
Now Loading...
Saat ini Mirhan, Rio, dan Hanna sedang duduk menghadap pak Meriady. Mereka harap-harap cemas menunggu apa yang akan dibicarakan beliau mengenai gosip belakangan ini beredar. Meriady menatap mereka bertiga bergantian dengan serius.
"Saya baru saja mendapat berita mengenai gosip kedekatan Hanna dan Rio," ucap pak Meriady memulai membuka pembicaraan.
"Semua itu gak seperti yang ayah pikirkan..." Mirhan berusaha menjelaskan.
"Ya...saya mengerti, tapi semua ini sangat berdampak pada game Shooter of War yang kalian berdua menjadi Brand Ambassador nya..." ayahnya Mirhan menanggapi dengan serius.
"Saya akan bertanggung jawab untuk itu," Rio sekarang yang mulai bersuara. "Kalau kontrak saya akan dicabut karena itu saya akan menerimanya, tapi tolong bapak jangan mencabut kontrak Hanna," ucap Rio siap menjadi orang yang disalahkan.
"Ya...gak bisa gitu dong Yo..." Hanna menanggapi ucapan Rio dengan serius. "Kalau lo cabut, gue akan cabut juga..." ucap Hanna dengan tegas. "Terlebih lagi saat ini lo sedang butuh uang ini untuk biaya merawat bokap lo di rumah sakit dan adik lo yang akan masuk kuliah," Hanna memarahi Rio karena dia mulai peduli pada Rio.
"Bener kata Hanna Yo, lo gak bisa gitu aja cabut..." Mirhan mendukung ucapan Hanna.
"Yang bilang ingin mencabut kontrak kalian siapa?" tanya pak Meriady membuat mereka terkejut.
"Jadi alasan ayah memanggil kita kesini buat apa?" Mirhan yang tadinya melongo kini mulai bertanya.
"Justru saya ingin berterima kasih pada kalian berdua, sebab gosip itu membuat follower Instagram Megawave bertambah sebesar dua juta follower," pak Meriady tersenyum karena sangat senang dengan hasil itu. "Bahkan Pre-Order (permintaan pembelian suatu produk sebelum tersedia untuk dijual) untuk game Shooter of War sudah mencapai satu juta pembelian," tambahnya menjelaskan dengan bangga.
"Apapun masalahnya, asalkan itu bisa menguntungkan untuk perusahaan, menjadi anugrah..." bisik Rio dari dalam hati.
Sedangkan Rio dan Hanna hanya terdiam tidak bisa berbicara apapun. Mereka hanya tersenyum kecut menerima penjelasan pak Meriady. Harusnya mereka senang dengan apa yang diucapkan pak Meriady, namun disini perasaan mereka malah kebalikannya.
"Saya ingin gosip kalian berdua yang berpacaran menjadi kenyataan," ucap pak Meriady sambil tersenyum bersemangat.
"Sebentar pak...gue gak bakalan mau kalau harus pacaran dengan ini Monyet Betina," ucap Rio sambil menunjuk Hanna.
__ADS_1
"Heh...Jin Botol, lo pikir gue mau pacaran dengan lo?" Hanna menanggapi ucapan Rio dengan gaya mengejek. "Eh...najis gue..." ejek Hanna.
"Gitu juga gue jir..." Rio membalas ejekan Hanna.
"Sudah kalian gak usah bertengkar," ucap Mirhan menengahi.
"Ia..." ucap Rio dan Hanna serentak.
"Maksud ayah ingin mereka melakukan pura-pura pacaran?" Mirhan bertanya pada ayahnya.
"Ia...itu maksud saya..." pak Meriady menjawab pertanyaan anaknya.
"Kalau seperti itu kami harus membuat pacaran Settingan (istilah ini sangat populer saat ini karena para artis menggunakannya untuk popularitas dan memasarkan suatu produk yang mereka iklankan) dong?" tanya Rio kemudian.
"Perusahaan akan membayar lebih untuk itu," pak Meriady menanggapi pertanyaan Rio.
"Kami hanya perlu berpura-pura kan?" tanya Hanna dengan serius.
Sementara Rio dan Hanna saling berpandang-pandangan. Disini Rio memang sangat membutuhkan uang untuk keluarganya, sedangkan Hanna ini untuk popularitasnya. Sebenarnya mereka memiliki keinginan terus melanjutkan kontrak ini dengan alasan masing-masing. Sesaat Hanna mengangguk pada Rio tanda menyetujui settingan antara mereka berdua. Sebab sangat susah jika mereka menjelaskan apa yang sebenarnya ke media tentang hubungan mereka.
