Game Lover

Game Lover
Bab. 15 Tim Shark Station Dibentuk lagi


__ADS_3

Now Loading...


Rio, Hanna,dan Mirhan langsung pergi ke cafe Game Station setelah dari acara Game Party. Mereka ingin berbicara dengan kawan lama yang udah gak pernah bertemu lagi. Mereka menunggu sambil main game Moba di Handphone.


Mereka bermain bukan untuk menaikan rank, mereka bermain hanya untuk mengisi waktu luang. Disini Rio memakai Hero yang bertipe Tank yang biasanya tugasnya melindungi hero temannya saat menyerang base musuh. Sedangkan Mirhan memakai Hero Fighter untuk menerobos ke depan. Hanna memakai Hero Shooter untuk menyerang musuh dari jarak jauh. 


Mereka bermain dengan dua orang Player yang mereka dapat secara random. Mereka bertiga berpencar untuk menaikan level skill. Rio bermain di tengah menghajar Goblin musuh yang tidak terlalu kuat dilindungi oleh Goblinnya juga. Rio sangat sabar menunggu temannya di samping kiri kanan menghajar Monster untuk menaikan level. Sedangkan dia tetap fokus menghajar Gobling yang bisa menaikan level juga. 


Setelah level mereka sudah bisa menghajar tower musuh, mereka pun langsung bergerak berbarengan dengan Goblin mereka untuk melindungi dari serangan tower musuh. Tidak lama kemudian datanglah Hero musuh yang maju menghadapi Rio. Sementara itu Mirhan dan Hanna bersembunyi saat musuh terpancing oleh Rio. 


"Hajar!..." seru Rio dengan bersemangat. 


Hero Mirhan dan Hanna langsung muncul menghantam musuhnya. Dengan mudah mereka membunuh hero musuhnya. Setelah hero musuh mati mereka langsung bergegas menghajar tower. Rio tetap bertugas untuk melindungi Mirhan dan Helena yang berada di belakang hero Rio. 


Dengan mudah mereka menghancurkan tower musuh. Saat Rio melihat hero musuh datang membawa dua hero lainnya, dia langsung memberi aba-aba pada temannya untuk mundur, "Mundur bro…"


"Rame-rame…" ucap Mirhan sambil tertawa. 


"Kita isi darah dan Manna dulu…" usul Hanna juga bersemangat. 


Semuanya mundur berbarengan ke base mereka. Setelah darah dan manna mereka terisi penuh, mereka kembali maju. "Kali ini mereka pasti bakalan gak kepancing lagi…" ucap Rio menjelaskan. 


"Bisa jadi mereka menjaga lebih fokus di tengah," ucap Mirhan memprediksi. 


"Kalau gitu kita pinta yang diatas dan dibawah nyerang aja…" ucap Hanna memberi ide. 


Rio langsung ngechat teman setimnya yang diatas dan dibawah menyerang. Benar saja musuh terlalu fokus dengan base mereka yang di tengah sehingga tidak sadar yang diatas dan dibawah sedang di serang. Hingga sampai base mereka roboh, mereka baru menyusul base mereka yang diserang. Saat suasana sudah kacau, Rio, Hanna, dan Mirhan menyerang di tengah. Level skill mereka saat ini lebih besar dibanding dengan level musuh mereka. 


Akhirnya mereka berhasil merobohkan tower musuh satu-persatu. Kini hanya tinggal tower utama yang masih tersisa. Saat mereka sedang asyik main game untuk menyerang tower, datanglah dua orang yang sudah mereka tunggu yaitu Heri dan Arif. 

__ADS_1


"Tunggu bentar ya bro…" ucap Rio saat melihat temannya yang sudah datang. 


"Sebentar lagi kami kelar, tinggal menghajar tower base aja lagi," Mirhan ikut menambahkan. 


"Santai…" jawab Arif sambil memesan minum pada pelayan. 


"Lo pada gak pernah berubah ya? Kalau ada  waktu kosong selalu dipakai buat main game," ucap Heri sedikit menyindir. 


Rio dan Mirhan hanya tersenyum menerima sindiran dari Heri. Mereka sudah lama tidak mendengar sindiran Heri yang pedas pada orang lain. Sementara Hanna yang baru pertama kali mendengarnya cukup merasa tersindir. 


Setelah sedikit usaha mereka akhirnya bisa memenangkan permainan dengan cepat. Kemudian mereka bertiga menutup game yang mereka mainkan. Setelah bermain Rio langsung minum es cappucino yang dia yang dia pesan. 


