
Setelah bersiap ingin berangkat ke kantor, Bimo Almaira dan Devan sudah berada di lobby apartemen. Terlihat soper pribadi yang selalu setia menghantarkan Bimo ke mana saja sudah bersiap menghantarkan sang majikan ke Setiawan group.
Bimo, Almaira dan juga Devan sudah masuk ke dalam mobil mewah milik Bimo.
Bimo dan Almaira duduk di bangku kemudi. sementara Devan memilih duduk di bangku samping kemudi. Membiarkan dirimu dan Almaira berdua saja di bangku penumpang.
"Bimo meminta kepada sopir pribadinya untuk menghentikan mobil miliknya di sebuah cafe untuk menikmati sarapan pagi.
"Kamu kenapa sayang kok diam saja? tanya Bimo kepada Almaira
"Oh aku tidak apa-apa kok." jawabnya singkat
"Kita makan dulu ya kamu lapar kan? Tanya Bimo kepada Almaira.
"Boleh, tapi aku tidak mau makan di cafe atau restoran mewah. Kita makan di rumah makan perempatan jalan itu aja." ucap Almaira sambil menunjukkan arah jalan tempat rumah makan yang dimaksud Almaira
Di sana makanya enak. nggak kalah jauh kok sama restoran bintang lima." ucap Almaira
"Tapi kenapa harus makan di sana sayang? tanya Bimo penasaran. Karena jarang sekali wanita menolak makan di restoran ternama. seumur umur Baru Almaira yang menolak ajakan Bimo makan Di restoran atau cafe mahal.
"Mas mau tahu mengapa Almaira memilih makan di rumah makan pinggir jalan?tanya Almaira, karena Almaira melihat kebingungan di wajah Bimo.
Bimo menganggukkan kepalanya, pertanda ia ingin mengetahui apa yang menyebabkan Almaira ingin sekali memakan di rumah makan pinggir jalan itu.
"Sekarang Almaira balik bertanya sama mas deh. Makan di restoran bintang lima harganya berapa? Paling tidak ratusan sekali makan bukan? sementara kalau kita makan di sana untuk pengeluaran sekali makan atau satu porsi di restoran, bisa beberapa porsi di rumah makan pinggir jalan.
Selain itu pemilik restoran bintang lima mereka sudah kaya dan tidak perlu dibantu lagi. Berbeda dengan pemilik rumah makan yang ada di pinggir jalan. Kalau kita makan di sana hitung-hitung kita bisa membantu mereka menyekolahkan anaknya." jawab Almaira memberikan alasan mengapa Almaira memilih makan di rumah makan pinggir jalan dibandingkan restoran bintang lima.
Bimo terdiam mendengar pola pikir Almaira yang memikirkan hal hal kecil seperti ingin membantu orang lain dengan cara sederhana. Bimo mengikuti saran Almaira untuk makan di rumah makan pinggir jalan.
"Berhenti di situ saja pak." ujar Almaira
__ADS_1
Lalu sang sopir menghentikan mobilnya yang dikendarainya di depan warung pinggir jalan itu. Bimo dan Almaira turun dari mobil mewah milik Bimo
semua mata tertuju pada mereka.
Ya siapa yang tidak kenal dengan Bimo Setiawan, hampir setiap hari wajahnya menghiasi layar kaca dan media massa karena bisnis yang dikelolanya yang sangat berkembang. Mereka merasa heran,seorang Bimo Setiawan makan di warung pinggir jalan.
Almaira menggendong tubuh mungil Devan lalu berjalan masuk ke warung pinggir jalan itu untuk menikmati sarapan pagi yang dihidangkan di sana. Seumur-umur Bimo belum pernah makan di warung pinggir jalan seperti saat ini. Biasanya Bimo dan Devan pan sarapan roti susu atau menu makanan ringan yang dihidangkan oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Setiawan.
"Mau makan apa mas? tanya pelayan rumah makan itu sambil melihat ke arah Almaira..
"Loh neng Almaira!"
"Iya kang jawab Almaira singkat
"Mau makan apa neng? Yang biasa ya neng?
"Iya kang." jawab Almaira singkat
"Oh Almaira sudah biasa makan di sini jadi seleraku sudah mereka tahu.
"Oh iya Mas Bimo mau pesan apa?
"Samakan saja sama pesanan kamu sayang.
"Kang makannya jadi dua ya dan satu lagi menu makanan yang tidak pakai sambal untuk Putraku" ucap Almaira menambakan pesanannya.
"Baik neng!" sahut kang Udin yang merupakan pemilik rumah makan itu.
Tidak menunggu lama pesanan mereka pun datang. Almaira mencuci tangannya yang di dalam kobokan yang sudah disediain kang Udin. Bimo memandangi Almaira dan menirukan bagaimana cara makan di rumah makan pinggir jalan.
Maklum, Bimo biasanya makan pakai sendok, garpu dan pisau. Sementara Almaira makan pakai tangan. Tetapi Bimo mengikuti cara makan Almaira. "Bagaimana enak tidak? tanya Almaira sambil dengan telaten menyuapi Devan. Terlihat Devan juga makan dengan lahap. Membuat Bimo mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Padahal selama ini Devan sangat sulit sekali, jika dirinya disodorkan makanan yang sama sekali belum pernah ia makan dan di tempat yang belum pernah Ia kunjungi. Tetapi untuk saat ini Devan benar-benar menikmati menu makanan yang dihidangkan di warung pinggir jalan itu. Almaira mengembangkan senyumnya, dengan sekejap Devan menghabiskan menu makanan yang disediakan untuknya oleh kang Udin
Setelah Devan menghabiskan menu makanannya barulah Almaira menyantap menu makanan yang ia pesan sebelumnya. iya merasa bahagia Devan dapat mencicipi berbagai makanan pinggir jalan yang ia sukai juga.
"Bagaimana Mas enak bukan?
"Hum.....m..m lumayan." jawab Bimo tetapi tampak makanan yang ada di hadapannya sudah hampir habis.
Almaira hanya mengembangkan senyumnya ke arah Bimo . Di sela-sela mereka makan ada dua orang anak kecil datang mengamen di warung nasi kang Udin. Setelah selesai makan Almaira memanggil kedua anak kecil itu
"Dek sini deh!" panggil Almaira. lalu kedua anak kecil itu datang menghampiri Almaira "Ada apa kak?
"Kakak bisa nggak pinjam gitarnya sebentar saja? Kakak yang main gitar kalian yang minta uangnya." ucap Almaira
"Boleh kak!" jawab kedua anak kecil itu kepada Almaira sambil memberikan gitarnya kepada Almaira.
"Horeeee Mami main gitar, Ayo mom petik gitarnya. Devan ingin melihat Mami memainkan gitar itu. mami pasti jago main gitar." ucap Devan merasa dirinya ingin sekali mendengar suara petikan gitar Almaira.
Almaira memainkan gitar dan mendendangkan lagu yang berjudul "Berbeda kasta ." sementara kedua anak kecil itu meminta uang sumbangan kepada setiap pengunjung di warung makan kang Udin dengan menggunakan kantong plastik yang sudah Meraka bawa sebelumnya. Untuk tempat uang pemberian orang orang yang ada di sana.
Dan setelah selesai mendendangkan lagunya, semua yang ada di sana bertepuk tangan tidak terkecuali dengan Bimo Kedua anak kecil itu datang menghampiri Almaira "Wah berkat kakak kita dapat banyak uang." ucap kedua anak kecil itu.
"Bukan karena kakak dek tapi karena rezeki kalian berdua."sahut Almaira
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya teman emak
__ADS_1