"Baguslah kalau begitu, saya akan memberikan uang untuk kalian pakai buat jalan, makan, atau apapun, dan saya akan memberikan kalian mobil agar kalian bisa jalan-jalan tanpa harus bergantung pada Mirhan," ucap pak Meriady kemudian.
***
Setelah bertemu dengan pak Meriady mereka berkumpul di cafe game station di ruangan khusus. Itu agar mereka bisa membicarakan ini semua, dan langkah apa yang akan mereka ambil setelah ini. Mereka memesan cola untuk diminum dan beberapa makanan.
"Lo berdua yakin dengan keputusan yang lo ambil ini?" tanya Mirhan kembali mempertanyakan kepada Rio dan Hanna.
"Gue gak punya pilihan lain Mir..." jawab Hanna tapi terlihat kurang yakin juga.
__ADS_1
"Begitu mudah menjelaskan bagaimana kami bisa pacaran, ketimbang menjelaskan bagaimana gosip itu bisa muncul," Rio menyambung ucapan Hanna. "Terlebih lagi bagi perusahaan bokap lo akan mengganggu promosi game Shooter of War kalau kami sampai membatalkan kontrak itu," tambahnya lagi.
"Terima kasih bro...lo udah peduli dengan perusahaan milik bokap gue," ungkap Mirhan dengan tulus.
"Jadi mobil yang diberi bokapnya Mirhan pengen kita taruh dimana?" tanya Rio pada Hanna.
"Di rumah lo aja, jadi besok lo bisa jemput dan nganterin gue pulang," jawab Hanna sambil minum cola miliknya.
"Kalau begini apa bedanya pacaran sama menjadi sopir pribadi?" Rio bertanya tapi dengan tujuan bercanda. "Bedanya kalau sopir di gajih sedangkan pacaran gak," tambahnya lagi.
"Emang itu tugasnya cowok, kalau gak pengen jemput dan nganter, jadi cewek aja sana..." Hanna menanggapi ucapan Rio dengan kesal.
"Bisa gak sih...kalian gak perlu berantem?" tanya Mirhan sambil mengecek komentar yang masuk ke akun Instagram Megawave. "Disini banyak sekali yang berkomentar setelah pihak Megawave menjawab tidak tahu menahu mengenai gosip kalian pacaran," ucapnya menjelaskan apa yang dia baca. "Gue punya ide buat mindahin semua barang-barang lo ke Apartemen gue, biar lo bisa dengan leluasa bikin konten dan kita bisa bicara di sana tentang rencana kita selanjutnya," Mirhan memberikan usul.
"Ya gak bisalah Nyet...banyak barang-barang gue yang berharga, terlebih lagi gue males harus campurin barang gue dan barang lo," Rio berusaha menolak.
"Itu apartement gak ada barang-barang gue, yang ada hanya tempat tidur dan meja kerja," ucap Mirhan menjelaskan. "Jadi semua barang-barang lo sudah pasti bisa masuk, ditambah lagi apartemen gue cukup luas buat kita bikin konten," tambahnya Mirhan menjelaskan. "Soalnya tadinya tuh apartemen pengen gue jual, kalau lo pengen nyicil ya silahkan..." ucapnya sambil tersenyum.
"Berapa duit?" tanya Rio sepertinya dia tertarik.
"Gampanglah entar," jawab Mirhan. "Malam ini gue akan minta bawahan gue buat mindahin semua barang-barang lo ke apartemen," ucapnya bersemangat. "Lo pengen bantuin kita gak Han?" tanya Mirhan sambil melirik ke Hanna.
"Gak masalah sih, soalnya gue lagi males pulang kerumah," jawab Hanna sambil memakan kentang goreng yang dia pesan tadi.
"Mending kalian berdua tukeran nomor telepon, agar bisa saling menghubungi," Mirhan memberikan saran buat Rio dan Hanna. "Soalnya belakangan ini gue pasti sibuk banget, dan lagi masa ia kalian pengen jalan doang harus lewat gue segala," ucapnya menjelaskan tugasnya.
"Ini nomor handphone gue," ucap Rio langsung menyerahkannya ke Hanna.
Dengan serius Hanna mencatat nomor handphone Rio. Kemudian dia menghubungi menggunakan Whatsapp, setelah handphone Rio berdering dia langsung mematikannya.
__ADS_1
Setelah itu mereka menikmati minuman yang mereka pesan. Mereka juga sempat bermain game mobile seperti game MMORPG (Game tim yang menyerang tower musuh sampai tower utama) satu tim. Mirhan karena bukan seorang Pro Player sangat kewalahan mengimbangi Rio dan Hanna.
Bersambung...