
Bimo melajukan mobil miliknya ke arah jalan raya menuju apartemen miliknya, meninggalkan Panti asuhan kasih bunda. tentunya setelah berpamitan kepada Ibu Fatimah dan anak-anak Panti lainnya.
Berat rasanya Almaira meninggalkan panti asuhan itu kembali. Karena ia sangat menyayangi anak-anak panti itu dan juga Ibu Fatimah. Seperti yang sudah kita ketahui, kalau Almaira dibesarkan dan dirawat oleh ibu Fatimah di Panti asuhan itu. Hingga Almaira sampai menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.
Sampai suatu ketika Tuan Bimo Setiawan meminta Almaira untuk tinggal di rumah utama keluarga Setiawan, merawat Devan Sang putra yang begitu menyayangi Almaira. Begitu juga dengan Almaira menyayangi Devan Putra kandung dari Bimo Setiawan dengan segenap hati yang tulus.
Kedekatan Devan dengan Almaira membuat tembok pertahanan hati Bimo yang dulu membeku, saat ini sudah dapat mulai menerima wanita lain di hatinya. Setelah almarhumah istrinya meninggal akibat kecelakaan beruntun di tol Jagorawi di tahun yang lalu.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, Mereka pun tiba di apartemen milik Bimo Setiawan. Ia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.
Ketika Almaira melihat Devan sudah tertidur pulas Di pangkuannya, ia merasa tidak tega membangunkannya dan memilih menggendong Devan sampai ke dalam apartemen milik Bimo dan membaringkannya di sana.
Sepertinya Putraku sudah kelelahan bermain dengan adik-adik panti." ucap Almaira sangat gemas melihat wajah polos wajah tampan bocah kecil yang mengharapkan kehadirannya di sana. "Mas bagaimana Almaira akan menginap disini malam ini, sementara baju ganti Almaira tidak ada. Kalau Devan masih ada baju ganti, Almaira bawa sebelum datang ke sini." ucap Almaira mengeluh.
Bimo langsung meraih ponsel miliknya menghubungi seseorang. Yang pasti Almaira tidak mengetahui siapa yang dihubungi oleh Bimo saat ini. "Kau hantarkan baju ganti untuk Almaira sekarang juga. Aku tidak mau tahu 20 menit lagi kau harus tiba di sini." perintah Bimo kepada salah satu asistennya.
lalu Bimo langsung memutuskan sambungan telepon selulernya dan kembali menghampiri Almaira.
"Sayang kamu wisuda kapan?
"Bulan depan mas. Memangnya ada apa Mas?
"Tidak apa-apa senang aja mendengar keberhasilan mu sudah meraih gelar sarjana." ucap Bimo sambil meraih tubuh Almaira ke pelukannya. Almaira sedikit merasa minder dengan sikap manis Bimo terhadapnya.
Ia merasa tidak pantas mendapatkan sikap manis Bimo terhadapnya. Tetapi sepertinya Bimo seolah tidak peduli. Ia terus memeluk Almaira dan semakin mengeratkan pelukannya. "Mas lebih baik Mas istirahat. besok Mas makan ke kantor bukan? tanya Almaira penuh selidik.
__ADS_1
Almaira mendudukan bokongnya di sofa sambil menghidupkan layar televisi. Bimo langsung membaringkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di pangkalan paha Almaira. Almaira mengelus rambut Bimo dengan penuh kasih sayang.
Tampak Bimo merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari Almaira. "Almaira Aku sangat mencintaimu dan Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. ucap Bimo kepada Almaira sambil menatap wajah Almira dengan tatapan penuh cinta.
"Mas lebih baik berpikir matang-matang. jangan menyesal nanti. Mas tahu sendiri kalau Almira ini siapa yang hanya terlahir dan dibesarkan di Panti asuhan. Bahkan keluarga Almaira juga tidak tahu siapa seluk-beluknya. ucap Almaira merasa minder mendampingi Bimo.
"Mas tidak peduli kamu dibesarkan dimana, dan terlahir dari keluarga mana. Yang pasti sangat mencintaimu. Mas berharap kamu juga dapat menyayangi Devan dengan tulus seperti Putra kandungmu sendiri. "Aku sangat sayang dan tulus menyayangi Devan. Bukan karena mas atau siapa-siapa. Yang pasti Almaira sudah menganggap Devan sebagai Putra kandung Almaira sendiri, walaupun Devan tidak terlahir dari rahimku." sahut Almaira sambil terus mengelus rambut Bimo.
