
Now Loading...
Cowok itu tersenyum sinis pada Rio yang menatapnya dengan datar. Dia memakai kaos bertuliskan Thunderstorm berwarna hitam. Tinggi badannya sama persis seperti badan Rio. Umur mereka berdua bisa dibilang seumuran. Cowok itu memiliki rambut yang dicat dengan warna pirang.
"Lama gak ketemu SuperSonic," sapa cowok itu dengan sinis. "Atau gue panggil saja Rio si Pecundang…" ejeknya sambil tertawa sinis.
"Gue gak ada waktu buat lo Mike," ucap Rio mencoba melewati Mikel.
"Ternyata lo gak pernah berubah, selalu penakut seperti dulu…" tangan Mikel menghadang Ryu. Dia kembali mencoba memancing emosi Rio.
"Gue males membicarakan masa lalu," Rio lalu menepis tangan Mikel.
"Tapi gue masih dendam dengan yang lo lakukan saat itu," ucap Mikel sambil menonjok wajah Rio dengan keras. Membuat sedikit terjatuh dan darah segar keluar dari mulut Rio.
"Rio!..." teriak Hanna yang menyaksikan Rio terkulai di lantai.
"Kenapa ini?" tanya Mirhan yang melihat Rio tersungkur.
Rio mencoba berdiri lagi, tapi sulit buatnya untuk bangun. Dia sangat merasa kesakitan karena pukulan yang tepat mengenai wajahnya. Sementara Mikel hanya menatap lawannya tanpa ekspresi.
"Ini baru awal Rio, kita kan bertemu lagi di turnament Dotha 2 nanti, gue harap lo akan tampil dengan tim esport lo," ucap Mikel lalu pergi meninggalkan Rio yang tersungkur.
"Sorry Yo…gue gak tau kalau Mike nyamperin lo di belakang panggung," Mirhan Lalu mencoba menggotong Rio.
"Santai bro…" ucap Rio berdiri dibantu Hanna dan Mirhan. "Sekarang gue sudah gak apa-apa…" Rio kemudian masuk ke ruang Megawave yang sudah disiapkan untuknya.
Hanna mengambilkan obat P3K untuk mengobati luka lebam Rio karena pukulan dari Mikel. Sedangkan Mirhan duduk di sebelah Rio dengan sangat kesal. Sedangkan Rio hanya terdiam dan tidak banyak bicara seperti sebelumnya.
"Lo harus melaporkan ini ke polisi," Mirhan memberikan usul pada Rio yang sedang diobati Hanna.
"Kalau gue ngelakuin itu, maka masalah gue dan Mike akan bertambah parah," Rio menanggapi usul dari Mirhan.
"Terus lo mau diam aja gitu?" tanya Mirhan dengan kesal. "Kali ini sudah keterlaluan Yo…" terlihat sekali Mirhan sangat peduli pada Rio.
__ADS_1
"Gue mungkin gak begitu tau apa malah lo yang sebenarnya dengan Mike, tapi gue setuju dengan usul Mirhan, kalau lo terus ngediemin ini, suatu saat Mike akan melakukan yang lebih parah lagi dari ini," ucap Hanna mendukung ucapan Mirhan.
"Gue tau betul siapa Mike, dia melakukan ini hanya karena dia sangat kesal dengan apa yang sudah gue perbuat pada tim kami," jawab Rio sambil kadang mengaduh kesakitan saat diobati Hanna.
"Gue tau hubungan lo dan Mike sebelumnya sangat baik, tapi itu gak bisa menjadi alasan untuk biarin tuh anak seenaknya menghajar lo kayak tadi," ucap Mirhan kelihatan sangat marah.
"Ia...gue tau…" ucap Rio dengan keras menanggapi perkataan Mirhan. "Tapi kali ini akan lebih baik kalau gue memilih diam," ungkap Rio kemudian. "Mir, lo mau gak bantuin gue?" tanya Rio kemudian setelah dia selesai diobati Hanna.
"Minta bantuan apa?" tanya Mirhan kemudian.
"Lo mau gak ikut dalam tim esport gue untuk main di turnamen Dotha 2," Rio menjawab sambil tersenyum.
"Jelas gue mau," ucap Mirhan bersemangat.
