
Sebelum mengetuk pintu apartemen milik Bimo, Almira menghela nafas panjang memberanikan diri mengetuk pintu lelaki yang sudah membuat hidupnya berubah.
mam Kenapa belum masuk apa papi tidak ada di dalam?
Almaira memberanikan diri mengetuk pintu apartemen milik Bimo.
Tok....
tok....
tok. .. suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Bimo, yang sedang asyik berkutat di laptopnya. Siapa yang mengetuk pintu sekarang? bukankah Gabriel sudah mengantarkan berkas dan membawanya kembali ke kantor, setelah aku tanda tangani? gumam Bimo di dalam hati.
Iya meninggalkan laptop miliknya yang berada di atas meja. Berlalu membuka pintu setelah mendengar suara ketukan beberapa kali. Ketika Bimo membuka pintu apartemen miliknya. Ia Terhenyak melihat kehadiran wanita pujaan hatinya berada di hadapannya bersama putranya.
"Almaira, Devan Kok bisa ada di sini?
Bimo langsung meraih tubuh Devan dari gendongan Almaira. "Ada apa Putra Papi yang tampan Mengapa sampai nyamperin Papi ke sini?
"Devan rindu sama papi, apa papi tidak merindukan Devan? Bimo mengembangkan senyumnya.
"Siapa bilang Papi tidak merindukan Devan Papi sangat merindukan Devan. Tetapi ada hal yang perlu papi kerjakan. Sehingga Papi tidak bisa kembali ke rumah.
"Apa sebentar saja tidak bisa pulang ke rumah untuk melihat wajah tampan putramu ini? bocah kecil yang terlihat menggemaskan itu melontarkan pertanyaan kepada Bimo yang mampu membuat Bima geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka kalau putranya berpikir sampai kesana.
Bimo kembali memberikan kecupan hangat di wajah tampan putranya dan melampiaskan rasa rindunya, setelah dua hari tidak bertemu. "Almaira, Terima kasih sudah mengantarkan Devan datang ke sini." ucapnya tanpa menatap wajah Almaira dan fokus menata putranya.
"Silakan duduk Almaira." ucapnya sambil meregangkan pelukannya dari Devan dan berlalu ke dapur mengambil minuman yang ada di kulkas. "Minumlah, Kau pasti sudah lelah menggendong Devan datang ke sini." ucapnya menyodorkan minuman soda yang ada di dalam kulkas.
Almaira sama sekali tidak berbicara kepada Bimo saat itu. Dan memilih bermain bersama dengan Devan dan juga Bimo di sana. Hingga Devan merasa dirinya sudah mengantuk dan terlihat sesekali menguap hingga tertidur di sofa.
__ADS_1
"Astaga, Putraku sampai tertidur Mungkin dia sudah lelah bermain."
Almaira menatap wajah polos Devan dengan seksama. "Biar aku gendong ke kamar, Bimo langsung menggendong tubuh mungil Devan masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur yang berukuran King size itu. Berharap putranya dapat tidur dengan nyaman dan tertidur pulas.
Bimo kembali menghampiri Almira yang sedang duduk di sofa. "Katakan Mengapa mas tidak pulang dua hari ini ke rumah? apa mas memang benar-benar sibuk hingga tidak memiliki waktu bertemu dengan Putraku?
"Aku sangat sibuk beberapa hari ini hingga tidak memiliki waktu kembali ke rumah.
"Bohong! teriak Almaira yang mampu membuat Bimo terhenyak.
"Katakan saja dengan jujur, Mengapa mas tidak pulang ke rumah? dan Apa alasan Mas hingga pergi ke sebuah klub malam dan mabuk saat itu? hingga mas tidak bekerja dengan maksimal di kantor hingga kantor mengalami kerugian.
"Mengalami kerugian di kantor sesekali itu biasa. Kita tidak mungkin terus meraih keuntungan. dan sepertinya itu tidak masalah kerugiannya juga tidak cukup besar dan berdampak ke perusahaan.
Tidak besar bagaimana? jika begitu Terus, apa yang akan terjadi ke perusahaan Setiawan grup. lebih baik Mas berterus terang kepada Almaira tidak perlu menutupi segala sesuatu.
Bimo memalingkan wajahnya dari Almaira. tatapan Almaira yang membuat denyut jantung Bimo berdegup kencang.
