GAIRAH DUDA KECE

GAIRAH DUDA KECE
BAB 7. KAU MAMIKU_GDK


__ADS_3

"Maaf kenapa kamu menangis?


buru-buru Almaira menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat cengeng. Ia memalingkan wajahnya dari Bimo.


"Tidak, saya tidak menangis. Mata saya hanya kelilipan saja." sahutnya sambil berusaha mengembangkan senyumnya menatap pria yang ada di hadapannya secara bergantian dengan bocah kecil yang sedang tertidur di atas branker dilengkapi dengan jarum infus yang tertancap di punggung tangannya.


"Kamu kuliah?


"Alhamdulillah iya Tuan. Kebetulan saya dapat program beasiswa Bidikmisi. Sehingga saya dapat melanjutkan pendidikan saya sampai ke perguruan tinggi. Kehidupan di panti sungguh tidak mungkin dapat melanjutkan pendidikan sampai ke universitas.


Tetapi berkat program pemerintah, yang memberikan pendidikan beasiswa kepada orang yang tidak mampu, membuatku dapat melanjutkan pendidikan sampai ke universitas." Almaira menuturkan Bagaimana dirinya dapat melanjutkan pendidikannya.


"Berarti kamu pintar dong, sehingga kamu mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Biasanya kalau mahasiswa mendapatkan program beasiswa Bidikmisi, persyaratannya dia memang orang yang benar-benar memiliki ilmu pengetahuan. Dan juga kurang mampu ucap Bimo kepada Almaira.


"Kalau kurang mampu Itu sudah pasti. Tidak mungkin seorang anak panti memiliki banyak uang untuk kuliah."sahut Almaira sambil mengembangkan senyumnya membuat lesung pipi Almaira semakin terlihat manis.


"Kamu Sudah semester berapa?


"Semester 7 Tuan sebentar lagi saya akan menyusun skripsi.


"Wah sebentar lagi berarti kamu wisuda dong!" ucap Bimo kepada Almaira


"Doakan saja Tuan agar skripsinya nanti lancar dan tidak ada kendala." sahut Almaira sembari terus memperhatikan bocah kecil yang lagi tertidur pulas. Sesekali Almaira mengelus wajah tampan bocah kecil itu dengan penuh kasih sayang.


"Tapi ngomong-ngomong sepertinya dari raut wajah Ibu Fatimah seperti memiliki beban pikiran? Memangnya ada apa? tanya Bimo kepada Almaira. Almaira enggan memberitahu apa yang mereka alami di panti.

__ADS_1


"Entahlah Tuan, Mungkin sebentar lagi panti itu tidak akan ada lagi. Yang entah kemana nanti anak-anak panti itu kami buat. Kasihan mereka masih butuh tempat tinggal dan juga kasih sayang.


"Maksud kamu?


"Tempat tinggal yang selama ini kami tempati tepatnya panti asuhan itu, sudah dijual oleh ahli waris pemilik tanah. Sehingga pemilik tanah yang baru, meminta agar panti itu segera dikosongkan. Karena Mereka akan membangun taman hiburan di sana.


"Jika panti itu digusur, kecil kemungkinan aku dapat bertemu kembali dengan kedua orang tua kandungku. Yang entah masih hidup atau tidak,yang pasti Almira tidak mengetahuinya. ucap Almaira kepada Bimo.


"Apa sebelumnya tidak melakukan negoisasi?


"Sudah Tuan, tetapi pemilik tanah yang baru tidak memberikan kompensasi kepada kami. dan hanya memberikan waktu kepada kami selama satu bulan untuk mencari tempat tinggal. Tetapi bagaimana mungkin kami dengan secepat itu mendapatkan tempat tinggal sementara dana yang kami butuhkan untuk mencari tempat tinggal tidak memadai.


Ibu Fatimah sudah mencoba berbicara kepada penyandang dana yang selama ini memberikan dana kepada kami. Tetapi sepertinya mereka tidak dapat membantu. dulu menurut keterangan dari ibu Fatimah, "Tuan Setiawan dan nyonya Anita yang sering memberikan santunan kepada anak-anak panti di sana. yang sekarang tuan lanjutkan.


