
Tiba di taman, Renya langsung mendekatkan Andra di dekat bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran. Setidaknya, Andra akan mendapatkan udara yang segar dengan wangi bunga yang begitu menenangkan.
Andra terlihat diam saja, tapi, matanya terlihat berkaca-kaca. Renya jadi merasa ikut sedih, bahkan Renya pun jadi bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan anak majikannya itu?
Renya pun segera duduk di bangku taman, tepat di pinggir Andra. Kemudian Renya memberanikan diri mengusap tangan kanan Andra. Dia berusaha menyalurkan rasa tenang, kepada anak majikan tersebut.
"Tuan, Sebenarnya kenapa? Kalau Tuan, butuh teman curhat, saya siap mendengarkan." ucap Renya.
Andra pun memalingkan wajahnya, dia menatap wajah Renya sebentar. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah lain.
Terdengar helaan nafas berat, dari bibir Andra. Renya pun, jadi berpikir. Jika Tuan mudanya itu sedang mempunyai masalah yang sangat berat. Sehingga membuat dia terlihat begitu stress, dan enggan untuk melakukan apa pun.
Renya pun jadi berpikir, jika Andra baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya mungkin, patah hati mungkin, atau sejenisnya.
"Jika Tuan sedang kecewa terhadap seseorang, janganlah terlalu berlarut. Itu akan merugikan diri sendiri, sebaiknya Tuan segera bangkit. Buktikan kepada orang yang mengecewakan Tuan tersebut, jika Tuan adalah orang yang kuat." ucap Renya.
Andra kembali menolehkan wajahnya, dia menatap wajah Renya dengan intens.
"Sok tahu," ucap nya pelan.
Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Andra, dan omonganya terdengar tidak enak di kuping Renya.
Renya pun merasa bersalah, karena sudah mengucapkan kata itu. Renya langsung tertunduk, dia merasa malu dengan ucapannya sendiri.
" Dari mana kamu bisa berpikir, jika aku sedang patah hati dan dikecewakan oleh seorang kekasih?" tanya Andra kemudian.
"Dari tatapan mata Anda, Tuan. Dari kesedihan yang terlihat jelas di wajah anda, dari kekecewaan yang terlihat jelas dari raut wajah anda." ucap Renya dengan kepala yang masih menunduk.
"Kamu benar, tebakanmu sangat benar. Aku memang sedang patah hati, karena wanita yang sangat aku cintai, ternyata mempunyai kekasih lain di belakangku. Bahkan mereka sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar berpacaran," ucap Andra.
__ADS_1
Renya langsung memberanikan diri untuk menatap wajah Andra, perasaan iba muncul di hatinya. Dia merasa kasihan padanya, karena ternyata, mempunyai banyak harta, wajah tampan dan berkelas, tidak menjamin jika dia tidak akan diselingkuhi.
"Jangan menatapku seperti itu, kamu tidak perlu kasihan padaku. Tidak perlu iba, seperti yang kamu katakan, aku harus kuat dan aku jamin aku bisa kuat." ucap Andra.
Renya pun langsung tersenyum, dia begitu senang dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Mudanya.
"Iya,Tuan. Saya yakin jika Tuan akan kuat, Tuan itu tampan, kaya, dan banyak uang. Wanita manapun pasti mau sama Tuan. Tuan harus buktikan kepada wanita yang sudah mengecewakan Tuan, jika Tuan lebih baik dari pria yang dipilih oleh wanita tersebut." ucap Renya penuh semangat.
Andra pun tersenyum, dia sangat senang mendengar motivasi dari Renya. Renya pun sangat senang melihat senyuman Andra, karena Andra, terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya.
" Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Andra.
"Tuan sangat tampan, saya merasa heran dengan wanita yang menyakiti Tuan. Pasti matanya siwer, karena sudah meninggalkan pria senampan Tuan." ucap Renya polos.
"Kamu bisa saja, sekarang antar aku ke kamar. Aku mau beristirahat," pinta Andra.
Renya segera bangun dan mendorong kursi roda yang dipakai oleh Andra, dengan perlahan dan hati-hati Renya mengantarkan Andra ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar Andra, Renya pun membantu Andra untuk merebahkan tubuhnya. Awalnya Renya terlihat kesusahan, memapah tubuh besar Andra. Tapi, Renya berusaha untuk bisa membantu Andra.
Setelah memastikan Andra tidur, Renya menatap wajah tampan Andra. Dia merasa iba, setelah mendengar curahan hati Andra.
"Kasihan sekali dia, sudah tampan, mapan, tapi masih di hianati kekasihnya. Saya do'akan semoga Tuan, mendapatkan wanita yang baik. Karena saya lihat, Tuan juga adalah orang baik." ucap Renya lirih.
Setelah mengucapkan isi hatinya, Renya pun segera keluar dari kamar Andra. Baru saja Renya menutup pintu kamar Andra, ternyata Elis sudah datang dan dia pun langsung menyapa Renya.
"Loh, kok kamu keluar dari kamarnya Andra!?" ucap Elis.
Renya langsung mengelus dadanya karena kaget," Astaga, Nyonya, Anda mengagetkan saja."
__ADS_1
Elis langsung terkekeh melihat reaksi Renya," Maafin saya."
"Ngga apa-apa, Nyonya. Tuan muda tadi minta tidur, katanya lelah banget." ucap Renya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja. Karena pekerjaan rumah juga sudah selesai, saya mau melihat Andra dulu." ucap Elis.
"Baik, Nyonya." jawab Renya.
Renya sudah melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya, tetapi Elis kembali memanggilnya.
"Tunggu dulu, Renya. Apa saja yang Andra lakukan selama saya pergi?" tanya Elis.
"Setelah dia makan, dia hanya diam saja, Nyonya. makanya setelah selesai makan, saya ajak Tuan Muda menuju Taman. Sepertinya suasana taman sangat bagus, karena dia mau curhat dengan saya." ucap Renya.
"Benarkah?" tanya Elis.
"Iya, Nyonya." jawab Renya.
"Curhat apa saja dia?" tanya Elis.
"Dia menceritakan tentang kekecewaannya, terhadap mantan kekasihnya, Nyonya." ucap Renya.
"Tumben, biasanya dia tidak akan pernah bercerita dengan orang yang baru dikenalnya." ucap Elis.
"Saya tidak tahu, Nyonya." ucap Renya.
"Ya sudah, terima kasih. Kalau begitu, kamu sekarang istirahat saja." ucap Elis.
Renya pun menurut, Renya langsung menganggukan kepalanya. Elis langsung masuk ke dalam kamar Andra, sedangkan Renya, langsung ke belakang menuju kamarnya.
__ADS_1