
Sudah satu minggu Andra tak sadarkan diri, padahal kata Dokter, keadaan Andra sudah mulai membaik. Bahkan Kondisinya sudah mulai stabil.
Tetapi, entah kenapa, Andra seakan enggan untuk membuka matanya. Andra seakan tak memiliki gairah hidup lagi, Dia terlihat lebih nyaman dalam tidur panjangnya.
Dokter pun menyarankan, agar keluarga Andra sering mengajak ngobrol Andra. Memberitahukan hal-hal yang menarik, yang membuat Andra merasa ingin segera bangun dari tidur panjangnya.
Elis dan Andrea bahkan sudah melakukan segala cara, agar anaknya bisa terbangun. Tapi, tetap saja Andra begitu tenang dalam tidurnya.
Bahkan, Alika pun sering datang. Dia sering menangis, sambil menceritakan kesehariannya. Tapi tetap saja, Abangnya seakan tidak mau juga membuka matanya.
"Mas, bagaimana ini?" tanya Elis.
"Kita berdo'a saja sama Tuhan, minta di berikan yang terbaik untuk putri kita." jawab Andrea.
"Oiya, Mas. Kenapa, aku tidak pernah melihat Liodra? Apa, dia tidak tahu kalau Andra kecelakaan?" tanya Elis.
"Itu tidak mungkin, Sayang. Berita tentang kecelakaan Andra, sedang ramai dibicarakan di laman gosip. Tak mungkin, jika wanita yang selalu di bela anak mu itu tak tahu." ucap Andrea.
"Mas,"panggil Elis.
"Nanti aku cari tahu," ucap Andrea.
"Aku berangkat ke kantor dulu, Sayang." ucap Andrea seraya mengecup kening Elis.
"Hem, hati-hati." Elis mengecup bibir Andrea sekilas, Andrea pun langsung tersenyum.
Andrea dan Elis memutuskan untuk tinggal di kita kelahiran mereka, meneruskan perusahaan yang diwariskan oleh Ayah angkatnya Tuan Wijaya.
Perusahaan Andrea yang berada di Singapura, dia serahkan pada orang kepercayaannya. Andrea memang suka tinggal di Singapura. Di sana, dia bisa mengumpulkan pundi-pundi uang dengan cepat.
Tetapi, Andrea juga ingin tinggal di tanah air sendiri. Dia ingin tinggal di kampungnya sendiri, itu lebih nyaman menurutnya.
__ADS_1
Apalagi, di sana ada kedua orangtua Andrea. Hal itu membuat Andrea lebih nyaman tinggal di kampung halamannya, berkumpul bersama dengan anak dan istrinya.
Sampai di kantor, Andrea langsung menelpon anak buahnya. Dia meminta mereka, untuk menyelidiki tabrakan yang menimpa Andra.
Andrea juga meminta pada anak buahnya, untuk menyelidiki Liodra. Wanita yang selalu dia cintai dan Andra bela. Tapi, di saat Andra tergolek lemah, Liodra seakan hilang bak di telan bumi.
Setelah menelpon orang suruhannya, Andrea kembali fokus pada pekerjaannya. Walaupun hatinya terasa was-was, tapi Andrea tak bisa mengabaikan pekerjaannya.
Andrea memang selalu gigih dalam berusaha, hal itu menurun pada kedua anak mereka. Beruntung sifatnya yang suka bergonta-ganti wanita, tidak menurun pada Andra.
Selang dua jam, pintu ruangan Andrea di ketuk. Andrea mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
Nampaklah dua orang pria bertubuh besar, menghampiri Andrea.
"Sudah dapat?" tanya Andrea.
"Sudah, Tuan." salah satu dari mereka menghampiri Andrea, dan menyerahkan map berwarna merah.
Andrea menerima map, yang diberikan oleh salah satu anak buahnya tersebut. Dengan perlahan, Andrea pun membuka map tersebut.
Dia membacanya dengan seksama, tak lama mata Andrea terlihat memerah, rahangnya terlihat menegas. Dia terlihat sangat marah, setelah membaca laporan dari kedua anak buahnya tersebut.
"Dasar perempuan sialan!! Berani sekali dia berselingkuh di belakang putra ku, bahkan mereka sudah satu tahun lebih berselingkuh. Pantas saja, putraku terlihat sudah pasrah dengan hidupnya." Andrea mendesah pasrah.
Andrea tak menyangka, jika pemicu terjadinya kecelakaan Andra, adalah Liodra. Setelah mendapatkan laporan yang dia inginkan, Andrea pun meminta kedua anak buahnya untuk pergi.
Selepas kepergian anak buahnya, Andrea terlihat merenung. Dia bingung saat ini, apa yang harus dia lakukan saat ini, dia pun sungguh tak tahu.
Buat nya Andra masih sangat muda, tetapi dia sudah terlihat pasrah dengan kehidupannya. Andrea jadi merasa gagal, dia merasa tak becus dalam menjaga putranya.
Sedangkan di Rumah Sakit, Elis terlihat begitu sedih. Bahkan, dia tak berhenti menangis. Dia rindu Andra yang ceria, rindu Andra yang selalu tersenyum ramah pada siapa pun.
__ADS_1
Elis terus saja memandangi wajah putranya sambil mengelus lembut puncak kepala putranya.
"Bunda," panggil Alika.
"Kamu sudah pulang kuliah, Sayang?" tanya Elis.
"Sudah, Bun. Sekarang Bunda istirahat saja. Biar aku yang menjaga, kak Andra.' ucap Alika.
Elis menyusut air matanya yang masih terus merembes membasahi pipinya, kemudian dengan perlahan dia pun bangun dari bangku tunggu yang sedari pagi dia duduki.
Dia mengecup lembut kening putranya, kemudian Elis menatap Alika, putri kesayangan nya.
"Bunda ingin pergi ke taman, Bunda ingin menghirup udara segar. Tolong jaga kakak kamu dengan baik," titah Elis.
Alika pun menganggukkan kepalanya tanda setuju, setelah berpamitan kepada putrinya, Elis pun segera pergi dari rumah sakit tersebut. Dia melajukan mobilnya menuju Taman Kota, Dia ingin menenangkan dirinya barang sejenak.
Saat tiba di taman, Elis langsung duduk di tanah. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi paru-parunya dan oksigen.
Elis mencium Wangi Bunga yang terasa sangat menggelitik hidungnya, Elis berusaha menenangkan dirinya. Dia berusaha melupakan kesedihan yang hinggap di hati nya.
Di sana, Elis tak melakukan apapun. Dia hanya terdiam, sambil menikmati keindahan bunga yang terhampar di taman.
Hampir satu jam, Elis duduk di taman tersebut. Setelah merasa puas, Elis pun bangun, dan menepuk celananya yang terlihat sedikit kotor karena bersentuhan langsung dengan tanah.
Saat Elis akan masuk kedalam mobilnya, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang meminta tolong padanya.
"Tolong saya, Nyonya. Ada beberapa orang, yang mengejar saya. Saya takut, Nyonya. Tolong saya, saya mohon." pinta nya.
Elis menelisik penampilan wanita tersebut, terlihat sangat sederhana. Seperti gadis desa, Dia terlihat sangat ketakutan. Keringat bercucuran di dahinya, penampilannya sangat acak-acakan.
Bahkan kalau di lihat dari wajahnya, sepertinya dia masih seumuran dengan Alika. Elis yang tak tega pun berniat untuk menolong wanita muda itu.
__ADS_1
"Masuklah," titah Elis.