
Sesekali, Elis terlihat memperhatikan wanita muda yang kini duduk di sampingnya. Gadis itu terlihat sangat ketakutan, Elis pun menjadi tak tega dibuatnya.
Rasanya, Elis ingin melindungi gadis itu walaupun Elis belum kenal dengan gadis tersebut. Bahkan namanya pun, Elis belum tahu siapa.
Setelah sampai di rumah sakit, Elis langsung membawa gadis tersebut menuju kantin Rumah Sakit. Dia membelikan air mineral dan juga beberapa makanan, setelah itu Elis mengajak gadis itu untuk duduk.
"Minumlah, dan makanlah roti dan juga camilan yang sudah aku belikan." titah Elis.
"Terimakasih, Nyonya." ucap gadis itu.
Gadis cantik itu pun mulai memakan roti yang Elis belikan, dia memakan roti tersebut dengan sangat lahap. Gadis itu seperti sudah dua hari tak makan, dalam sebentar saja, tiga buah roti yang Elis belikan sudah habis dimakan oleh nya.
Elis pun tersenyum, dia sangat penasaran dengan gadis tersebut.
"Siapa, nama kamu?" tanya Elis.
"Renya, Nyonya. Maksud saya, Renata." ucap Nya.
"Kamu sangat cantik, Renya. Dari mana asal kamu?" tanya Elis.
"Sebenarnya, saya dari Jakarta, Nyonya. Saya kabur, karena Om dan Tante saya akan menjodohkan saya dengan teman bisnisnya." ucap Renya.
"Jadi? Orang-orang yang tadi mengejar kamu?"
"Mereka orang suruhan dari orang yang dijodohkan dengan saya, Nyonya." jawab Renya.
"Kenapa, kamu tidak mau di jodohkan?" tanya Elis lagi.
"Saya baru lulus SMA, Nyonya. Sedangkan orang yang mau di jodohkan dengan saya, sudah sangat tua. Saya takut, wajah nya nyeremin." ucap Renya.
Renya terlihat bergidig karena mengingat wajah tua, lelaki yang akan di jodohkan dengannya. Pengusaha kaya, tapi sudah beristri tiga.
Elis pun langsung tertawa, dia tak menyangka jika di jaman modern seperti ini, masih berlaku acara perjodohan. Bahkan dengan cara paksaan, yang membuat orang ketakutan.
"Lalu, apa rencana kamu sekarang?" tanya Elis.
"Ngga tahu, Nyonya. Yang penting, untuk saat ini saya bisa lepas dulu dari kejaran mereka." jawab Renya.
Elis merasa iba, dia pun menkadi tak tega. Dan akhirnya, dia pun merencanakan akan mempekerjakan Renya di rumahnya sebagai asisten rumah tangga.
__ADS_1
"Kamu mau kerja sama, Saya?" tanya Elis.
Wajah Renya langsung berbinar, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Mau, Nyonya." ucap Renya.
"Tapi, hanya sebagai asisten rumah tangga. Mau?" tanya Elis lagi.
"Mau, Nyonya. Apa saja, yang penting saya bisa lepas dari jerat lelaki tua yang mempunyai tiga istri itu." ucap Renya.
"Astaga, Renya. Kamu mau di jadikan istri ke empat??! Yang benar saja!! " kesal Elis.
Renya hanya terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia juga tidak tahu, kenapa Om dan Tante nya begitu kejam kepadanya.
Padahal, mereka terlihat sangat menyayangi putri mereka. Tetapi, jika berhubungan dengan dirinya, mereka terlihat sangat membencinya. Bahkan mereka memperlakukan Renya seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Renya masih ingat, jika itu adalah rumahnya. Kedua orang tua Renya memang meninggal saat Renya kecil, masih berusia tujuh tahun, tapi Renya masih ingat, jika dia tinggal di sana.
Hingga kecelakan mobil merenggut nyawa kedua orang tuanya, datang lah Om dan Tanteny ke rumah Renya. Tak berselang lama, Om dan Tantenya membawa sepupunya untuk tinggal di sana.
Sejak saat itulah, Renya merasa hidup di neraka. Itu adalah rumahnya, tapi Renya benar-benar diperlakukan secara tidak layak oleh keluarganya sendiri.
