
"Nyari apa?" tanya Alika yang baru saja masuk bersama Bibi.
"Nyari, Non Alika." jawab Renya.
"Aku ngambil baju buat kamu, di pakai ya... Semoga kamu, suka." ucap Alika.
"Terimakasih, " ucap Renya.
Alika dan Bibi pun langsung keluar kamar, sedangkan Renya, terlihat sedang memakai baju milik Alika. Beruntung mereka memiliki tubuh yang sama, jadi semua baju yang Alika berikan sangat pas di tubuh Renya.
Kini, penampilan Renya, tak selusuh saat pertama datang. Wajahnya sudah terlihat segar, dan penampilannya sudah sama seperti anak majikannya.
Untuk sesaat, Renya mematut penampilannya di cermin. Renya tersenyum, Renya bahagia karena di pertemukan dengan orang-orang baik.
Setelah merasa puas, Renya langsung keluar dan menemui Alika yang berada di ruang tengah. Alika pun langsung tersenyum, dia sangat senang melihat penampilan Renya yang terlihat lebih fresh.
"Non, saya harus apa sekarang?" tanya Renya.
"Penampilan kamu udah ok, aku jadi ngga tega buat nyuruh kamu." ucap Alika.
"Kamu temenin aku, buat ngerjain tugas kampus saja." ucap Alika yang memang sedang dengan tugasnya.
Alika terlihat kesusahan mengerjakan tugasnya, untuk sesaat, Renya ikut memiringkan wajahnya, melihat ke arah layar laptop.
"Kenapa ngga segera di kerjakan?" tanya Renya.
"Bingung, agak susah ini." ucap Alika.
"Mau di bantu?" tanya Renya.
Alika langsung menganggukan kepalanya, dia suka. Dia senang ada yang menawarinya bantuan.
Renya pun langsung menjelaskan cara menyelsaikan tugas Alika, Alika pun terlihat manggut-manggut tanda mengerti.
Tak perlu waktu lama, tugas kuliah pun sudah selsai di kerjakan. Alika sangat senang, karena ternyata Renya sangat pandai.
"Kamu ngga sekolah?" Tanya Alika.
"Hanya lulusan SMA," jawab Renya.
__ADS_1
"Sayang sekali, padahal kamu sangat pandai." ucap Alika.
"Saya, tidak punya biaya, Nona." ucap Renya.
Alika pun terlihat sedih melihat gadis yang seumuran dengannya itu, dia merasa iba karena keterbatasan biaya yang di alami oleh Renya.
Sementara itu, Andrea sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung masuk ke dalam ruang perawatan Andra. Di sana ada Elis yang sedang setia menunggunya, Andrea pun langsung menghampiri Elis dan mengecup bibirnya sekilas.
"Selamat sore, Sayang." sapa Andrea.
"Sore, Mas. Bagaimana?" tanya Elis.
"Ternyata benar dugaan mu, Sayang. Lyodra hanyalah wanita yang berpacaran dengan anak kita karena status sosial saja, wanita itu hanya mengejar harta Andra. Dia menginginkan kemewahan yang selalu diberikan oleh Andra, tapi sialnya, dia malah mencintai lelaki lain, lelaki yang selalu dia biaya hidupnya dari uang yang dia dapat dari Andra." jelas Andrea.
"Ya tuhan,,, kasihan sekali anak kita, Mas." ucap Elis.
Elis menangis sambil mengelus lembut puncak kepala putranya, dia begitu sedih dengan apa yang telah menimpa putranya.
Andrea segera memeluk Elis, dia berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Sabar, Sayang. Wanita itu pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, sekarang tugas kita adalah, berusaha agar putra kita segera sadar." ucap Andrea.
Setelah melihat Elis yang sudah tenang, Andrea pun segera menghampiri putranya. Dia berbisik, tepat di telinganya Andra.
