tuan tenang saja." sahutnya sambil nyengir kuda dan membuka kotak makanan yang sudah ia pegang. Almaira mulai menyendok makanan itu ke mulutnya lalu mengunyahnya menikmatinya perlahan demi perlahan hingga isi dalam kotak makanan itu ludes tanpa sisa.
"Alhamdulillah atas rezekimu hari ini ya Allah ucap Almaira ketika dirinya sudah selesai menyantap menu makanan yang diberikan oleh Bimo kepadanya.
****
Pagi hari yang indah matahari sudah mulai terbit di ufuk timur. Almaira yang masih tertidur di kursi di samping Devan, ia pun terbangun melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 04.50 subuh ia berlalu ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Ia pun berlalu ke mushola yang ada di rumah sakit. "Lebih baik aku salat di mushola saja. Sepertinya di kamar ini tidak ada telekung dan juga sajadah." gumam Almaira dalam hati sembari meninggalkan Devan dan Bimo yang masih tertidur pulas di sana.
Bimo terbangun dari tidurnya, ketika Almaira keluar dari ruang rawat inap yang ditempati Devan. "Kemana dia? kalau kembali ke panti, kok cepat banget pagi-pagi sekali seperti ini? tanya Bimo di dalam hati sember bangkit dari tempat duduknya membuka pintu melihat arah kemana tujuan Almaira pergi.
Bimo sengaja mengikuti Almaira diam-diam dari belakang. Ia terhenyak ketika melihat Almaira masuk ke dalam mushola, dan melakukan salat subuh disana, dengan memakai telekung dan sajadah yang disediakan oleh pihak rumah sakit yang ada di mushola itu.
"Gadis saleha!" gumam Bimo takjub melihat Almaira yang tidak lupa melakukan kewajibannya sebagai umat beragama. Bimo berlalu meninggalkan Almaira begitu saja takut Devan terbangun dan tidak menemukan siapa-siapa di ruang rawat inap yang ditempati oleh Devan.
Kini Bimo duduk tepat di samping branker yang ditempati oleh Devan. Menatap putranya dengan tatapan kasih sayang.
"Alena Apa kamu tahu, Putra kita butuh kasih sayang seorang ibu. Hingga ia memanggil seorang gadis kecil dengan panggilan mami. kenapa kamu harus pergi secepat ini Alena? batin Bimo yang tidak tega melihat putranya.
__ADS_1
Ketika Bimo larut dalam lamunannya Almaira masuk menghampiri Devan dan Bimo."loh Tuan Bimo Sudah bangun? tanya Almira karena melihat Bimo Sudah duduk tepat di samping Devan.
"Kamu dari mana? Bimo pura-pura tidak mengetahui kalau Almaira pergi ke mana subuh itu.
"Maaf tuan saya harus meninggalkan Devan sebentar. tapi hanya sebentar kok, ke musala sekitar 10 menit. sahut Almaira sambil menundukkan kepalanya.
Bimo mengangguk lalu menatap Almaira dengan tatapan penuh arti. "Apa kamu keberatan menjaga devan disini.
"Tentu tidak Tuan, Kalau saya tidak memiliki mata kuliah hari ini saya pasti akan menjaganya. Tapi maaf, hari ini Almira ada jam kuliah pukul 08.00 pagi. Almaira harus masuk ke kampus.
Mungkin pulangnya sekitar pukul 12.00 siang kebetulan mata kuliah hari ini lumayan padat. Nanti setelah saya pulang dari kampus, Almaira akan kembali ke sini lagi." ucap Almaira sambil mengelus rambut Devan dengan penuh kasih sayang dan memberikan kecupan hangat di kening Devan.
"Wanita ini sepertinya menyayangi Putraku dengan tulus." gumam Bimo di dalam hati sumber terus memperhatikan gerak-gerik Almaira terhadap putranya. Tiba-tiba Devan terbangun
"Mami?" panggilan itu, yang langsung keluar dari mulut Devan walaupun bicaranya belum kurang jelas. Bimo membulatkan matanya, seolah putranya tidak mempedulikan kehadirannya di sana.
"Tentu dong Sayang, tidak mungkin Mami meninggalkan kamu sendiri di sini. Mami sayang sama Devan, tapi Devan harus cepat sembuh dan Jangan membantah Papi.
"Tapi maaf, untuk pagi ini mami harus berangkat ke kampus menuntut ilmu agar mami pintar. ijinin mami pergi ya, Mami janji akan kembali lagi menemani Devan di sini. ucap Almaira dengan nada memelas.
"Kampus itu apa Mami?
"Tempat belajar untuk orang-orang besar sayang?
"Mami masih sekolah?
tanya Devan yang semakin penasaran.
__ADS_1
Membuat Almaira semakin gemas melihat bocah kecil itu yang ingin tahu segala urusan Almaira. Almaira meraih tubuh Devan kepelukannya, lalu ia menghujani wajah tampan bocah kecil itu dengan kecupan.
"Kamu memang membuat Mami gemes. Tidak apa-apa kan sayang mami tinggal dulu, nanti mami janji deh Mami akan kembali lagi ke sini."ucap Almaira sembari wajahnya memelas berharap Devan tidak rewel saat ia tinggalkan.
"Tapi Mami janji kan? Kalau Mami akan cepat kembali setelah siap sekolah.
"Mami janji sayang, kita tos dulu dong! kamu kan anak yang pintar dan menurut kepada orang tua." ucap Almaira sambil mengangkat telapak tangannya agar kedua insan berbeda generasi itu tos bareng pertanda persahabatan dan setuju Kalau satu sama lain memenuhi janjinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, Almaira berpamitan kepada Bimo dan juga Devan. "Kamu saya antar saja!"
"Tidak perlu Tuan, Kalau tuan menghantarkan saya Siapa yang menjaga Devan di sini?
"Ada dokter dan suster!"
"Tidak Tuan, Lebih baik saya naik ojek aja atau naik angkutan umum. Saya tidak ingin membiarkan Devan tinggal sendiri di sini Walaupun ada dokter dan suster.
Seandainya saja Almaira tidak ada mata kuliah hari ini, Almaira akan tetap menemani Devan di sini. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan bocah kecil setampan Devan yang membuat hatiku gemas sendiri disini.
"Jadi lebih baik Tuan di sini saja, menjaga Devan sebelum aku kembali.
" Jika Tuan membutuhkan sesuatu, jangan segan-segan memberitahu kepadaku. Selagi Almaira mampu melakukannya, Almaira pasti akan melakukan." ucapnya sambil memberi salam kepada Bimo lalu memberikan kecupan hangat di wajah tampan Devan. Almira berlalu dari rumah sakit, menuju panti asuhan kasih bunda yang selama ini mereka tempati.
Bersambung...
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1