GAIRAH DUDA KECE

GAIRAH DUDA KECE
BAB 48. DI PANTI_GDK


__ADS_3

Bi Narsih memperhatikan interaksi antara Devan dan juga Almaira. "Maaf tuan, mau dimasakin apa makan malam?


"Tidak perlu Bi, ada maminya Devan tadi memasak makanan untukku."sahut Bimo yang mampu membuat Bi Narsih sedikit bingung.


"Kenapa menatapku seperti itu bi?


"Tidak tuan." sahut Bi Narsih sedikit gugup.


"Oh iya kenalin ini Almaira, maminya Devan." ucap Bimo memperkenalkan Almaira kepada Bi Narsih. Almaira memberi salam kepada Bi Narsih yang selama ini setia membersihkan apartemen milik Bimo. Almaira mengembangkan senyumnya menatap kebingungan Bi Narsih.


"Sudah bi tidak perlu bingung seperti itu, Kami mau pergi ke panti asuhan kasih bunda. jika kami belum pulang ke apartemen tolong bibi jangan pulang dulu." ujar Bimo dibalas anggukan dari BI Narsih. Bimo, Almaira dan Devan berlalu dari apartemen milik Bimo.


"Bimo menurunkan tubuh Devan lalu Bimo mengambil mobil miliknya yang terparkir di parkiran apartemen. Ia melajukan mobil miliknya menuju lebih apartemen. disana Almaira dan Devan sudah menunggu Bimo.


Bimo turun dari mobil miliknya.


"Sayang ayo kita pergi. Nanti keburu sore macet."ujar Bimo dibalas anggukan dari Almaira. Almaira berjalan memasuki mobil bersama Devan di gendongannya.


Setelah memastikan Almaira dan Devan duduk dengan nyaman, Bimo melajukan mobil miliknya ke arah jalan raya menuju Panti asuhan kasih bunda. Tetapi sebelum mereka tiba disana Bimo menghentikan mobil miliknya ke sebuah rumah makan yang mana sebelumnya Almaira sudah melakukan pemesanan.


Terlihat salah satu karyawan yang bertugas di rumah makan itu menghampiri mobil Bimo. Bimo turun dari mobil miliknya. Membuka gas bagasi mobil miliknya. Beberapa karyawan Rumah makan itu sudah keluar membawa makanan pesanan Almaira untuk dibawa ke panti asuhan. Terlihat bagasi sudah dipenuhi dengan makanan.


Makanan sudah berada di dalam bagasi mobil. kini Bimo kembali melajukan mobil miliknya menuju pantai asuhan. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit kemudian, mereka tiba di Panti asuhan kasih. Almaira dengan penuh semangat turun dari mobil mewah milik Bimo.


Terlihat anak-anak Panti asuhan yang melihat mobil terparkir di depan panti, langsung berlari menghampiri mobil itu. Karena mereka mengetahui pasti Almaira yang datang menjenguk mereka. "Ka Almaira....! teriak para anak-anak panti berlomba untuk memeluk Almaira. Mereka sudah sangat merindukan sosok wanita muda yang selalu setia mengajari dan membimbing mereka.


Ibu Fatimah mendengar suara teriakan anak-anak Panti itu Memanggil nama Almaira, keluar dari dapur. Ibu Almaira dan juga Abimanyu mengembangkan senyumnya menatap kedatangan Almaira dan juga Tuan muda kecil ikut menghampiri mereka.

__ADS_1


Abimayu yang sangat merindukan Halmahera pun tidak kalah hidup dari adik-adik panti. "Kakak Dari mana saja Mengapa Kakak jarang sekali berkunjung ke sini? apa Kakak tidak merindukan kami? tanya Abimanyu yang terlihat sangat merindukan Almaira.


"Maafin Kakak tidak dapat sering-sering menjenguk kalian. Kalian tahu betul bukan, kalau kakak saat ini sedang menyelesaikan skripsi kakak. Otomatis Kakak sangat sibuk di sana. Jadi kakak tidak bisa setiap saat datang menghampiri kalian." ucap Almaira mencoba memberikan penjelasan kepada Abimanyu dan adik-adik Panti lainnya.


"Syukurlah kalau kakak sudah menyelesaikan skripsi kakak, itu artinya Kakak sebentar lagi akan meraih kelas sarjana. Abimanyu sangat bangga atas kemampuan yang kakak raih. dalam tempo waktu tiga setengah tahun Kakak dapat mulai gelar sarjana." ucap Abimanyu begitu bangga dengan kemampuan yang dimiliki Almaira.


Sementara Devan tampak sangat bahagia bermain dengan adik-adik Panti yang kurang beruntung. Devan juga memberikan mainan miliknya kepada adik-adik Panti yang sangat senang melihat mainannya. "Melihat interaksi desa dengan anak-anak Panti di sana tampak terlihat akrab, Bimo mengembangkan senyumnya.


Suara tawa lepas Devan terdengar jelas di telinga Bimo. ada kebahagiaan tersendiri di hati Bimo melihat suara tawa lepas dari Devan."Maminya Devan memang sangat luar biasa tahu saja apa yang membuat Putraku bahagia." Bimo membantu sembari terus memperhatikan interaksi Devan dengan adik-adik Panti yang dibesarkan dan diasuh di Panti asuhan itu.


