
Ketika Almira larut dalam lamunannya. Bocah kecil itu tiba-tiba menangis karena baru saja terbangun. Mom...mom.."tangisnya Memanggil seorang mami. Almaira meraih tubuh bocah kecil itu. Lalu berusaha menenangkannya.
Melihat kehadiran Almaira disana, bocah itu merasa bahagia dan tersenyum seolah dia memahami saat ini dia menemukan seorang yang dapat memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya.
"Mami datang menjenguk Devan? jangan pergi lagi Mami! ucap Devan dengan suara khas anak kecil yang masih kurang jelas dimengerti. Tetapi karena Almaira sering mengurus anak kecil di panti, membuat dirinya mudah memahami apa yang diucapkan oleh Devan kepadanya.
Almaira mengembangkan senyumnya memberikan kecupan hangat di wajah tampan Devan. "Devan kenapa sakit?
"Jangan sakit lagi dong Devan! kalau kamu sakit Mami juga pasti merasa sedih dan khawatir. ucap Almaira menirukan suara khas anak kecil.
Membuat Devan merasa bahagia. Terlihat sepertinya Devan tidak mengharapkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Karena Almaira mampu membuat Devan sangat bahagia seolah-olah dirinya mendapatkan kasih sayang penuh dari seorang ibu. Kini dokter pun datang menghampiri keduanya, setelah dokter memeriksa kondisi kesehatan Devan. perkembangan kesehatan begitu drastis dan suhu tubuh sudah mulai normal, membuat dokter itu pun merasa heran.
"Bagaimana kondisi Devan saat ini dokter? Apakah dia baik-baik saja? tanya Almaira penuh selidik kepada dokter yang menangani Devan saat ini. "Kondisi Tuan muda Devan saat ini sudah semakin membaik. Padahal pagi tadi suhu tubuhnya sudah sangat tinggi membuat Kami khawatir, tetapi sepertinya dengan kehadiran kamu di sini membuat bocah kecil ini menjadi semangat." ucap dokter itu yang kebetulan sepupu dari Bimo sendiri.
Almaira mengembangkan senyumnya menatap dokter itu dan Devan secara bergantian. "Dokter jangan ngomong seperti itu, semua ini berkat Allah dan berkat dokter yang melayani dan merawat Devan dengan baik." ucap Almaira sambil mengembangkan senyumnya menatap dokter itu dengan tatapan penuh arti. Dokter itu pun berlalu dari ruang perawat inap Devan. Kembali melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter di rumah sakit itu.
Devan dan Almira kembali bercanda gurau di ruang rawat inap itu. Suara tawa Devan menggema dise-isi ruang rawat inap yang ditempati Devan. Beberapa menit kemudian suster datang membawakan nampan yang berisikan menu makanan untuk disantap oleh Devan.
"Giliran Devan harus menyantap menu makan siang yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Sepertinya Devan menurut kepada Almaira. Dengan telaten Almaira menyuapi menu makanan yang disediakan oleh Rumah Sakit kepada pasien yang bernama Devan.
Almaira menyuapinya sampai makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit habis ludes tanpa sisa. Kemudian Almaira pun memberikan obat yang diberikan oleh Suster itu agar Devan cepat pulih kembali. Tanpa ada penolakan sedikitpun.
__ADS_1
Devan pun langsung memakan obat itu. Ia bersemangat sekali agar cepat pulih kembali dapat bermain dengan Almaira yang ia anggap sebagai maminya.
Setelah selesai meminum obat, kini keduanya pun kembali ngobrol bersama. Seolah mereka sudah kenal dekat. Almaira bercerita dongeng kepada Devan, hingga akhirnya Devan kembali tertidur.
Tanpa Almaira sadari ternyata Bimo Sudah tiba di rumah sakit. Ketika Almaira menyuapi menu makan siang untuk Devan dengan telaten. Bahkan memberi obat untuk Devan tanpa ada penolakan dari Depan sama sekali. Padahal jika itu dilakukan orang lain Devan pasti menolak meronta-ronta tidak ingin memakan obat dengan alasan obat itu pahit.
"Tetapi ketika bersama Almaira Devan begitu menurut. "itu wanita yang dulu menghantarkan obat kepada Mami." gumamnya di dalam hati sembari masuk ke ruang rawat inap yang ditempati oleh putranya. Almaira terhenyak melihat kehadiran seorang pria berada di ruang rawat inap Devan.
"Apakah kamu yang diminta Ibu Fatimah menjaga Putra saya?" tanya Bimo penuh selidik. Almaira mengembangkan senyumnya lalu menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih kamu sudah menjaga Putra saya dengan baik. Saya meminta maaf sudah merepotkanmu."ucap Bimo meminta maaf kepada Almaira.
"Oh jadi nama kamu Almaira? perkenalkan saya Bimo putra dari Nyonya Anita dan ini Putra saya Devan. ucap Bimo memperkenalkan diri kepada Almaira dibalas anggukan dari Almaira.
Ting ....
Suara ponsel milik Almira terdengar jelas di telinganya.
Ia melihat pesan yang masuk dari nomor ponsel Nyonya Anita, untuk membantu putranya menjaga Devan di rumah sakit. tidak mengetahui nomor ponsel itu nomor ponsel Nyonya Anita. Karena di akhir pesan Nyonya Anita memberitahu kalau dirinya yang mengirimkan pesan.
"Dari mana Nyonya Anita mengetahui nomor ponselku?" gumamnya di dalam hati sembari memperhatikan layar ponselnya. lalu ia pun membalas pesan dari Nyonya Anita
__ADS_1
"Jangan khawatir Nyonya, Saya pasti akan membantu Tuan Bimo menjaga Adik Devan." pesan itu yang dikirimkan oleh Almaira kepada Nyonya Anita.
Siapa yang mengirimkan pesan kepadamu?" tanya Bimo penuh selidik. Sepertinya Nyonya Anita mendapatkan nomor ponselku dari ibu Fatimah. Dia mengirimkan pesan kepadaku agar aku menjaga cucunya Devan." sahut Almaira dibalas anggukan dari Bimo. Bimo bernapas lega saat ini ia dapat lebih tenang berpikir untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan.
"Sepertinya Devan begitu dekat kepadamu. padahal sebelumnya Devan sulit sekali berinteraksi dengan orang lain selain babysitter dan Omanya. Tetapi sama kamu dia langsung begitu dekat, entah apa yang membuat dirinya ingin sekali bersamamu.
Bahkan ketika kamu pertama sekali datang ke rumah ia menjerit-jerit menangis dingin ikut dengan kamu. Di saat kamu meninggalkan rumah utama, dia terus menangis dan memanggil-manggil kamu dengan panggilan mami.
Entahlah mengapa Putraku memanggilmu seperti itu. Mungkin karena dia butuh kasih sayang seorang ibu, tidak bisa dipungkiri di usianya yang masih balita seperti ini dia pasti membutuhkan belaian kasih sayang seorang ibu. Yang tidak ia dapatkan selama ini, walaupun aku memberikan kasih sayang penuh kepadanya. Tetapi sepertinya itu tidak cukup baginya.
Almaira meneteskan air matanya ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bimo kepadanya. Sejujurnya Almaira juga butuh kasih sayang dari seorang ayah dan ibu yang selama ini dapatkan kasih sayang dari ibu Fatimah saja yang ia dapatkan selama ini semenjak dia berusia 6 bulan. Tetapi ia tidak ingin membiarkan Devan juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh dirinya sendiri.
"Maaf kenapa kamu menangis?
buru-buru Almaira menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat cengeng. Ia memalingkan wajahnya dari Bimo.
Bersambung...
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1