"Jadi kenapa lo menghubungi kami?" tanya Heri langsung to the point.


"Gue pengen menghidupkan kembali tim esport Shark Station," jawab Rio dengan mantap. 


Mendengar itu Heri dan Arif langsung tertawa. "Gue udah sering dengar ide bodoh lo, tapi yang ini ide terbodoh yang pernah gue dengar dari lo," ucap Heri menanggapi jawaban Rio. 


"Terus lo meminta kita untuk ikut?" tanya Arif dengan agak meremehkan. Rio mengangguk dengan mantap untuk menjawab pertanyaan temannya itu. "Gue saat ini sedang sibuk dengan keluarga gue ditambah lagi gue sedang bekerja, gue gak bisa ninggalin pekerjaan gue," tambah Arif yang memang umurnya lebih tua dibanding teman-temannya.


"Begitu juga gue," Heri juga terlihat tidak tertarik. "Saat ini gue punya kontrak dengan sebuah perusahaan hardware," tambahnya lagi. 


"Lo pikir gue juga gak punya pekerjaan?" tanya Mirhan dengan kesal. "Her...perusahaan yang ngontrak lo Imosoft kan?" tanya Mirhan serius. 


"Dari mana lo tau?" tanya Heri merasa sangat heran. Dia tidak pernah cerita pada temannya bahwa dia dikontrak perusahaan itu. 


"Coba lo cek itu perusahaan milik siapa," jawab Mirhan dengan bangga. 


"Kepala perusahaan itu adalah pak Meriady," Heri terkejut itu adalah salah satu perusahaan milik ayahnya Mirhan.

__ADS_1


"Dan Arif...gue udah mengirimkan email ke perusahaan lo untuk mengizinkan lo masuk ke tim esport gue, mereka membalas dengan cepat dan mengizinkan lo buat ikut," ungkap Mirhan dangan mantap. "Perusahaan tempat lo bekerja juga milik bokap gue," tambah Mirhan menjelaskan. 


"Anak Sultan ternyata masih memiliki power sebesar ini," ucap Heri setelah menyadari apa yang bisa dilakukan Mirhan jika dia mau. 


"Hebat…" ucap Hanna yang dari tadi diam mendengarkan pembicaraan mereka. 


"Kalau masalah lo dan istri lo Rif…" ucap Rio pada Arif. "Gue bakalan datang nemuin istri lo untuk menjelaskan semuanya," ungkap Rio dengan mantap. 


"Lo berdua memang pintar," tanpa sadar Heri memuji kemampuan kedua temannya. "Lo mengeluarkan senjata lo di waktu yang sangat tepat," tambahnya merasa kalah dengan telak di perdebatan ini. 


"Terus untuk tim ini hanya ada kita berempat?" tanya Arif kemudian. 


"Dia Hanna, nicknamenya Atena21, dia akan masuk di tim kita," ucap Rio menjelaskan. 


"Hai Hanna," ucap Arif mengedipkan mata. Dari SMA sampai sekarang sifat Arif ini tidak pernah berubah. Selalu ganjen kalau bertemu dengan cewek-cewek yang baru dia kenal. 


"Lo bukannya Pro-Player game Shooter FPS kan?" tanya Heri yang sudah mengenal Hanna. 


"Benar sekali," jawab Hanna sambil tersenyum. Sebenarnya dia tidak suka dengan sifat Heri yang sinis pada orang lain. 


"Apakah lo bisa bermain game MMORPG?" tanya Heri dengan sangsi. 


"Meski gue sekarang masih belum jago, tapi gue akan berusaha sebisa mungkin," jawab Hanna dengan penuh emosi karena merasa direndahkan Heri. 


"Dia memiliki insting yang sangat kuat dalam bermain game, karena dia sama seperti kita, mencintai game lebih dari apapun," ucap Rio menjelaskan. 


"Baguslah kalau begitu, tapi gue harap dia gak merepotkan tim ini," ucap Heri kemudian minum es jeruk yang dia pesan. 


Hanna menatap Heri dengan tatapan tidak senang. Heri memang memiliki sifat seperti itu kalau mengungkapkan apa yang dia pikirkan, meski terdengar menyakitkan, tapi semua yang dia katakan adalah kebenaran. Hanna hanya belum terbiasa dengan ucapan Heri. 

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2