Ibu Fatimah kembali menghampiri Bimo yang sedang duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Dengan membawa 3 cangkir kopi dan cemilan gorengan yang diolah langsung oleh ibu Fatimah. "Silakan diminum Tuan, hanya ini yang bisa kami hidangkan di panti ini." ucap Ibu Fatimah sambil mempersilahkan Bimo mencicipi kopi dan gorengan yang ia buat sendiri.


Almaira meminta kepada Abimanyu membantu dirinya mengangkat makanan yang mereka bawa sebelumnya untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak pantun lainnya. Terlihat Abimanyu dan anak-anak Panti lainnya antusias ketika mendapat makanan yang sudah dibawa oleh Almaira dan Bimo.


Mereka merasa bersyukur dapat menikmati makanan yang begitu lezat dari salah satu rumah makan ternama di kota ini.


"Iya makanannya enak sekali aku pasti makan dengan." sahut salah satu anak Panti lainnya membuat Almaira mengembangkan senyumnya.


"Sayang kopinya diminum Nanti keburu dingin. lagi-lagi Bimo memanggil Almaira dengan panggilan sayang membuat Ibu Fatimah mengerutkan keningnya menatap Bimo dan Almaira secara bergantian.


"Ibu kok menataku seperti itu? tanya Almaira karena melihat ibu Fatimah menatap dirinya dengan tatapan penuh tanya.


"Jangan menatapku seperti itu Bu, jika ingin bertanya sesuatu bertanya kepada Mas Bimo." lagi lagi Ibu Fatimah dikejutkan dengan panggilan Almaira kepada Tuan Bimo memanggil Bimo dengan panggilan Mas. Padahal biasanya mereka memanggil Bimo dengan panggilan Tuan. Membuat Ibu Fatimah seolah tidak percaya apa yang ia dengar dari mulut anak asuhnya itu.


"Almaira yang sopan bicara, Tuan Bimo itu donatur di Panti ini. tolong jaga sikap kamu." ucap Ibu Fatimah khawatir.


"Ibu, Memangnya Almaira salah apa? dia tidak salah apa-apa justru saya yang meminta Almaira membangun saya dengan panggilan Mas. Dan jujur Saya sangat mencintai Almaira.

__ADS_1


Ibu Fatimah benar-benar dibuat bingung oleh Bimo. Apalagi Ibu Fatimah dikejutkan dengan Devan memanggil Almaira dengan panggilan mami. "Aduh ada apa ini? gumam Ibu Fatimah kuatir


"Ibu kenapa terlihat gelisah?


Ibu Fatimah menggelengkan kepalanya menatap Devan Bimo dan Almaira secara bergantian. "Tuan Bimo benar-benar mencintai Almaira?


"Iya bu saya benar-benar sangat mencintai Almaira. Aku harap Ibu juga merestui hubungan kami. Ibu Fatimah masih terdiam seolah tidak percaya apa yang ia dengar.


"Kalau tuan benar-benar sangat mencintai Almaira, Aku tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu selalu menyertai Almaira. Tapi tolong jangan sakiti hatinya, dia wanita yang belum tahu apa-apa mengenai kehidupan rumah tangga. Tolong sayangi dia dengan segenap hati." mohon Ibu Fatimah yang tidak sanggup mendengar jika Almaira disakiti orang lain.


Ibu Fatimah sudah menganggap Almaira seperti putri kandungnya sendiri. Tidak ada tergesit di hati Ibu Fatimah menyakiti hati Almaira. Terlihat Bimo menatap Ibu Fatimah yang begitu menyayangi Almaira. "Ibu percaya sama saya. Saya akan berusaha membahagiakan Almaira." Bimo berusaha meyakinkan Ibu Fatimah.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Almaira Bimo dan Devan berpamitan kepada ibu panti. Mereka akan segera kembali ke apartemen milik Bimo. Devan seolah tidak ingin meninggalkan teman-temannya yang ada di panti.


"Teman-teman Devan pamit dulu, lain kali devano akan main lagi ke sini. ucap Devan sambil melambaikan tangannya kepada adik-adik Panti yang asik bermain bersama Devan saat itu. Terlihat anak-anak pantai itu begitu berat melepaskan kepergian depan yang begitu menggemaskan. Mereka benar-benar ingin bermain lagi dengan Devan.


"Begitu bahagianya Devan ya teman-teman, punya orang tua yang kaya raya. Dapat membeli apa saja yang mereka inginkan. seandainya aku memiliki orang tua seperti Devan aku pasti sangat bahagia." ucap salah satu anak Panti kepada temannya.


"Beberapa teman lainnya menganggukkan kepalanya. Melepaskan kepergian Devan Bimo dan Almaira. Sedangkan ibu Fatimah masih larut dalam lamunannya. iya masih belum percaya apa yang ia dengar sebelumnya. "Entahlah semuanya aku serahkan kepada Allah. semoga hidup Almaira bahagia untuk selamanya." Ibu Fatimah bermonolog sendiri."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2