"Bohong!" lagi-lagi Almaira berteriak mengatakan kalau Bimo berbohong.
"Kenapa kamu seperti ini? teriaknya dengan nada meninggi. Almaira berharap Bima berterus terang kepadanya.
"Karena aku mencintaimu Almaira, tapi kamu lebih memilih pergi dengan lelaki lain." ucap Bimo keceplosan. "Jika kamu benar-benar mencintaiku, Mengapa kamu tidak mengatakannya memang sebenarnya. Mengapa harus pergi ke klub malam dan mabuk-mabukan dan menghindar? teriak Almaira yang sudah sangat emosi melihat sikap kekanak-kanakan Bimo. Padahal dirinya sudah sangat dewasa. Bandingkan dengan Almaira.
Aku tidak sanggup kehilangan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya. ucap Bimo dengan nada suara yang meninggi. Almaira menggelengkan kepalanya, Bagaimana sikap seorang CEO yang lemah seperti ini tanpa mencari tahu yang sebenarnya sudah beranggapan negatif.
Kalau kamu memang benar-benar mencintaiku Seharusnya kamu mencari tahu terlebih dahulu. Bukan menyiksa diri sendiri seperti ini dan menyiksa Putraku. Kalau kau tidak menyayangi Putraku, aku bisa menyayanginya dengan tulus.
Jangan membiarkannya menanti kedatanganmu, sampai dia memintaku untuk bertemu dengan kamu. itu berarti kamu tidak menyayangi dia, ingin bertemu dengannya. "Aku Yang merindukan kamu, Apa kamu tahu? hatiku tersayat saat dia mengatakan ingin bertemu denganmu karena dia sangat merindukan kamu. ucap Almaira dengan emosi.
__ADS_1
Bimo terdiam tidak mampu menjawab apa yang diucapkan oleh Almaira. Karena apa yang dikatakannya benar adanya Bimo merasa dirinya seperti seorang pengecut.
"Maafkan aku atas kesalahanku saat itu. Jujur aku melakukannya di luar kendaliku. Akibat alkohol yang aku minum terlalu banyak.
Aku tidak ingin berniat melecehkan mu,
Tetapi ketika aku mengingat kedekatanmu dengan seorang pria di cafe itu, membuat aku semakin stress dan lepas kendali. Karena Ingin sekali aku memilikimu dan kau menjadi pendamping hidupku untuk selamanya dan menjadi maminya Devan untuk selamanya.
Bimo langsung memeluk Almaira. Almaira sama sekali tidak memberontak. "Jangan lakukan lagi seperti itu. Aku tidak suka. kalau kau memang benar-benar mencintaiku, Seharusnya kamu merebut hatiku jangan seperti ini.
Yang kamu lihat, belum tentu benar adanya. dosen itu memang mencintaiku. Tetapi aku sama sekali tidak mencintainya. Karena hatiku sudah milik seseorang.
"Milik siapa? apa milik pria yang bersama mu pergi ke minimarket dan merangkul mu saat kamu keluar dari ruang dosen?
lagi-lagi Bimo menuduh Almaira memiliki hubungan dengan Ricardo. "Astaga Mas yang merangkulku itu sahabatku Ricardo tidak mungkin aku memiliki hubungan dengannya.
"Bagaimana tidak mungkin? bisa saja dia diam-diam mencintaimu, dan kau juga diam-diam mencintainya.
Almaira mengembangkan senyumnya. kau cemburu melihat kedekatanku dengan lelaki lain, seharusnya kau merebut hatiku bukan Malah seperti ini.
Jadi siapa lelaki yang beruntung mendapatkan hatimu?" tanya Bimo yang sangat penasaran sambil meregangkan pelukannya duduk kembali di sofa diikuti oleh Almaira.
Almaira tidak menjawab. ia hanya mengembangkan senyumnya menatap pria yang ada di hadapannya yang sudah sangat cemburu kalau Almaira memiliki hubungan dengan sang dosen dan juga Ricardo. Yang jelas-jelas itu tidak mungkin bagi Almaira.
Karena Almaira sama sekali tidak mencintai Kedua lelaki itu. Yang satu sang dosen pembina skripsi sementara Ricardo sahabat Almaira. Walaupun Ricardo diam-diam mencintai Almira, tetapi Almaira sudah menganggapnya best friend forever sama seperti Stefani.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