" Terima kasih sayang kamu sudah hadir di kehidupan Mas. Kehadiran kamu di kehidupan Mas, membuat hidup Mas semakin berwarna." ucap Bimo sambil mengembangkan Senyumnya.
"Sayang lebih baik kita istirahat, Putra kita juga sudah tertidur pulas." ucapnya sambil bangun dari pangkalan paha Almaira diikuti Almaira masuk ke dalam kamar. Almaira membaringkan tubuhnya di samping kanan Devan. Sementara Bimo membaringkan tubuhnya di samping kiri Devan.
Terlihat Devan berada di tengah-tengah Almaira dan juga Bimo mereka seperti keluarga yang sangat bahagia. Entah karena faktor sudah terasa ngantuk, Almaira Langsung tertidur pulas mengarungi alam mimpinya.
Berbeda dengan Bimo yang masih tetap setia menatap wajah polos Almaira dari sisi kiri. "Aku ingin kita tidur bersama seperti ini selamanya. Putraku Devan pasti akan bahagia aku berjanji setelah kamu wisuda nanti aku akan melamarmu dan menjadikanmu menjadi ratuku."gumam Bimo dalam hati sambil mengembangkan senyumnya, menatap wajah polos Almaira yang sedang tertidur pulas. Tidak Berapa lama, kini Bimo juga mengikuti Almaira tertidur pulas mengarungi alam mimpinya
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Almaira terbangun dari tidurnya, Ia pun bangkit dari pembaringannya membiarkan Devan dan Bimo masih tertidur pulas. ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Almaira langsung memakai pakaiannya sebelum Bimo terbangun dari tidurnya. Ia berlalu ke dapur setelah memastikan penampilannya sudah terlihat rapi. Ia berniat untuk menyiapkan sarapan pagi kepada kedua lelaki berbeda generasi itu.
Aku akan membuatkan sarapan untuk Mas Bimo. Seperti apa yang dikatakan mas Bimo Sebelumnya, dia menyukai masakanku." gumamnya dalam hati sembari melihat persediaan bahan makanan yang ada di dalam kulkas.
"Astaga, persediaan bahan makanan di kulkas sama sekali tidak ada. Itu artinya aku tidak dapat memasak saat ini. Kami sarapan apa pagi ini? gumamnya dalam hati sembari mencari-cari bahan makanan yang bisa diolah. Tetapi sama sekali tidak ada di apartemen milik Bimo.
"Cari apa sayang? suara Bimo mengejutkan Almaira.
__ADS_1
"Cari bahan makanan yang bisa diolah untuk sarapan pagi, tetapi di kulkas ini tidak ada sama sekali.
"Iya Mas lupa meminta Bibi membelanjakan persediaan bahan makanan di sini.
"Ya sudah, kali ini kita sarapan di luar saja Dibalas anggukan dari Almaira. Almaira pergi menghampiri Devan yang sudah bangkit dari pembaringannya. Almaira Menatap putranya yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Devan mengucek kedua kelopak matanya lalu memanggil Almaira. "Mami?" teriaknya sembari beranjak dari tempat tidur langsung berlari memeluk Almaira. Almaira memberikan kecupan hangat di wajah tampan Devan.
Cup...
" Morning Putra Mami yang tampan." ucap Almaira sambil mengacak acak rambut bocah kecil itu, yang terlihat menggemaskan.
"Papinya juga ingin mendapatkan morning kiss dong." ucap Bimo sambil terkekeh
Almaira menggelengkan kepalanya menatap Bimo dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Kemudian Ia pun membawa Devan masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. karena Almaira mengetahui pagi itu Bimo harus segera berangkat ke kantor untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai CEO perusahaan yang dipimpin oleh Bimo sendiri.
Terlihat Devan sudah tampak rapi dan tampan. "Wah Putra Papi sudah sangat tampan sekali, tidak kalah tampan dari Papinya."ucap Bimo sambil langsung meraih tubuh depan ke pelukannya.
"Tampan Nan juga Devan."sahut Devan memuji dirinya sendiri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