"Bangun, Andra. Jangan jadi pria lemah, kamu harus buktikan pada wanita itu, jika kamu akan baik-baik saja walaupun tanpanya." ucap Andrea.
Elis dan Andrea benar-benar merasa sedih, saat melihat keadaan Putra mereka. Tapi, mereka sangat berharap, jika Andra bisa secepatnya sadar dan pulih kembali.
Mereka juga sangat berharap, agar Andra bisa segera move on dari wanita ular itu. Dan tentunya, mereka berharap jika Liodra mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.
...****************...
Setelah satu minggu mendapatkan perawatan, akhirnya Andra pun tersadar dari koma. Elis, Andrea dan juga Alika sangat senang.
Karena Andra, telah terbangun dari tidur panjangnya. Tetapi sayangnya, setelah tersadar dari Andra seperti mayat hidup. Dia tak mau bicara, tatapan matanya pun seakan kosong.
Elis dan Andrea merasa khawatir dengan keadaan putra sulung mereka, akhirnya mereka pun memutuskan untuk merawat Andra di rumah saja. Mungkin, suasana di rumah akan membuatnya lebih tenang dan cepat sembuh, pikir mereka.
Saat tiba di rumah, Andra masih terdiam di kursi rodanya. Dia benar-benar tak beraksi, Elis benar-benar sedih di buatnya. Dia benar-benar bingung, harus melakukan apa.
__ADS_1
Waktu telah menunjukan pukul satu siang, Renya segera menghampiri Elis dan memberitahukan jika makan siang sudah siap. Elis yang terlihat sedang melamun pun, langsung tersadar.
"Sudah waktunya makan siang, ya?" tanya Elis.
"Iya, Nyonya." jawab Renya.
"Kalau begitu, kita ke kamar Andra. Aku mau makan bareng, sama dia. Alika mana?" Elis melangkah kan kakinya menuju kamar Andra.
"Belum pulang, Nyonya." jawab Renya.
"Ya, sudah ngga apa-apa." ucap Elis.
Tiba di kamar Andra, Elis melihat Andra yang sudah duduk sambil menyandarkan tubuhnya. Elis pun meminta bantuan Renya untuk membantu Andra duduk di kursi rodanya.
Dengan sigap, Renya pun langsung membantu Elis. Untuk sejenak, Renya memandang wajah Andra. Terlihat tampan, dan juga masih muda, pikirnya.
Setelah selsai, Renya mendorong Andra. Sedangkan Elis mengikuti mereka dari belakang. Tiba di ruang makan, Renya pun dengan sigap mengambilkan nasi dan segera menyuapi Andra.
Andra terlihat membuka mulutnya, tapi tatapan nya tak tahu mengarah kemana. Elis terlihat senang, karena setidaknya ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Makanannya sudah habis, Andra juga sudah terlihat kenyang. Sekarang, giliran kamu untuk makan." titah Elis.
Renya pun mengangguk, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ruang belakang.
" Mau kemana kamu, Renya?" tanya Elis.
"Mau makan, Nyonya." jawab Renya.
"Di sini saja," titah Elis.
"Di ruang belakang saja, saya merasa kurang sopan kalau harus makan di sini." tolak Renya.
"Saya mau pergi, ada hal yang perlu saya lakukan. Kamu sekalian jaga Andra," ucap Elis.
"Iya, Nyonya." ucap Renya.
Elis pun segera pergi dari ruangan makan tersebut, dia menuju kamarnya. Tak lama kemudian, dia pun pergi menggunakan mobil kesayangannya.
Sedangkan Renya, dia asik menikmati makanannya di meja makan. Sesekali, dia menatap wajah Andra yang terlihat begitu tampan. Tapi sayangnya, keadaannya sangat memprihatinkan.
__ADS_1
Selsai makan, Renya memutuskan untuk mengajak Andra ke taman belakang. Karena mungkin, pria yang berada di dekatnya itu, butuh udara segar.