"Lo ikut gak?" tanya Rio pada Hanna.
"Tentu aja gue mau," jawab Hanna sambil tersenyum, walaupun dia sama sekali belum pernah bermain game Dotha 2, apalagi mengikuti turnamen Dotha 2.
"Kalau gitu gue akan coba menghubungi Heri, Arif, dan Helena," Mirhan lalu mengambil handphonenya. Dia coba menghubungi satu-persatu teman-temannya.
"Heri : Sorry Mir, sekarang gue sedang sibuk, entar gue telepon lagi.
"Mirhan : Oke...gak masalah…" itulah isi chat antara Mirhan dan Heri.
Selanjutnya Arif juga mengirimkan pesan pada Mirhan.
"Arif : Ada apa Mir?...
Mirhan : Gue ada urusan penting yang pengen gue bicarain.
Arif : Entar lo telepon aja, sekarang gue lagi sibuk nganterin paket.
Mirhan : Ya udah. " itulah isi chat Mirhan dan Arif.
__ADS_1
"Mereka semua sedang sibuk," ucap Mirhan ke Rio. "Sedangkan Helena susah bener dihubungi," tambahnya lagi masih mencoba ngechat Helena.
"Kalau Helena yang gue tau sekarang dia sudah menjadi pengisi suara Anime dan menjadi Vtuber (Virtual Utuber), tapi gue lupa nama karakternya apa…" ungkap Rio menjelaskan.
"Kalian mengenal mereka semua?" tanya Hanna cukup terkejut.
"Ia...mereka adalah teman satu asrama kami waktu SMA," Mirhan menjawab pertanyaan Helena lalu memasukkan handphonenya ke kantong celananya.
"Gue ingat waktu era tahun 2013, muncul tim esport yang terhebat di indonesia, berhasil menembus turnamen luar negeri, tim esport itu bernama Shark Station, tapi tim itu sudah lama gak pernah ikut turnamen Dotha lagi," ungkap Hanna bercerita.
"Itu adalah tim kami," jawab Mirhan dengan bangga.
"Terus kenapa kalian gak ikut turnamen lagi?" tanya Hanna sangat penasaran.
"Sebab seperti yang lo lihat, kami sekarang sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan kami, diantara kami yang masih bertahan dan fokus di game hanya Rio dan gue," jawab Mirhan menjelaskan. "Gue jadi kangen masa-masa itu," ucap Mirhan sambil bersandar ke bantalan kursi.
Dia kembali mengingat masa indah saat mereka bertanding di turnamen dunia. Saat itu mereka menjadi tim yang terbaik di indonesia. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka, bahkan mereka dijuluki para Dewa Gamer oleh fans dan lawan mereka.
"Sekarang pasti sulit buat kita kembali menikmati kejayaan itu," ungkap Rio sambil tersenyum.
"Kita pasti bisa," Hanna menanggapi ucapan Rio dengan bersemangat. "Tapi tolong ajari gue bagaimana bermain game Dotha 2," pintanya kemudian pada Rio dan Mirhan.
"Santai Na...mainnya hampir mirip seperti game Moba di handphone," jawab Mirhan bersemangat.
"Sebelumnya kita bicara sama Arif dan Heri dulu," ucap Rio sambil berpikir.
"Mereka berdua pasti bakalan nolak kalau kita ajak," Mirhan berpendapat.
"Mir...bukannya perusahaan tempat Arif bekerja milik bokap lo juga ya?" tanya Rio kemudian.
"Oh iya...kenapa gak gue kontek aja ya?" ucap Mirhan bersemangat. "Kebetulah si Hari juga ada kontrak sama perusahaan bokap gue, sekalian aja gue bicarain," Mirhan mulai menyusun rencana agar Heri dan Arif tidak bisa menolak mereka.
Rio kemudian menyalakan rokoknya untuk menghilangkan rasa sakit karena tonjokan Mikel. Dia tidak pernah menyangka Mikel akan sejauh itu, sebab dulu waktu mereka satu tim di tim Thunderstorm, Mikel tidak pernah berbuat kasar. Rio merasa Mikel sudah berubah dari Mikel yang dia kenal.
__ADS_1
Bersambung…