"Untuk itu, kami juga berterima kasih kepada Tuan, karena sudah membantu anak-anak panti. Semoga Allah memberikan kesehatan dan juga rezeki kepada Tuan." ucap Almaira sembari menatap Bimo dengan Tatapan yang sulit diartikan.


Tiba-tiba Bima menciptakan kedua jari telunjuk dan induk jarinya hingga menimbulkan suara."Saya akan membantu panti itu. Tetapi dengan catatan. Kamu harus bekerja di rumah saya menjadi Ibu asuh Devan Bagaimana menurutmu?


"Bagaimana mungkin saya menjadi Ibu asuh untuk Devan ,Sementara saya masih kuliah Tuan?


"Saya tidak memintamu berhenti kuliah, kamu tetap bisa kuliah dan tinggal di rumah saya. Saya hanya ingin membahagiakan Putra saya Devan karena Devan sepertinya dekat dengan kamu."


Terlihat Almaira seperti berpikir. Jujur ia tidak dapat mengambil keputusan saat ini. Yang pasti kalau memang Bimo dapat membantu agar panti asuhan itu tidak digusur, dengan cara dirinya bekerja di rumah Tuan Bimo menjadi Ibu asuh Devan, itu tidak masalah baginya asalkan anak-anak panti itu mendapatkan tempat tinggal yang layak.


"Sepertinya saya belum bisa mengambil keputusan Tuan, karena saya harus terlebih dahulu meminta pendapat kepada Ibu Fatimah. Ibu Fatimah yang merupakan orang tua saya saat ini. Dia wanita yang paling saya hormati di muka bumi ini.

__ADS_1


Mungkin kalau tidak ada ibu Fatimah, entah apa yang sudah terjadi kepadaku. Kedua orang tuaku sepertinya tidak menginginkanku sehingga mereka menaruhku di depan pintu panti asuhan itu." ucap Almaira memberitahu kisahnya sedikit kepada Bimo membuat Bimo langsung terdiam menatap Almaira dengan tatapan penuh arti.


Di saat mereka sedang asyik mengobrol dan bernegoisasi, tiba-tiba bocah kecil itu terbangun. Bimo menghampiri putranya sementara Almaira masih duduk di sofa. Tetapi sepertinya Devan tidak ingin bersama Bimo, malah mengulurkan tangannya ke arah Almaira, hingga Almaira pun bangkit berdiri dari tempat duduknya menghampiri Devan.


"Mami.... Panggil Devan dibalas senyuman dari Almaira.


"Wah Devan yang tampan sudah bangun nih, Bagaimana tidurnya Sayang? Apakah kamu mimpi yang indah?" tanya Almaira sambil memberikan kecupan hangat di wajah tampan bocah kecil itu.


"Mami di sini saja. jangan pernah tinggalin Devan." ucap Devan memanggil Almaira maminya membuat Bimo pun mengembangkan senyumnya sepertinya Devan menikmati harinya bersama Almaira.


Almaira dengan telaten memberikan bocah kecil itu minum segelas air putih. "Sayang kamu harus minum air mineral yang cukup agar kamu cepat pulih kembali. Apa kamu tidak ingin bermain dengan tante?


"No tante! mami." ucap bocah itu yang mampu membuat Almaira langsung mengembangkan senyumnya kembali meraih tubuh bocah kecil itu kepelukannya. Ia merasa geram mendengar bocah kecil itu memanggilnya dengan panggilan mami.


Sementara Bimo menikmati interaksi keduanya, memperhatikan gerak-gerik Devan bersama Almaira yang tampak antusias meminta kasih sayang penuh dari Almaira.


"Mami pergi kemana kemarin? Tanya bocah kecil itu dengan suara khas bocah kecil yang tampak kurang jelas, jika didengar hanya orang-orang yang biasa menangani anak kecil yang paham akan bahasanya.


"Mami tidak kemana-mana sayang? Mami hanya pulang ke rumah Mami, dan habis itu mami pergi ke kampus untuk sekolah." sahut Almaira sambil tetap menatap Devan dengan tatapan penuh kasih sayang.


Hari sudah malam, Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB


"Kamu tunggu sebentar di sini ya, tidak apa-apa kan aku tinggal dulu. "ucap Bimo sambil berlalu meninggalkan Almaira dan Devan di ruang rawat inap yang selama berada di rumah sakit ditempati oleh Devan.


Bersambung...

__ADS_1


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2