GAIRAH DUDA KECE

GAIRAH DUDA KECE
BAB 77.MENIMAMG CUCU_GDK


__ADS_3

Tuan Anggara meminta kepada sopir pribadinya untuk segera melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Sekitar 30 menit kemudian, mereka pun tiba di rumah sakit. Tuan Anggara keluar dari mobil miliknya. Lalu ia pun langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sakit, diikuti dengan nyonya Anjani.


Salah satu suster yang kebetulan bertugas di sana, di hampiri oleh Tuan Anggara untuk bertanya, di mana keberadaan ruang rawat inap putrinya. Saat Tuan Anggara dan nyonya Anjani sudah mengetahui Di mana keberadaan ruang rawat inap Almaira mereka berlari ke sana.


Saat berada di depan ruang VVIP yang ada di rumah sakit, Nyonya Anjani langsung berlari menghampiri Almaira dan menangis sesungguhkan.


"Kamu kenapa Sayang? apa yang sakit dan kenapa kamu bisa sampai dirawat di sini?" tanya Nyonya Anjani bertubi-tubi.


"Ini yang tidak aku suka dari kamu Mas. memberitahu kabar setengah-setengah membuat Mami dan Papi panik." gerutu Almaira sambil menatap Bimo dengan tatapan tajam.


"Mami tidak perlu menangis. Almaira Tidak kenapa-kenapa kok. Tuan anggaran langsung meraih tubuh putrinya kepelukannya. ia begitu sedih melihat putrinya berbaring di atas branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Apalagi Ia benar-benar sangat khawatir kalau mereka kembali kehilangan Putri mereka. Putri yang selama ini mereka cari-cari.


"Kamu Kenapa sayang, kenapa sampai kamu dirawat seperti ini?


"Almaira tidak apa-apa mon, Almaira baik-baik saja.


"Kalau kau baik-baik saja, tidak mungkin kamu dirawat di sini.


Nyonya Anita yang melihat wajah kepanikan Di wajah Nyonya Anjani dan Tuan Anggara mengembangkan senyumnya. "Jeng tidak perlu khawatir. Kita juga pernah mengalami yang hal yang sama seperti yang dialami oleh Almaira. Namanya juga ibu muda yang sedang hamil muda. Selera makannya berkurang, dan stamina juga pasti berkurang. itu makanya dia sampai dirawat di sini." ucap Nyonya Anita membuat Nyonya Anjani dan Tuan Anggara terhenyak.

__ADS_1


"Maksud jeng?


"Iya sebentar lagi kita akan memiliki cucu?


"Cucu?


"Berarti Almaira sedang hamil?


Almaira mengganggukan kepalanya, lalu Bimo pun mengembangkan senyumnya melihat raut kebahagiaan di wajah Nyonya Anjani dan Tuan Anggara.


"Alhamdulillah...., sebentar lagi aku akan menimang cucu. Terima kasih ya Allah atas berkah yang engkau berikan kepada hamba. doa-doa hamba akhirnya engkau kabulkan ya Allah. Doa Nyonya Anjani dan Tuan Anggara langsung bersujud syukur di samping branker yang ditempati oleh Almaira.


Nyonya Anjani bangkit kembali, lalu meraih tubuh putrinya kepelukannya. "Selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Mami benar-benar bahagia mendengar kabar bahagia ini. Dan ingat kamu tidak boleh terlalu kecapean. Kau harus istirahat total. Mami tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu.


Tuan Anggara tidak kalah cerewet dari Nyonya Anjani. Ia juga melarang Almaira terlalu kecapean. Bahkan Tuan Anggara meminta untuk dia sendiri kembali menangani perusahaan, agar Almaira dapat istirahat total.


"Papi dan Mami tidak perlu khawatir. Almaira baik-baik saja kok. Almaira masih bisa bekerja.


"Sudah, Papi Katakan tidak ya, tidak. Harta suami kamu dan harta Papi tidak habis tujuh turunan. Jadi tidak bekerja bertahun tahun pun kamu tidak masalah." gerutu Tuan Anggara yang melihat putrinya begitu keras kepala, untuk tetap bekerja walaupun dirinya masih dalam kondisi hamil.


"Iya sayang, mas tidak akan membiarkan kamu bekerja. Karena mas tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Kamu harus benar-benar istirahat total, sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh dokter sebelumnya. Jangan membantah kau harus menurut, bukan hanya mas yang melarang kamu. Tapi Papi dan Mami juga.


Almaira sama sekali tidak dapat menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Karena tak ada seorangpun yang mendukung dirinya kembali bekerja saat dirinya masih hamil.

__ADS_1


"Ya sudah deh, diantara Kalian tidak ada yang mendukungku untuk aku tetap bekerja. Almaira mau bilang apa? ucap Almaira dengan nada lesu dan wajah murung.


"Wajahnya jangan murung seperti itu, terlihat jelek. Kecantikanmu jadi hilang nanti." ucap Tuan Anggara sambil terkekeh menatap wajah murung putrinya. Nyonya Anjani dan nyonya Anita pun ikut terkekeh menatap Almaira dengan tatapan penuh arti.


Sementara Bimo tidak berani menertawakan istrinya karena ia khawatir, Almaira mengancamnya tidur di luar Selamat satu minggu. Dan itu membuat Bimo tidak sanggup tidur berjauhan dengan istrinya.


"Mas tidak menertawakan Almera juga? tanya Almira yang sudah terlihat kesal


"Tidak sayang, mana mungkin Mas menertawakan istri mas yang paling cantik dan yang paling Mas cintai ini." ucap Bimo sambil langsung mengecup bibir manis Almaira, di hadapan Tuan Anggara, Nyonya Anjani dan juga Nyonya Anita. Membuat Almaira merasa malu dan wajahnya sudah merah merona seperti kepiting rebus.


"Mas, malu tahu. Di hadapan Mami dan Papi gerutu Almaira.


Tidak apa-apa, mereka juga pernah muda. bukan, dan lagian kita sudah halal." sahut Bimo, cuek saja tanpa melihat Tuan Anggara, Nyonya Anjani dan Nyonya Anita.


Nyonya Anita menjewer telinga Bimo hingga Bimo pun meringis.


"Papi kamu sudah tidak ada lagi. Jangan membuat Mami jealous, melihat kemesraanmu itu." gerutu nyonya Anita yang mampu membuat orang-orang yang di sana tertawa ngakak.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak "Antara kutub Utara dan Selatan.(YOU & ME)



__ADS_2