
Stefany sang sahabat menuntut penjelasan dari Almaira mengenai hubungan antara Devan dengan Almaira. "Ayo cerita kepadaku sekarang Mengapa bocah kecil itu memanggilmu dengan panggilan Mami? tanya Stefani kepada Almaira. Almaira mengembangkan senyumnya menatap sang sahabat yang begitu penasaran hubungannya dengan Devan.
Awalnya memang sulit untuk memulai berbicara kepada Stefani. Tetapi perlahan Almaira pun memberitahu pertemuannya dengan bocah kecil itu.
"Devan anak dari Tuan Bimo Setiawan Putra tunggal dari Tuan Setiawan yang selama ini memberikan bantuan kepada Panti asuhan tempatku dibesarkan.
Tetapi takdir yang membuat Tuan Bimo berpisah dengan sang istri Nyonya Alena meninggal dunia pasca kecelakaan laka lantas tol Jagorawi, saat itu Nyonya Alena menuju puncak. Yang mana Nyonya Alena mendapatkan kabar Kalau orang tuanya sedang sakit. Sementara Tuan Bimo masih sibuk di perusahaan yang dikelola olehnya.
Sehingga Tuan Bimo Setiawan tidak dapat menghantarkan istrinya hingga istrinya pun berpamitan kepada suaminya Tuan Bimo Setiawan untuk pergi sendiri menggunakan kendaraannya sendiri.
Setelah mendapat izin dari tuan Bimo Setiawan, Nyonya Alena pun langsung menuju puncak pada saat itu Nyonya Alena bersama dengan Tuan muda Devan di mobil yang sama hingga kecelakaan beruntun terjadi di tol Jagorawi, yang merenggut banyak korban jiwa. Termasuk Nyonya Alena. dan korban selamat itu adalah Tuan muda Devan masih berusia hampir 2 tahun.
Mendengar kabar itu, Tuan Bimo Setiawan, begitu terpukul. istri dari Tuan Setiawan ibu kandung dari Bimo Setiawan, mengalami stroke sehingga Tuan Bimo sedikit kewalahan untuk membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus Nyonya besar Anita dan juga tuan muda Devan.
Selama ini yang merawat Tuan muda Devan adalah babysitter dan juga asisten rumah tangga lainnya, membantu merawat Devan dan nyonya Anita yang mengalami stroke.
Hingga suatu ketika ibu Fatimah memintaku datang ke rumah utama keluarga Setiawan untuk menghantarkan obat kepada Nyonya Anita. Saat itulah pertemuan pertamaku dengan Devan, Putra tunggal dari Tuan Bimo Setiawan.
Entah mengapa anak itu langsung merasa dekat kepadaku. Begitu juga aku dengannya diantara kami sepertinya ada sesuatu yang begitu merekat membuatku begitu menyayanginya. Dan sepertinya bocah kecil itu pun sangat merindukanku mulai hari itu.
Hingga bocah kecil itu pun memintaku untuk tetap tinggal di rumah utama keluarga Setiawan. Entah mengapa bocah kecil itu langsung memanggilku Mami dan saat itu aku belum mengetahui apa-apa.
Stefani menggemangkan senyumnya. "Tuan Bimo juga tampan. Sepertinya kamu cocok untuk ibu sambungnya bocah kecil itu." ucap Stefani asal. "Jangan asal bicara itu tidak mungkin. Antara langit dan bumi.
Kamu tahu sendiri bukan, Kalau tuan Bimo Setiawan pengusaha kaya raya ternama di kota ini. Sementara aku hanya anak Panti asuhan dapat melanjutkan pendidikan hingga ke universitas ini hanya karena mengandalkan beasiswa Bidikmisi." ucap Almaira sambil membayangkan Bagaimana perjuangannya hingga Almaira dapat melanjutkan pendidikannya ke universitas.
"Tapi bagaimana bisa ya Devan langsung memanggilmu dengan panggilan mami?
"Aku juga tidak mengetahui Mengapa anak itu langsung memanggilku dengan panggilan Mami. Padahal baru kali itu kami bertemu." Sahut Almaira.
Tiba-tiba suara dering ponsel milik Almaira terdengar jelas di telinganya.
Iya melihat nomor ponsel Bimo yang menghubungi dirinya.
"Siapa yang menghubungi?
"Tuan Bimo."
"Angkat saja siapa tahu penting.
Almaira menganggukkan kepalanya lalu menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Bimo Setiawan.
__ADS_1
"Hallo assalamualaikum Tuan." sapa Almaira di dalam sambungan telepon selulernya.
"Kamu di mana?
"Masih di kampus Tuan?
