
Entahlah Mas, kedua orang tuaku masih hidup atau tidak. Almaira sama sekali tidak mengetahuinya. Tangis Almaira kembali pecah membayangkan Bagaimana dirinya saat bayi ditinggal pergi begitu saja.
Pak Yono menghentikan mobil yang ia kendarai di pinggir warung tenda biru, sesuai dengan yang dikatakan oleh Almaira. Cepat-cepat Almaira menghapus air matanya. "Tuan, nona...,kita sudah sampai. Bimo langsung keluar dari mobil miliknya.
Sementara orang-orang yang ada di warung tenda biru itu. Sedang menikmati menu makanan yang ada di sana, menatap heran dengan mobil yang terparkir di depan warung tenda biru itu. "Mobil mewah Siapa yang parkir di sana?" gumam salah seorang yang menikmati menu makanan di situ.
Terlihat Almaira dan Bimo keluar dari mobil itu, membuat Mang Udin merasa terhenyak. "Eh ternyata Neng Almaira lagi yang datang bersama Pak Yono." ucap Mang Udin sambil mengembangkan senyumnya mempersilakan Almaira. Pak Yono dan Bimo duduk di kursi paling pojok.
Sementara Pak Yono memilih untuk duduk di tempat lain. Karena ia tidak ingin mengganggu kedekatan Almaira dengan Bimo saat ini.
"Bang seperti biasa ya." Ucap pak Yono kepada Mang Udin. Sementara Almaira langsung menghampiri Pak Yono.
"Berikan menu makanan yang biasa Almira makan dengan Stefani. Makan dua porsi, yang satu tidak terlalu pedas yang satu seperti selera Almaira." ucap Almaira kepada Mang Udin sambil kembali duduk menghampiri Bimo di sana.
Semua mata tertuju kepada Bimo. Karena orang-orang yang di sana mengetahui siapa sosok Bimo yang sebenarnya. Kalian jangan heran melihat majikan saya berada di sini." Ucap pak Yono yang memahami tatapan para pelanggan yang menikmati makanan di sana.
__ADS_1
"Iya dia majikanku, Bimo Setiawan salah satu pengusaha terkaya di negara ini. Tetapi dia rendah hati, masih mau makan di warung pinggir jalan seperti ini. Apa ada pengusaha kaya raya seperti Tuan Bimo Setiawan? tanya Pak Yono memuji kesederhanaan Bimo Setiawan.
Terlihat parah pengunjung di sana mengembangkan senyumnya, menatap Bimo dan Almaira secara bergantian. Pasangan yang serasi." gumam salah satu Ibu paruh baya yang ada di sana.
"Iya, aku harap mereka berjodoh walaupun antara sekretaris dan bos." ucap salah satu lelaki paruh baya yang ada di sana. Pak Yono yang mendengarkan apa yang diucapkan oleh wanita dan pria paruh baya itupun mengembangkan senyumnya. Tetapi Almaira dan Bimo memilihi diam dan cuek saja mendengar celotehan para orang-orang yang ada di sana.
Terlihat bang Udin menghampiri Almira dan juga yang duduk di sana. "Ini Neng Almaira, menu makanan pesanan spesial untuk Neng Almaira dan Tuan Bimo Setiawan yang terhormat." ucap Mang Udin sambil mengembangkan senyumnya menatap Almaira dan Bimo secara bergantian.
Kemudian Mang Udin menghampiri meja yang ditempati oleh pak Yono dan menyuguhkan menu makanan itu kepada Pak Yono. Almaira mencuci tangannya ke kobokan yang sudah disediakan oleh Mang Udin. Sementara Bimo mengikuti cara Almaira makan di sana seperti yang dilakukannya saat pertama kali makan di warung pinggir jalan bersama Devan dan juga Almaira.
" Bagaimana makanannya apa enak kan? tanya Almaira dibalas anggukan dari Bimo. dengan sekejap Bimo menghabiskan menu makanan yang ada di hadapannya dengan lahab membuat Almaira mengembangkan senyumnya, ketika melihat Bimo sudah menghabiskan menu makanan itu sementara dirinya masih menghabiskan separuhnya.
"Biasa Tuan enam puluh ribu saja." sahut Mang Udin.
"Maksud saya hitung semua apa yang dimakan orang yang duduk di sini mang?
__ADS_1
Almaira kembali menjelaskan kepada Mas Udin.
Mang Udin, Mas Bimo ingin membayar menu makanan semua yang ada di sini. Tolong hitung semua apa saja yang mereka makan. ucap Almaira menjelaskan kepada Mang Udin. Mang Udin mengembangkan senyumnya, lalu menghitung makanan keseluruhan yang disantap oleh orang-orang yang berada di warung miliknya.
"Totalnya enam ratus ribu Tuan." sahut Mang Udin. Bimo meraih dompet yang ada di satu celananya lalu mengambil beberapa Uang pecahan seratus ribu dan memberikannya kepada Mang Udin.
"Waduh Ini kebanyakan Tuan.
"Sudah ambil saja hitung-hitung itu rezeki untuk bang Udin." ucap Almaira Bandung sambil langsung berlalu meninggalkan warung tenda biru milik Mang Udin.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
__ADS_1
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya teman emak