
Almaira membaringkan tubuh Bimo di atas tempat tidur yang berukuran King size itu. Ia melihat seluruh pakaian Bimo sudah basah karena kena muntahan dari mulut Bimo. Almaira berusaha untuk menahan dirinya membuka baju milik Bimo, karena dirinya tidak tega melihat Bimo tidur dengan menggunakan pakaian basah seperti itu.
"Astaga Apa yang sebenarnya terjadi Mengapa mas Bimo sampai seperti ini? gumam Almaira dalam hati sembari memperhatikan Bimo dengan seksama. dalam mata terpejam memanggil Memanggil nama Almaira telah memiliki lelaki lain. Kau Almaira, Kau bilang kau tidak memiliki kekasih tetapi kau sudah pergi bersama lelaki itu."ucap Bimo di bawah alam sadarnya.
Almaira mengerutkan kening mendengar Apa yang diucapkan Bimo saat dirinya di bawah pengaruh alkohol. Almaira menggelengkan kepalanya. "Astaghfirullahaladzim!" gumamnya dalam hati sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Bimo. tetapi ketika Almaira berniat untuk meninggalkan Bimo disana, tiba-tiba saja Bimo menarik tangan Almaira hingga tubuh Almaira terjatuh tepat di tubuhnya.
Di bawah alam sadarnya, Bimo langsung memeluk erat Almaira dan memberikan kecupan demi kecupan yang hangat di bagian wajah dan leher Almaira. Membuat Almaira berusaha untuk memberontak. "Sadar Mas!" ucapnya. Tetapi Bimo seolah tidak peduli. "Kau mengatakan tidak memiliki kekasih, tetapi kau jalan sama lelaki itu." ucapnya dengan mata terpejam sembari terus memeluk Almaira dengan erat.
Almaira berusaha untuk memberontak lagi-lagi Bimo mengeratkan pelukannya.
"Mas lepaskan!" sadar Ada apa ini, Mengapa mas sampai seperti ini? air mengalir di wajah cantiknya. Ia merasa dirinya dilecehkan oleh Bimo.
Bimo yang tersadar dengan suara isak tangis Almaira pun langsung melepaskan tubuh Almaira. Almaira langsung berlari dari kamar Bimo berlalu meninggalkannya begitu saja, masuk ke dalam kamar yang selama ini ia tempati Almaira.
"Astaga!" apa yang terjadi di rumah ini mengapa Mas Bimo sampai seperti itu? Aku tidak menyangka dia mampu melakukan itu kepadaku." tangisnya. Malam itu Almaira sama sekali tidak dapat memejamkan matanya lagi.
Bayang-bayang Bimo memeluk dirinya dengan erat sambil memberikan kecupan hangat ke wajah dan bibir Almaira, itu sangat nyata baginya. Almaira berniat untuk pergi dari rumah utama keluarga Setiawan atas perlakuan Bimo. Ia merasa dilecehkan oleh Bimo, padahal Ia tidak mengetahui Mengapa Bimo sampai melakukan hal seperti itu.
__ADS_1
"Tidak dak bisa begini terus, aku harus pergi dari rumah ini." gumamnya dalam hati. Aku tidak menyangka, berarti aku sehina itu di matanya. Almaira membereskan seluruh pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya.
Tiba-tiba ia teringat dengan adik-adik Panti dan ibu Fatimah. " jika aku pergi dari sini, Mas Bimo pasti tidak akan memberikan sumbangan lagi kepada Panti dan tidak menutup kemungkinan mereka akan terusir dari sana." Almaira bermonolog sendiri ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
Hari itu Almaira sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Devan sudah mencari cari keberadaan Almaira di ruang makan dan juga di ruang tamu. Tetapi ia sama sekali tidak menemukan Almaira disana.
Devan bertanya kepada babysitter yang selama ini membantu merawat Devan, bertanya kepada baby sitter itu keberadaan Almaira saat ini. Tetapi karena babysitter itu mengetahui apa yang terjadi malam itu, sehingga ia pun memberikan pengertian kepada Devan untuk tidak mengganggu Almaira saat ini.
Tetapi asisten rumah tangga dan baby sitter yang bekerja di rumah utama keluarga Setiawan, tidak mengetahui apa yang dilakukan Bimo terhadap Almaira. yang mereka ketahui saat ini, hanyalah Bimo mabuk dan Almaira membantunya masuk ke dalam kamar, dan Almaira kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Bimo melirik Jarum jam yang ada di atas nakas jam sudah menunjukkan pukul 09.00 bangkit dari pembaringannya, masuk ke dalam kamar mandi. Kepalanya yang masih nyut-nyutan pun membuat sedikit kewalahan untuk melangkahkan kakinya. Tetapi karena perutnya yang sudah lapar, ia harus bangkit dari pembaringannya dan membersihkan diri.
Setelah tubuhnya terasa sudah segar, Ia pun menggunakan pakaian dan berniat tidak masuk kantor hari ini. Tubuhnya terasa remuk entah karena faktor alkohol yang terlalu banyak ia minum. "Apa aku benar-benar melakukan itu tadi malam kepada Almaira?" gumamnya dalam hati yang tidak percaya begitu saja apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Ia melirik baju miliknya yang sudah terkena muntahan itu berada di keranjang tempat di mana biasanya Bimo meletakkan baju kotornya "Siapa yang mengganti bajuku malam tadi? gumamnya dalam hati. bayang-bayang Almaira masih manari-nari di pikirannya. Ia khawatir Almaira akan marah besar kepadanya.
Bimo turun berniat untuk meminta maaf kepada Almaira, tetapi ia tidak menemukan sosok Almaira di sana. "Sayang dimana Mami?
__ADS_1
"Kata Mbak sus Mami masih istirahat di kamar."sahutnya dengan nada suara anak kecil.
Sementara Nyonya Anita yang sudah duduk di ruang makan pun menatap tajam ke arah Bimo. "Pagi mom, Bagaimana harimu pagi ini apa baik-baik saja?" ucap Bimo seperti biasanya menegur Nyonya Anita. Nyonya Anita memalingkan wajahnya tak sudi rasanya menatap wajah putranya yang sudah membuat kacau malam itu.
"Mami ada apa mengapa seperti itu kepada Bimo? Nyonya Anita sama sekali tidak menjawab. Ia ingin putranya sadar sendiri. tiba-tiba Bimo teringat akan apa yang terjadi malam itu, Ia pun langsung memegang kedua telinganya dan meminta maaf kepada Nyonya Anita.
"Mami sudah memaafkanmu, tetapi kamu seharusnya jangan meminta maaf kepadaku meminta maaflah kepada Almaira. Sebelum dirinya memutuskan pergi dari rumah ini. kamu harus memperbaiki segalanya." ucap Nyonya Anita berharap Almaira tidak pergi meninggalkan rumah utama keluarga Setiawan.
Bimo berlalu ingin menghampiri Almaira di kamar yang selama ini di tempat oleh Almaira sekali dua kali Bimo mengetuk pintu, tetapi sama sekali tidak dia dengar. Lagi-lagi Bimo memohon kepada Almaira untuk tidak meninggalkannya.
Almaira tetap bungkam dan tidak ingin menjawab Bimo. Tiba-tiba suara deringan ponsel Milik Almaira terdengar jelas di telinganya, ia melihat di layar ponselnya kalau yang menghubungi dirinya nomor ponsel milik seseorang yang tidak dia kenali. Almaira memilih tidak mengangkat sambungan telepon seluler itu. Dan langsung menonaktifkan ponselnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1