
Zein penasaran Mengapa sahabatnya Bimo menghibur dirinya ke sebuah klub malam. padahal yang ia ketahui Bimo jarang sekali menghibur diri pergi ke klub malam Ia hanya disebutkan dengan pekerjaannya. Paling Jika ada yang mengundang dirinya merayakan pesta ulang tahun atau reunian saja.
"Pasti ada sesuatu yang dipikirkan Mengapa dirinya sampai seperti ini gumam Zain dalam hati. Dentuman musik sudah mulai menggemati seisi ruangan club. para pengunjung yang hadir di sana untuk menghibur diri telah menikmati dentuman musik itu. Bimo masih setia dengan minumannya, sementara sang sahabat Zain. memilih untuk berjoget bersama dengan wanita penghibur di sana.
Zain juga meminta kepada wanita penghibur di sana datang menghampiri Bimo berniat untuk menghibur Bimo. salah satu wanita berpras cantik seksi dilengkapi dengan gaun kurang bahan yang memperlihatkan belahan dadanya menghampiri Bimo yang duduk tepat di depan meja bartender.
"perlahan wanita itu mulai menggoda Bimo, memberikan kecupan hangat di wajah tampan. lalu mengelus-halus dada bidang Bimo dari dada beralih ke pangkalan paha milik Bimo tetapi Bimo tidak memiliki respon apa-apa dan terus meneguk minuman yang ada di hadapannya. Wanita itu tidak putus asa, Ia berusaha untuk menaikkan gairah Bimo. Kini wanita itu sudah berani ingin memegang pusaka milik Bimo yang bersarang di dalam sana. Tetapi sebelum wanita itu menyentuhnya, tangan Bima sudah mencengkram leher wanita itu.
"Enyah dari hadapanku kalau kau tidak ingin mati." ucap Bimo yang mampu membuat wanita itu menjadi ketakutan. Wanita itu berusaha memohon kepada Bima agar segera melepaskannya karena ia sudah kesulitan untuk bernafas akibat cengkraman tangan Bimo yang begitu membuatnya sulit bernapas.
Wanita itu berlalu pergi dari sana. "Dasar laki-laki gila." gumam wanita itu setelah dirinya terlepas dari cengkraman Bimo. sementara Bimo terus meneguk minuman yang ada di hadapannya hingga tubuhnya benar-benar sudah tidak berdaya. ucapan-ucapan rancu keluar dari mulutnya. melihat kondisi sahabatnya yang terlihat sudah sangat mabuk, Zain pun memutuskan untuk menghantarkan Bimo terlebih dahulu pulang ke rumah. Apalagi Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
__ADS_1
Zain berusaha membopong tubuh Bimo masuk ke dalam mobil milik Bimo. Sementara mobil yang dikendarai Zain masih terparkir di parkiran klub malam itu. Zain melajukan mobil milik Bimo menuju rumah utama keluarga Setiawan. petugas keamanan di sana langsung membuka pintu gerbang lebar karena melihat mobil milik Bima sudah berada di pintu gerbang.
Mereka sedikit heran dengan kepulangan Bimo yang sudah pukul 03.00 dini hari padahal Bimo tidak pernah pulang selarut itu. Apalagi setelah almarhumah istrinya mah tidak ada lagi membuat dirinya menghabiskan waktu di rumah dan di kantor, saja. Untuk merawat Nyonya Anita dan juga Devan.
Zain langsung turun dari dalam mobil membuka pintu mobil dari sisi lain dan membantu turun dari mobil Lamborghini milik Bimo. Terlihat Bimo sudah sangat mabuk sekali akibat pengaruh alkohol yang dia minum terlalu banyak.
Bimo masuk dengan langkah yang oleng-oleng maju mundur untuk saja Zain. masih setia membantu dirinya masuk ke dalam rumah. Almaira yang terhenyak mendengar suara teriakan Bimo langsung terbangun dari tidurnya. Bimo berteriak-teriak seperti anak kecil terkadang ia menangis terkadang dia tertawa. Membuat tidur Almaira menjadi terusik.
"Ha ha ha Kau tanya aku Mengapa aku seperti ini? itu semua karena kamu. ucap Bimo membuat Almaira mengerutkan keningnya.
"Ada apa denganku mengapa dia mengatakan seperti itu? gumam Almaira dalam hati. tiba-tiba saja cairan putih keluar dari mulut Bimo ia membentakkan seluruh isi perutnya. Almaira memanggil salah satu asisten rumah tangga di sana untuk membantu dirinya membopong tubuh Bimo masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Apa yang terjadi kepada Tuan Almaira?
"Almaira juga tidak mengetahuinya tapi yang pasti Tuan Bimo menjerit-jerit ketika salah satu temannya menghantarkannya ke rumah. ketika mereka membopong tubuh Bimo masuk ke dalam kamar, Bimo kembali mengoceh, dan meminta agar asisten rumah tangga itu meninggalkannya tidak perlu membantunya.
Pergilah aku tidak butuh bantuanmu aku bisa jalan sendiri ucapnya sambil berusaha bangkit. Tetapi ia tidak mampu melakukannya. Almaira kembali meraih tugu Bimo. "Mas jangan seperti ini apa mas tidak kasihan melihat Devan, Mengapa Mas melakukan ini? ucap Almaira kepada Bimo. Bimo hanya tertawa dan menangis membuat Almaira sedikit bingung.
Sementara di tempat lain Nyonya Anita yang tidak mampu melakukan apa-apa sudah mendengar rancuan putranya. Sejujurnya ia ingin bangkit dari pembaringannya, ingin berbicara kepada putranya. Tetapi ia tidak mampu melakukan sendiri tanpa dibantu orang lain.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