"Jangan melamun, sekarang kita ke ruangan ani saya dulu." ajak Elis, Renya menurut.
Saat tiba di dalam ruangan Andra, Alika langsung protes terhadap Bundanya. Karena memang, Elis pergi terlalu lama.
"Bunda kenapa lama? Aku ada janji buat ngerjain tugas bareng, boleh kan Bun, ngerjain tugas bareng Etika?" tanya Alika.
"Boleh, Sayang. Sekalian ajak Renya pulang. Baju kamu yang sudah jarang di pake, kamu kasih dia saja." ucap Elis.
Alika baru sadar, jika Bundanya datang ke ruangan Andra dengan seorang wanita seumuran dengannya. Alika pun memperhatikan penampilan Renya yang terlihat lusuh, dan juga kampungan.
"Nama kamu siapa?" tanya Alika.
"Renya, Nona."
Alika menyelipkan helaian rambut Renya ke daun telinga Renya," Kamu cantik, apa lagi kalau mandi dan memakai baju yang bersih. Pasti, kamu akan terlihat sangat cantik."
"Nona, terlalu berlebihan." ucap Renya.
__ADS_1
"Dia, siapa, Bun?" tanya Alika.
"Dia, asisten rumah tangga yang baru. Nanti kamu tunjukan kamarnya di mana, jangan lupa di kasih baju."ucap Elis.
"Siap, Bunda." ucap Alika.
Alika terlihat senang, karena akhirnya akan ada teman perempuan di rumahnya. Walaupun dia hanya sekedar asisten rumah tangga, tapi dia sangat senang.
Karena memang di rumahnya hanya ada Bi Ani, yang sudah sepuh. Susah buat di ajak ngomong masalah anak muda.
"Aku pulang sekarang, Bunda ngga apa-apa kan, jagain Kak Andra sendirian?" tanya Alika.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sebentar lagi, Ayah Andrea akan datang." ucap Elis.
Alika langsung tersenyum, kemudian dia mencium kedua pipi Elis. Setelah itu, dia pun merangkul pundak Renya tanpa ragu, Alika pun mengajak Rennya untuk pulang ke rumah mereka.
Sedangkan Elis, langsung menghampiri Andra yang masih tergolek lemas, dia duduk di samping sambil putranya, lalu mengelus lembut punggung tangan putranya.
"Cepat sembuh, Sayang." ucap Elis.
Sementara Elis berjaga di rumah sakit, Alika langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Hirata.
Setelah sampai di kediaman Hirata, Alika mengajak Renya menuju kamar belakang. Kamar khusus untuk para pekerja di sana, dia pun menunjukkan sebuah kamar kecil untuk Renya.
Bagi Alika kamar itu terlihat kecil, tetapi saat mereka masuk ke dalamnya, kamar itu terlihat sangat luas bagi Renya. Karena Renya, di rumahnya sendiri hanya diberikan kamar yang sangat kecil oleh Om dan Tante nya.
Tanpa ragu, Alika pun menyuruh Renya untuk mandi, saat Renya mandi, Alika mengambilkan baju untuk Renya di kamarnya.
Dia mengambilkan banyak baju, untuk Renya. Baju yang sekiranya sudah jarang dia pakai dia berikan pada Renya, bahkan ada beberapa baju baru yang dia berikan pada Renya.
Saking banyaknya baju yang dia bawa, Alika sampai meminta tolong pada Bi Ani untuk membawakan baju-baju tersebut.
"Ini Untuk siapa, Nona?" tanya Bi Ani.
"Buat Renya, Bi. Dia akan bekerja di sini, Bini nanti tolong jelasin apa saja pekerjaan yang harus di lakukan oleh Renya." jelas Alika.
"Siap, Nona." jawab Bi Ani.
Alika dan Bi Ani pun masuk kedalam kamar Renya, saat mereka masuk, Renya baru saja kelar mandi dan dia hanya memakai handuk mandi saja.
__ADS_1
Renya terlihat panik karena tak mempunyai baju ganti, dia terlihat sedang celingukan mencari sosok Alika. Alika pun terkekeh, saat melihat wajah Renya yang terlihat panik.