
Pagi hari yang indah matahari Sudah terbit di ufuk timur. Terlihat pria tampan masih tertidur pulas. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Biasanya pria tampan ini sudah bersiap untuk pergi ke kantor tetapi pagi ini ia terlihat masih tertidur pulas.
Pria tampan itu tidak menyadari kalau Jam sudah menunjukkan pukul 07.30.
Ia semakin menarik selimut menutupi tubuhnya yang terasa dingin. Tidurnya saat ini sangat lelap seolah dirinya melupakan segalanya dan ingin menikmati tidur panjang pagi itu.
Sementara di tempat lain, terlihat Almaira sudah mempersiapkan sarapan pagi di meja makan. Walaupun ada beberapa asisten rumah tangga di sana yang untuk membantu membuat sarapan pagi ia selalu menyempatkan diri untuk menyiapkan sarapan pagi kepada sang majikan.
Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi, yang kebetulan pagi itu Almaira tidak ada kelas masuk ke kampus. Ia tinggal hanya menyusun skripsinya saja, ia dapat melakukannya Di rumah sesekali Ia baru pergi ke kampus.
Almaira menghampiri Nyonya Anita, yang masih berbaring di atas tempat tidur yang selama ini ditempati oleh Nyonya Anita.
"Pagi....,mami sapa Almaira sambil mengembangkan senyumnya menatap Nyonya Anita yang sudah terbangun pagi itu.
Tetapi ia tidak dapat duduk sendiri, akibat stroke yang ia alami selama ini. Nyonya Anita dapat duduk di atas kursi roda itu harus dibantu oleh Baby sitter atau asisten rumah tangga lainnya terkadang almairallah yang melakukannya.
__ADS_1
Almaira membantu Nyonya Anita duduk di kursi roda, yang selama ini membantu Nyonya Anita jika ingin ke mana-mana. Almaira membantu Nyonya Anita untuk membersihkan diri. Perlahan demi perlahan ia membersihkan tubuh Nyonya Anita setelah menanggalkan seluruh pakaian Nyonya Anita.
"Mom tidak perlu malu kepada Almaira. Mami sudah menganggap Almaira seperti putri malu sendiri bukan tanya Almaira penuh selidik. Nyonya Almaira menganggukkan kepalanya. Beberapa menit Almira membersihkan tubuh Nyonya Anita, terlihat tubuh Nyonya Anita sudah terlihat segar dan bugar.
Nyonya Anita begitu bahagia melihat Almaira yang telaten mengurus dirinya. Tak ada satupun yang mampu melakukan seperti yang dilakukan Almaira kepadanya. Setelah Almaira membersihkan tubuh Nyonya Anita, Ia pun memakaikan pakaian yang biasa digunakan oleh Nyonya Anita. Tidak lupa Almaira juga memasang popok untuk Nyonya Anita, Almaira mengeringkan rambut Nyonya Anita dengan menggunakan hair dryer yang ada di dalam laci.
Tanpa Almaira sadari, Bimo Setiawan sudah terbangun dari tidurnya ingin melihat kondisi Nyonya Anita Ke kamar yang selama ini ditempati oleh Nyonya Anita. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan pemandangan yang indah, Almaira dengan telaten mengeringkan rambut Nyonya Anita membuat Nyonya Anita terlihat lebih cantik dan segar. Setelah rambut Nyonya Anita sudah kering, kini Almaira menatanya supaya terlihat rapi.
"Selesai!" Mami sudah terlihat cantik dan anggun lagi aku yakin Mami Pasti Bisa berlatih.," ucap Almaira optimis kalau Nyonya Anita dapat berjalan kembali dengan rapi yang dilakukan oleh Almaira setiap hari membantu Nyonya Anita untuk berjalan-jalan di taman.
Almaira mendorong tubuh Nyonya Anita dengan menggunakan kursi roda yang selama ini digunakan Nyonya Anita.
Tampak Bimo sudah duduk di sana, membuat Almaira terhenyak melihat kehadirannya dan juga kehadiran Devan yang sudah rapi duduk di samping Bimo. Almaira menghampiri Devan. " Putra Mami sudah terlihat tampan dan wangi, Siapa sih yang memandikan?
" Mbak sus!" sahutnya dengan nada suara khas kecil
__ADS_1
"Maafin mami yang tidak memandikan kamu pagi ini sayang, tetapi mami janji, besok mau Mami yang akan memandikan kamu." ucap Almaira merasa bersalah kepada putranya.
"Tidak apa-apa mom, Mbak sus bilang Kalau Mami sedang sibuk membantu Oma mandi. jadi Mami tidak perlu meminta maaf kepada Devan." sahut Devan sambil langsung menghampiri Almira dan memberikan pelukan hangat kepada Almaira.
"Ya Allah Almaira begitu tulus menyayangi Mami dan juga Devan. Sepertinya aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan wanita sebaik dan setulus Almaira.
Bimo menatap Almaira dengan tatapan seksama.
Berharap Almaira tidak akan meninggalkan keluarga Setiawan lagi. Karena sepertinya Bimo Sudah merasa nyaman ketika bersama Almaira. Tidak hanya Putra dan Mamanya saja yang merasakan hal yang sama tetapi Bimo juga merasakan itu semua.
Dengan telaten Almaira menghidangkan menu makanan yang sudah ia masak sebelumnya kepada Nyonya Anita. Devan yang tidak mau kalah dari Omanya pun meminta agar Almaira menyuapi dirinya.
"Aduh apa-apaan sih? Mas Bimo menatapku seperti itu." gumam Almaira dalam hati karena ia merasa ada Tatapan yang aneh dari pandangan sang Big bos.
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