"Saya sudah minta sama kamu Jangan pernah memanggilku panggilan Tuan Saya tidak suka.
"Masih di kampus Mas. jawab Almaira gugup.
"masih lama tidak?
"Sekitar satu jam lagi Mas. Memangnya ada apa?
"Ya sudah, mas Tunggu saja." sahut Bimo di dalam sambungan telepon selulernya. Bimo menyudahi pembicaraannya dengan Almaira Tiba-tiba sang dosen sudah terlihat masuk ke ruang kelas Almaira dan juga Stefani. Membuat Stefani dan Almaira pun buru-buru berlari masuk ke dalam kelas sebelum dosen tiba di sana.
****
Kring ....
kring...
kring...
"Assalamualaikum Mas! Saa Almaira.
"Kamu Sudah kelar kuliahnya? pertanyaan itu yang langsung dilontarkan oleh Bimo kepada Almaira.
Sudah Mas, ini baru keluar kelas." sahut Almaira.
"Mas tunggu di parkiran." titah Bimo kepada Almaira. Membuat Almaira terhenyak mendengar apa yang diucapkan Bimo kepadanya, kalau saat ini Bimo Sudah ada di parkiran kampus.
" Kamu kenapa bengong Almaira? tanya Stefani yang tiba-tiba melihat Almaira berhenti melangkah
"Tuan Bimo datang menjemputku, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal duluan. Sepertinya Tuan muda Devan memerlukanku saat ini."
ucapnya sambil berusaha mengembangkan senyumnya.
"No problem, santai saja yang penting kamu baik-baik saja di sana. Ingat jangan sampai jatuh cinta sama Om duren." ujar Stefani kepada Almaira dibalas tatapan tajam dari Almaira.
Stefani yang ikut melangkah bersama Almaira ke parkiran kampus, Stefani mengembangkan senyumnya menatap wajah tampan Bimo.
__ADS_1
"Astaga tampan banget sih. Begitu bahagianya Almaira dapat duduk bersama Bimo di mobil yang sama." gumam Stefani dalam hati membayangkan dirinya duduk di mobil yang sama, bersama Bimo Setiawan.
Stef, duluan ya." ucap Almaira
Tidak apa-apa, kamu hati-hati ya ingat pesanku jangan sampai.....,ucap Stefani tidak melanjutkan kata-katanya membuat Almaira menggelengkan kepalanya menatap sahabatnya yang begitu kepo terhadapnya.
Almaira duduk di bangku penumpang.
"Kamu ngapain duduk di situ? memangnya saya sopir kamu? Almaira bingung Mengapa Bimo mengatakan seperti itu.
"Duduk di depan, perintah Bimo kepada Almaira. Almaira tidak banyak komentar, Ia pun menurut turun dari bangku penumpang duduk di sebelah bangku kemudi.
Bimo melajukan mobil ke arah jalan raya menuju salah satu butik ternama yang ada di kota ini. dulunya butik ini langganan Nyonya Anita sebelum Nyonya Anita menderita stroke.
"Mas kita mau kemana? ini kan tidak jalan pulang? tanya Almaira penuh selidik memangnya siapa yang ingin mengajak kamu pulang?
"Terus kita mau ke mana?
"Temani saya menghadiri pesta ulang tahun pernikahan rekan bisnis saya." sahut Bimo dengan wajah yang datar.
"Bagaimana mungkin saya menemani Tuan dengan penampilan seperti ini Apa Tuan tidak malu pergi menghadiri pesta ulang tahun pernikahan kelas atas, seperti Tuan sementara penampilan saya yang acak-acakan seperti ini?" ucap Almaira berkomentar.
Bimo sama sekali tidak menjawab. Ia tetap melajukan mobil miliknya, hingga mobil itu berhenti di salah satu butik ternama.
"Ayo turun, lalu Almaira turun dari mobil mewah? milik Bimo
Mas kita ngapain Di Sini?
ini kan salah satu butik terkenal.
Bimo menarik tangan Almira masuk ke butik itu. Salah satu karyawan yang bertugas menjaga butik itu pun langsung mengembangkan senyumnya.
Ketika melihat sosok Bimo Sudah tiba di sana, Selamat datang Tuan Bimo yang terhormat sapa pemilik butik itu yang tak lain adalah nyonya Belinda. Bimo mengembangkan senyumnya lalu bertegur sapa dengan Nyonya Belinda.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Bimo tanya Nyonya Belinda penuh selidik.
"Pilihkan pakaian yang cocok untuknya. Tolong permak dia secantik mungkin. Pinta Bimo kepada Nyonya Belinda dibalas senyuman dari Nyonya Belinda.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